Larangan Memakai Perhiasan Emas Bagi Laki-Laki

Gelang, kalung dan anting selama ini identik sebagai perhiasan yang digunakan oleh Kaum Hawa. Namun sekarang perhiasan itu tidak hanya menjadi monopoli wanita, banyak laki-laki yang juga memakainya. Desain dan bahannya pun disesuaikan dibuat khusus untuk laki-laki. Lalu apakah hal itu dibenarkan dalam syariat agama?

Sebagian besar ulama menyatakan haram hukumnya para pria memakai gelang, kalung, anting, dan perhiasan lainnya yang identik dengan wanita. Perhiasan tersebut dianggap sebagai tindakan menyerupai wanita yang memang disepakati oleh para ulama keharamannya, bahkan pelakunya akan menuai laknat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diungkap oleh beliau dalam sabdanya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)
Ketetapan hukum oleh para ulama ini tidak melihat kepada desain atau bahannya apakah itu dari karet, alumunium, perak, apalagi emas. Jika terbuat dari emas maka terakumulasi didalamnya dua larangan:
  1. Larangan menyerupai wanita
  2. Larangan memakai emas untuk pria.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pria memakai cincin emas.” (HR. Bukhari)
Cincin yang biasanya dibolehkan untuk pria didalam hadits tersebut dilarang jika terbuat dari emas. Larangan ini kemudian ditegaskan lagi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
“Emas dan sutra dihalalkan bagi kaum wanita dari kalangan umat kami dan diharamkan bagi kaum laki-lakinya.” (HR. Nasa'i dan Ahmad)
Imam Ibnu Hajar Al Haitami juga menjelaskan larangan ini didalam kitab beliau Al Fatawa Al Kubra beliau mengatakan bahwa diharamkan menyerupai kaum wanita dengan memakai perhiasan yang menjadi ciri khas mereka seperti memakai gelang, gelang kaki, dan yang lainnya.

Akan tetapi, tidak semua ulama menyepakati larangan tersebut, Imam Ghazali dan Imam Mutawalli dari madzhab Syafi'i berpendapat bahwa menggunakan gelang yang terbuat dari perak dibolehkan bagi laki-laki karena larangan menggunakan perak yang disebut dalam berbagai hadits hanya terkait dengan bejana dan peralatan yang seperti itu.

Tampaknya disini, Imam Ghazali dan Mutawalli hanya membatasi larangan pada apa yang disebut secara langsung didalam hadits. Kebolehan memakai perhiasan perak tidak terbatas pada cincin saja, para ulama juga mengatakan boleh memakainya untuk menghiasi mushaf dan pedang.

Jika mengacu pada pendapat Imam Ghazali tersebut maka memang tidak dapat dikatakan memakai gelang haram sepenuhnya karena gelang yang bisa digunakan pria saat ini secara desain, bahan, dan bentuk, berbeda sama sekali dengan yang digunakan oleh wanita sehingga alasan pengharaman yang dikemukakan oleh para ulama yaitu menyerupai wanita, tidak ditemukan disini apalagi standar menyerupai wanita atau tidak, jika tidak ditemukan dalil langsung dalam teks Al Qur’an atau hadits standarnya dikembalikan kepada tradisi dan kebiasaan masyarakat.

Apalagi gelang saat ini tidak hanya dipakai sebagai perhiasan, ada gelang untuk identitas seperti yang biasa digunakan oleh jama’ah haji atau pasien di rumah sakit dan ada juga gelang yang digunakan untuk pengobatan karena terbuat dari bahan-bahan tertentu yang diyakini dapat memperlancar peredaran darah penggunanya.

Akan tetapi, jika gelang tersebut digunakan sebagai jimat yang diyakini dapat mendatangkan keberuntungan atau menolak bala maka haram hukum memakainya dari apapun bahannya. Dalam sebuah hadits diceritakan,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat di lengan seorang pria, gelang yang dinampakkan padanya. Pria tersebut berkata bahwa gelang itu terbuat dari kuningan. Lalu beliau berkata ”Untuk apa engkau memakainya?” Pria tadi menjawab “Ini dipasang untuk mencegah dari wahinah penyakit yang ada di lengan atas.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda “Gelang tadi malah membuatmu semakin lemah, buanglah! Seandainya engkau mati dalam keadaan masih mengenakan gelang tersebut, engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ibnu Ahmad dan Ibnu Majah)
Selain itu, terdapat hadits lainnya yang menunjukkan larangan menggantungkan nasib pada benda-benda tertentu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang menggantungkan hati pada tamimah (jimat) maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan hati pada kerang maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan.” (HR. Ahmad)
Adapun anting bagi pria maka haram hukumnya, sejauh ini tidak ditemukan satu pun pendapat ulama yang membolehkannya apalagi secara tradisi dan kebiasaan hingga saat ini, memakai anting adalah perhiasan yang identik dengan wanita sehingga pemakainya dapat dikatakan menyerupai diri dengan wanita yang telah dilarang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, perhiasan untuk laki-laki juga tidak boleh berlebihan sehingga jatuh dalam perbuatan mubadzir. Apalagi jika perhiasan tersebut menjadikan pemakainya terjerumus kedalam sifat sombong. Dan satu hal yang menjadi catatan larangan bagi laki-laki memakai perhiasan itu adalah tidak menyerupai simbol-simbol khusus agama lain.

Jika seorang pria dilarang memakai perhiasan dari emas, lalu bagaimana dengan bayi laki-laki yang biasanya para orang tua atau kerabatnya suka memberi bayi-bayi perhiasan yang kadang terbuat dari emas?

Larangan memakai emas bagi laki-laki berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku umum termasuk bagi bayi. Akan tetapi menurut ulama madzhab Syafi'i, larangan tersebut tidak berlaku bagi bayi. Artinya, para orang tua boleh saja memakaikan bayi laki-lakinya cincin ataupun perhiasan emas lainnya. Alasannya karena bayi tidak termasuk mukallaf yang terkena perintah dan larangan syariat sehingga larangan memakai emas dan sutra untuk laki-laki tidak berlaku bagi bayi. Wallahu a’lam bishshawab.