Larangan Menyalahkan Takdir Allah

Dalam hidup, hampir setiap orang mengalami hal-hal yang tidak disukainya atau yang dikenal juga dengan musibah. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang berhubungan dengan diri pribadi, dengan keluarga, dan harta benda.

Dalam anjuran agama, kita hendaknya menyikapi musibah itu dengan sabar dan ikhlas. Akan tetapi tidak sedikit dari kita yang menyikapi musibah itu dengan amarah dan kemarahan. Apakah sikap semacam ini termasuk bentuk protes terhadap takdir Allah subhanahu wa ta’ala?

Sebuah musibah pastilah banyak mengandung hikmah dan pelajaran. Oleh sebab itu, perasaan marah yang timbul ketika ditimpa musibah tidaklah dibenarkan dalam syariat agama. Jika kemarahan semacam ini menguasai dirinya dan ia larut dalam kemarahannya maka ia telah melakukan perbuatan yang terlarang dan haram bahkan bisa menyebabkan kepada kekafiran.

Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya:
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al Hajj: 11)
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang beragama hanya mau enaknya saja. Ketika ditimpa kesusahan dalam agama, mereka marah dan kembali murtad. Allah subhanahu wa ta’ala juga mengecam orang-orang Arab dahulu yang suka menyalah-nyalahkan waktu. Kebiasaan orang Arab ketika itu jika mereka ditimpa musibah, mereka akan mengkambing hitamkan waktu padahal Allah-lah yang menggulirkan waktu dan mempergilirkan siang dan malam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsi:
”Allah azza wa jalla berfirman: “Aku disakiti oleh anak Adam, ia mencela waktu padahal aku adalah waktu, akulah yang membolak-balikkan malam dan siang”.” (HR. Muslim)
Inilah yang dilarang Allah subhanahu wa ta’ala, mengekspresikan kemarahan dengan mengumpat dan mencela, mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyalahkan Allah, menganggap Allah telah berlaku tidak adil kepadanya. Hal ini tentu sama saja dengan bentuk protes terhadap takdir dan ketentuan Allah Azza wa jalla, misalnya seperti ucapan orang-orang munafik saat tertimpa musibah yang dicatat Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada Saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 156)
Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabda-Nya:
“Seorang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dan masing-masing keadaan tersebut terdapat kebaikan. Oleh karena itu maka bersungguh-sungguhlah kamu dalam perkara yang bermanfaat untukmu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dalam meraihnya dan jangan kamu lemah dan apabila ada sesuatu yang menimpa dirimu maka janganlah engkau mengatakan “Seandainya aku melakukan demikian maka keadaannya akan demikian dan demikian.” Akan tetapi katakanlah “Qadarullah ini adalah dari ketetapan Allah, apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan” karena ucapan “Seandainya” itu membuka amalan setan.” (HR. Muslim)
Hadits ini menjelaskan larangan ungkapan “Seandainya” jika dimaksudkan sebagai bentuk protes terhadap takdir.

Adapun ekspresi kemarahan dengan tindakan, orang Arab dahulu jika ditimpa musibah kematian sanak saudaranya, mereka akan menampar-nampar pipinya, memukul-mukul kepalanya, hingga merobek-robek bajunya. Perbuatan seperti ini pun kemudian dikecam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi, merobek saku, dan melakukan amalan jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perbuatan semacam inilah yang disebut dengan niyahah atau ratapan. Sebuah tindakan yang termasuk dosa besar dan pelakunya diancam dengan siksa yang berat. Karena hal itu termasuk tindakan menyalahkan takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

Abu Malik Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk dalam perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) Membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) Mencela keturunan, (3) Mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) Meratapi mayit/niyahah.” Lalu beliau bersabda “Orang yang melakukan niyahah, bila mati sebelum ia bertaubat maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal.” (HR. Muslim)
Lalu bagaimana jika kemarahan dan sikap tidak rela dengan musibah yang menimpanya itu tidak sampai terucap tapi hanya ada dalam hatinya saja? Apakah juga berdosa besar seperti ucapan?

Larangan menyalahkan takdir Allah subhanahu wa ta’ala ini tidak hanya terbatas pada ucapan bahkan mencakup kemarahan yang membara dalam hati manusia meski tak terucap melalui lisannya. Bahkan bisa jadi kemarahan dalam hati, dosanya lebih besar dari kemarahan lisan dan anggota badan lainnya.

Sebetulnya orang yang marah akan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah mendapatkan keuntungan apapun. Musibah yang seharusnya bisa menjadikan berpahala justru berbalik menjadi dosa. Hal itu sama sekali tidak merubah atau meringankan musibah yang dideritanya bahkan ia mengalami dua kali kerugian, sudah ditimpa musibah kemudian ditambah dengan dosa. Lalu bagaimana seharusnya?

Saat seseorang tertimpa musibah hendaknya disikapi dengan sabar, menahan diri, tidak menggerutu, tidak mengeluh, baik dengan lisan, perbuatan, maupun di dalam hati. Lebih dari itu, seorang yang tertimpa musibah hendaknya ridha atau ikhlas, merasa lapang hatinya dengan musibah yang menimpa. Dia betul-betul ridha seakan tidak terjadi apa-apa.

Itu sebabnya para ulama menegaskan bersikap sabar ketika ditimpa musibah hukumnya wajib. Sedangkan ridha dan ikhlas merupakan sikap mustahab atau dianjurkan. Selain itu, apapun musibah yang menimpa seseorang hendaknya bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas musibah yang menimpa. Inilah sikap yang tertinggi dalam menyikapi musibah. Sikap seperti inilah yang banyak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ummul Mu’minin A’isyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapatkan sesuatu yang dia sukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan “Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmushshalihaat yang artinya: Segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.” Dan ketika beliau mendapatkan sesuatu yang dia tidak sukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan “Alhamdulillah 'ala kulli hal, Segala puji hanya milik Allah apapun kondisinya.” (HR. Ibnu Majah)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengawali dengan ungkapan Alhamdulillah terhadap apapun yang menimpa beliau, disukai atau tidak.

Mensyukuri musibah memang terasa janggal tapi itulah puncak tertinggi dari sikap terhadap musibah. Orang-orang seperti ini sangat yakin dengan kebaikan yang Allah simpan dibalik musibah yang menimpanya. Oleh sebab itu, lisannya selalu mengucapkan “Alhamdulillah”. Selain itu, ia juga menganggap setiap musibah yang menimpanya disitulah kesempatan baginya untuk menambah pundi-pundi amal shalih karena musibah dapat menggugurkan dosa dan mengangkat derajat seseorang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah rasa capek, rasa sakit yang terus menerus, kekhawatiran, rasa sedih, bahaya, kesusahan menimpa seorang muslim sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan musibah tersebut.” (HR. Bukhari)
Bahkan sebuah musibah bisa jadi ungkapan cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya,
“Sesungguhnya pahala terbesar adalah dari ujian terberat, jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha maka Allah pun ridha dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi)