Kisah dan Hikmah Dibalik Suatu Musibah

Beragam musibah seperti badai, angin puting beliung, hujan deras yang menimbulkan banjir, longsor, dan banyak rumah rusak, erupsi gunung berapi, dan sebagainya dibalik musibah terdapat hikmah. Musibah menjadi salah satu cara Allah subhanahu wa ta’ala menguji hamba-Nya agar senantiasa berserah diri kepada-Nya.

Dalam sejarah islam, tercatat kisah tokoh-tokoh muslim yang tertimpa musibah sangat berat namun tetap memegang teguh iman dan Islam, mereka adalah Ummu Salamah dan Urwah bin Zubair.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabuut: 2-3)
Ayat tersebut seharusnya menjadi pengingat bagi kita bahwa seorang mukmin tidaklah cukup berkata “Iya sudah beriman” kepada Allah ta’ala. Tetapi keimanan juga harus kita buktikan dalam sikap maupun tindakan terutama ketika menghadapi musibah.

Seperti musibah yang dialami Ummu Salamah harus kehilangan sang suami Abu Salamah orang yang sangat ia cintai. Nama aslinya adalah Hindun binti Abu Umayyah Al Makhzumiyah seorang perempuan yang cantik jelita, cerdas, dan jujur. Beliau menikah dengan Abdullah bin Asad atau Abu Salamah salah satu Assabiqunal Awwalun yaitu golongan pertama yang masuk Islam, seorang yang zuhud dan berpegang teguh pada aqidah Islam.

Dalam menjalani bahtera rumah tangga bersama Abu Salamah, mereka menghadapi banyak cobaan seperti perlakuan yang tidak baik dari Kaum Kafir Quraisy lalu akhirnya mereka hijrah meninggalkan Makkah menuju Madinah. Di kota Madinah-lah, Ummu Salamah mengandung dan melahirkan anak-anaknya. Anak lelaki pertamanya bernama Salamah maka Hindun binti Umayyah disebut Ummu Salamah dan Abdullah bin Asad sebagai Abu Salamah.

Saat mereka sudah hidup bersama lagi di Madinah, seruan Perang Badar dan Perang Uhud menggema. Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu pun masuk ke dalam barisan para sahabat yang terjun di kedua pertempuran tersebut hingga sesuatu terjadi pada Abu Salamah, tubuhnya terluka parah setelah berjuang di Perang Uhud.

Ummu Salamah selalu setia merawat sang suami. Saat sakaratul maut, Ummu Salamah bertanya,
“Kepada siapa kau serahkan diriku?” Abu Salamah menjawab dengan doa “Ya Allah, sesungguhnya engkau bagi Ummu Salamah lebih baik dari Abu Salamah.” (HR. Abu Ya’la dishahihkan oleh Al Albani dalam silsilah Shahihah)
Saat suaminya meninggal, Ummu Salamah berulang kali mengatakan,
“Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un. Allahumma' jurni fi musibati wa akhluf li khairan minha. Ya Allah, berilah aku pahala dari musibah ini dan gantikanlah bagiku dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya.”
Ini seperti yang diajarkan ketika masih hidup. Abu Salamah juga berpesan,
“Kalau kelak aku tiada, maka menikahlah!” Abu Salamah berdoa “Ya Allah, berikanlah kepada Ummu Salamah seorang yang lebih baik dariku yang tak akan membuatnya berduka dan tak akan menyakitinya.”
Seiring berjalannya waktu melewati masa iddah sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salamah menerima pinangan-pinangan dari sahabat nabi diantaranya Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab hingga pada akhirnya Ummu Salamah menerima lamaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperantarai seorang utusannya.

Allah ta’ala benar-benar menggantikannya dengan yang lebih baik, orang yang paling mulia di muka bumi. Itulah hikmah dibalik musibah yang dialami Ummu Salamah.

Musibah berat berupa penyakit dialami oleh salah satu dari Al Fuqaha Al Sab’ah atau tujuh tokoh ulama yang masyhur dalam sejarah kaum muslimin. Ia adalah Urwah bin Zubair nama lengkapnya Abu Abdillah Urwah bin Az Zubair bin Al Awwam lahir pada tahun ke 23 Hijriyah di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Urwah bin Zubair adalah seorang yang ringan tangan juga dermawan, ketaatannya sebagai muslim terbukti dari lidahnya yang tak pernah berhenti dari berdzikir, memanjangkan waktu shalatnya sedapat mungkin, mengkhatamkan Al Qur’an, membacanya pada siang hari dan menghapalnya pada saat shalat malam.

Urwah bin Zubair melakukan perjalanan dari Madinah ke Damaskus. Di tengah perjalanan, salah satu kakinya yaitu betisnya terkena penyakit yang nenyebabkan kakinya membusuk kemudian sampailah dia di pusat kota Damaskus di masa kekhalifahan Al Walid bin Abdul Malik. Sesampainya di istana maka sang khalifah langsung memerintahkan para dokter ternama di kekhilafahan untuk memeriksakan penyakitnya. Hingga akhirnya Urwah harus diamputasi kakinya.

Para dokter menganjurkan Urwah untuk mengkonsumsi khamr, sebagai penawar rasa sakit saat kakinya diamputasi. Hal ini langsung ditolak Urwah bin Zubair, ia berkata,
“Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah.”
Maka Urwah bin Zubair memilih diamputasi ketika shalat. Ini karena saat shalat, beliau tidak merasakan apa-apa selain kekhusyu’an ibadahnya pada Allah ta’ala.

Di dalam hidup kita pasti senantiasa diuji baik dalam kesenangan maupun kesulitan, seringkali pula kita merasa ingin menyerah ketika ditimpa musibah sehingga membuat kita lengah untuk berserah diri pada Allah ta’ala. Berikut hikmah dari datangnya musibah yang datang kepada kita agar menambah ketakwaan kita pada Allah ta’ala.

Obat dari Penyakit Hati

Allah ta’ala menjadikan musibah sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hambanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Tidaklah orang beriman mendapat musibah berupa keletihan, rasa sakit, kegundahan, kesedihan, kemurungan, bahkan duri yang menusuk tubuhnya melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya karena musibah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penyempurna Iman

Allah ta’ala menjadikan musibah sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukkan seorang mukmin kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh mengagumkan keadaan seorang mukmin, jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Pengingat Akan Kehidupan Akhirat

Allah ta’ala menjadikan musibah sebagai sebab menyempurnakan keimanan seseorang terhadap kenikmatan yang telah disediakan Allah di surga kelak. Meraih surga Allah tidaklah mudah dan bukan dengan cara kita bersenang-senang di dunia. Mendekatkan diri pada Allah ta’ala adalah cara agar kita tidak terikat kepada dunia dan menghadapi kehidupan di akhirat nanti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari)

Cinta dari Allah ta’ala

Dibalik musibah ada cinta Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya jika Allah mencintai sekelompok kaum maka Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)

Maka sikap kita saat terkena musibah adalah sabar, berprasangka baik kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tidak berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, dan mengingat kenikmatan yang selalu Allah subhanahu wa ta’ala berikan.