Kewajiban Shalat Orang Yang Dibius [Sakit] Menjalani Operasi

Shalat adalah ibadah yang wajib ditunaikan dalam kehidupan umat muslim. Apapun kondisinya, shalat fardhu haruslah dikerjakan. Namun ada beberapa kondisi dalam hidup kita yang menghalangi kita untuk shalat secara sempurna.

Salah satu fenomena yang sering terjadi di masyarakat adalah ketika orang yang sakit dan butuh dioperasi biasanya harus melewati proses pembiusan hingga tak sadarkan diri selama berjam-jam. Akibatnya ia bisa melewatkan beberapa waktu shalatnya.

Pertanyaannya, bagaimana dengan kewajiban shalat orang yang dibius untuk operasi tersebut? Apakah ia boleh menjama’ shalatnya saat sadar nanti ataukah kewajiban shalatnya gugur?

Berikut penjelasan Ustadz Sarwat: Kalau ada orang sakit dan kemudian dia tidak bisa mengerjakan shalat, ada dua waktu shalat yang harus “ditabrak” maka upayakan agar shalatnya itu jangan sampai ditinggal. Tetapi dalam hal ini memang ada kemungkinan shalatnya itu bisa dijama’.

Hanya yang menjadi masalah, urusan menjama’ shalat dengan alasan sakit ini bukanlah sesuatu yang disepakati kebolehannya oleh Jumhur Ulama. Paling tidak kita menemukan dua pendapat:
  1. Pendapat yang mengatakan boleh, kalau kita telusuri sebenarnya itu dari kalangan madzhab Al Hanabilah. Para ulama di kalangan madzhab Al Hanabilah atau Hanbali mereka mengatakan bahwa sakit itu adalah sebuah masyaqqah, sesuatu yang memberatkan. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa  ta’ala tidak memberatkan hamba-Nya dalam keadaan seperti itu. Dalam Al Qur’an, ada banyak ayat yang menyebutkan tentang Allah itu tidak memberatkan hamba-Nya dan sakit termasuk diantaranya. Dengan demikian, orang yang dalam keadaan sakit maka silakan saja menjama’ shalatnya, misalnya shalat dzuhur dulu kemudian dia shalat ashar, asharnya dijama’ ke dalam shalat dzuhur kemudian nanti setelah itu baru dioperasi, sehingga dia operasinya sampai malam, empat waktu shalat itu dari sesudah shalat dzuhur dioperasi hingga selesainya mungkin dia dibius total baru bangun jam 10 malam misalnya, maka dia jama’ dulu ashar dan dzuhurnya di awal kemudian maghrib dan isyanya di jama’ takhir di akhir. Ini kalau pakai madzhab Hanbali, dimungkinkan/dibolehkan.
  2. Pendapat yang agak sedikit ketat dari madzhab Asy Syafi'i, Imam An Nawawi rahimahullah didalam kitabnya Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali disebutkan sering mengalami sakit berkali-kali hanya saja tidak pernah diriwayatkan secara sharih, secara tegas dan jelas bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit itu beliau menjama’ shalatnya. Jama’ yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu memang ada tetapi konteksnya bukan ketika sakit. Oleh karena itu, madzhab Syafi'i mengatakan bahwa sakit itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menjama’. Artinya tidak ada jama’ kecuali alternatifnya yaitu jama’ shuri, seperti jama’ tapi bukan jama’. Misalnya operasi ini membutuhkan waktu yang panjang, untuk shalat dzuhurnya diakhirkan ketika menjelang ashar tetapi masih waktu dzuhur, begitu selesai nanti dikerjakanlah shalat ashar, operasi yang dilakukan dengan pembiusan mulai dari pagi sampai misalnya jam 3 sore. Maka 5-10 menit lagi kemudian ashar, disitulah dia melakukan shalat dzuhur di akhir waktu dan kemudian setelah itu shalat ashar, jama’nya adalah jama’ suri. Atau kalau memang tidak bisa melakukan jama’ suri berarti memang untuk sementara ia dicabut kewajiban shalatnya tapi dia harus ganti nanti setelah dia bangun dari pingsannya itu maka istilahnya bukan jama’ tetapi mengganti/mengqadha.
Terlepas dari masalah perbedaan ini, intinya bahwa orang sakit itu tidak gugur kewajibannya untuk mengerjakan shalat, bisa dengan melakukan jama’ sebagaimana madzhab Hanbali atau dengan menjama’ suri atau mengqadhanya sebagaimana disebutkan madzhab Syafi'i karena kewajiban shalat tidak gugur bagi orang yang sakit kecuali bagi:
  1. Orang yang sudah meninggal dunia
  2. Masih anak-anak
  3. Wanita haid dan nifas
  4. Orang gila
Kecuali bagi keempat orang itu maka semua orang tetap wajib mengerjakan shalat lima waktu bagaimanapun cara dan ketentuannya dikembalikan sesuai dengan madzhabnya masing-masing.