Larangan Mencela Hujan Turun

Sebagian orang merasa dirugikan dengan cuaca ekstrim, terutama mereka yang aktivitasnya dilakukan pada cuaca cerah. Memang benar, tidak semua yang terjadi di sekitar kita sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang kita berharap hari cerah namun Allah turunkan hujan. Kita berharap tidak ada banjir dan longsor, namun yang terjadi justru sebaliknya. Namun yang perlu diperhatikan apakah kehendak Allah harus bergantung kepada kita?

Hati bisa saja sedih dengan kondisi tidak nyaman yang kita alami karena hujan, namun jangan sampai kesedihan ini menyebabkan kita menjadi marah dengan takdir Allah. Jangan sampai lisan kita mengeluarkan kata celaan terhadap hujan yang Allah turunkan. Lalu celaan seperti apa yang dilarang Allah subhanahu wa ta’ala? Apakah ucapan yang meluncur begitu saja dari lisan kita itu berdampak pada pelanggaran Allah subhanahu wa ta’ala?

Terkadang kita tidak sadar, ucapan kita bisa menjadi sebab diri kita tergelincir ke dalam neraka. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang mengundang ridha Allah yang tidak sempat dia pikirkan, namun Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Sebaliknya ada hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dia pikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam Jahannam.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan yang lainnya)
Itu sebabnya ucapan-ucapan yang bernada penyesalan bahkan terkadang bernada celaan terhadap hujan karena mengganggu aktivitasnya tanpa kita sadari kita telah terjerumus pada celaan, protes kepada Allah yang menetapkan takdir. Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala melarang kita mencela keadaan yang Dia ciptakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah ta’ala berfirman:
“Manusia menyakiti aku, dia mencaci maki masa (waktu) padahal Akulah Pemilik Masa, Akulah yang mengatur malam dan siang.” (HR. Bukhari, Muslim, dan yang lainnya)
Meski dalam hadits ini Allah melarang mencaci masa atau waktu, sebenarnya kasus mencela hujan tidak berbeda dengan mencela waktu. Itu sebabnya para ulama memberikan rincian hukum untuk kasus mencela waktu, hujan, atau semacamnya.

  1. Sebatas memberitakan, misalnya seseorang mengatakan “Sepatu saya rusak karena kehujanan!” atau “Motor saya mogok karena kehujanan!”.
  2. Mencela hujan dengan maksud mencela ketetapan dan takdir Allah, misalnya seseorang mengatakan “Ini hujan ngapain turun? Bikin tambah macet aja!” atau ucapan “Menyebalkan! Hujan terus.” Atau ucapan misalnya “Pagi-pagi sudah hujan.” Celaan semacam ini termasuk perbuatan dosa karena hakikatnya dia mencela Allah subhanahu wa ta’ala.