Ketika Salam Di Akhir Shalat Diikuti Dengan Membuka Kedua Tangan

Banyak sekali ditemukan keunikan-keunikan ketika orang sedang shalat baik dari bacaan maupun dari gerakan-gerakannya. Ada yang dari cara takbiratul ihramnya berbeda dengan kebanyakan, dengan cara duduk diantara dua sujudnya, dan masih banyak lagi. Namun ada lagi ditemukan yaitu saat salam di akhir shalat ketika menghadap ke kanan, tangan yang sebelah kanan ikut membuka dan ketika mengucap salam ke kiri, tangan yang sebelah kiri pun ikut membuka. Lalu apa maksudnya dari gerakan ini?

Berikut penjelasan dari Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA.: Memang ini fenomena yang cukup menarik, bagaimana ketika seorang salam, sunnahnya itu adalah menengok ke kanan salam yang pertama lalu menengok ke kiri salam yang kedua. Tapi memang kadang-kadang ada saja yang kita lihat, selain dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tangannya ikut juga membuka pula.

Kalau kita cari dalam kitab-kitab fiqih ataupun kitab hadits, agak sulit juga untuk mendapatkan riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan hal itu. Atau misalkan dari kalangan sahabat atau tabi’in dan sebagainya maka sebenarnya kalau ada yang melakukannya memang tidak sampai membatalkan shalat tetapi yang menjadi pertanyaan adalah dapat dari mana dalil seperti itu? Apakah memang ini ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah ini hanya sekedar ikut-ikutan belaka.

Mungkin akan ada orang yang mengatakan sudah menemukan haditsnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa ketika beliau sedang mengucapkan salam, beliau menoleh ke kanan dan tangannya membuka ke kanan dan ketika beliau menoleh ke kiri, tangannya juga ikut membuka ke kiri.

Kalaulah memang ada riwayat yang menyebutkan riwayat itu dan riwayatnya dapat dipertanggung jawabkan maka tidak mengapa tetapi seandainya kita tidak tahu dalilnya dan belum mengetahuinya lalu kita tidak melakukannya maka itu tidak mengapa karena kebanyakan para ulama memang tidak menganjurkan hal itu walaupun mungkin bisa saja ada sebagian ulama yang mempunyai dalil tentang hal itu maka kita terbuka saja kalau memang ada dalil yang kuat, bisa dijadikan sebagai dasar. Seandainya tidak pun maka itu tidak mengapa, tidak mengurangi kesempurnaan shalat, tidak juga membuat shalat kita menjadi tidak sah.

Kebanyakannya yang terjadi adalah memang kita melakukan ini hanyalah ikut-ikutan saja, melihat orang melakukannya tetapi tidak juga bisa kita katakan salah atau keliru, haram, dan sebagainya karena kita juga harus bisa menunggu apakah memang ada riwayat yang shahih tentang hal itu dari Rasulullah misalnya atau dari para ulama, tabi’in, dan seterusnya.