Jika Makmum Wanita Sulit Mengikuti Gerakan Shalat Imam Karena Shafnya Berjauhan Dan Pengeras Suaranya Mati

Sudah lumrah di kalangan kaum muslimin bahwa shaf shalat wanita ada di bagian belakang setelah shaf anak-anak, bahkan tak jarang di sebagian masjid shaf shalat wanita dipisah dengan tirai atau bilik khusus agar tidak terjadi Ikhtilat, bercampur antara makmum wanita dan pria.

Masalahnya adalah bagaimana jika ketika shalat berjama’ah di masjid yang besar saat imam menggunakan pengeras suara agar terdengar oleh makmum wanita tiba-tiba mic-nya mati, misalnya karena listrik padam, dan lainnya? Lantas bagaimana shalat jama’ah wanita yang tidak mendengar bacaan imam, bolehkah ia mengintip ke arah jama’ah pria agar mengetahui gerakan shalatnya?

Para ulama sepakat bahwa dalam shalat berjama’ah, makmum wajib mengikuti gerakan imam baik ia melihat langsung imam di depannya maupun ketika ia berada jauh di belakangnya. Adapun perubahan gerakan imam dapat diketahui dari takbir dan tasmi’ yaitu bacaan “Sami’allahu liman hamidah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Imam itu ditunjuk untuk diikuti, apabila ia bertakbir maka ikutlah bertakbir, apabila beliau ruku’ ikutlah ruku’.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Namun jika makmum wanita yang jauh berada di belakang tidak mendengar bacaan imam karena mic-nya mati maka perlu adanya tindakan.

Fenomena makmum tidak mendengar bacaan imam pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat berjama’ah, tiba-tiba cucu beliau naik ke punggungnya sehingga Rasulullah sujud begitu lama dan membuat makmum bertanya-tanya apakah beliau batal wudhu atau bagaimana. Namun setelah ada makmum yang secara refleks mengintip Rasulullah ia kembali sujud seperti semula dan menunggu beliau bertakbir dan bangkit dari sujudnya.

Dari Abdullah bin Syadad dari ayahnya, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk shalat bersama kami untuk shalat siang dan beliau sambil menggendong cucunya lalu beliau maju ke depan dan anak itu diletakkannya kemudian bertakbir untuk shalat maka beliau shalat lalu sujud dan sujudnya itu lama sekali. Aku kemudian mengangkat kepalaku, aku melihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang sujud maka aku pun kembali sujud. Setelah shalat selesai, orang-orang berkata “Wahai Rasulullah, tadi lama sekali engkau sujud. Kami menyangka telah terjadi apa-apa atau barangkali wahyu turun kepadamu.” Beliau bersabda “Semua itu tidak terjadi, hanya saja cucuku ini naik ke punggungku dan aku tidak mau memutuskannya dengan segera sampai ia puas”.” (HR. An Nasa’i)
Dalam riwayat lain juga dinyatakan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh dalam shalatnya ke kanan dan ke kiri, dan tidak sampai memutarkan lehernya ke belakang.” (HR. An Nasa'i dan Ahmad serta dinyatakan shahih sesuai syarat Al Bukhari)
Dari kedua hadits ini dapat dipahami bahwa jika mic mati, maka makmum wanita yang berada di bagian belakang shaf dibolehkan mengintip gerakan shalat makmum laki-laki yang di depannya jika tidak ada tabir diantara mereka, dan shalatnya tetap sah. Namun jika ada tabir yang menghalangi makmum wanita untuk mengintip gerakan shalat makmum laki-laki maka makmum laki-laki yang berada di shaf paling belakang, hendaknya membantu imam mengeraskan suara takbir dan tasmi’ agar makmum wanita dapat mengetahui perubahan gerakan imam.

Adapun jika makmum laki-laki di shaf paling belakang tidak juga membantu imam mengeraskan takbir dan tasmi’ sehingga makmum wanita yang berada di balik tabir sama sekali tidak dapat mengetahui perubahan gerakan imam maka dalam keadaan seperti ini makmum wanita dapat melakukan mufaraqah atau memisahkan diri dari jama’ah dan menyempurnakan shalatnya masing-masing. Wallahu a’lam bishshawab.