Ilmu Laduni Dalam Pandangan Islam

Untuk mendapatkan suatu ilmu, tentunya seseorang harus belajar sehingga tercipta konsep ada guru, ada muridnya, dan ada pula ilmu yang dipelajari. Uniknya ada fenomena seseorang tiba-tiba menjadi pintar tanpa belajar, ada yang tiba-tiba bisa bahasa Inggris tanpa belajar, ada pula yang disebut tiba-tiba bisa membaca Al Qur’an tanpa belajar mengaji. Di masyarakat, orang yang seperti ini dianggap mendapat ilmu laduni. Benarkah ilmu laduni ini ada? Bagaimana cara mendapatkannya? Apakah hanya orang tertentu yang bisa mendapatkan ilmu tersebut?

Berikut penjelasan Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA.: Ada orang yang tiba-tiba bisa pintar katanya dia dapat ilmu laduni padahal dia tidak belajar, memang ini adalah hal yang diluar dari kebiasaan. Dimana-mana yang namanya orang bisa pintar, punya ilmu itu haruslah dengan belajar.

“Sesungguhnya ilmu itu hanya bisa didapat dengan cara belajar” tidak ada orang yang tiba-tiba pintar kecuali memang dia seorang nabi atau rasul. Allah menurunkan kepadanya mukjizat, wahyu, ilmu, ilham, dan sebagainya sehingga dia tiba-tiba mengerti apa-apa yang dia tidak pernah pelajari, tidak ada gurunya langsung dapat wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala lewat perantaraan Jibril.

Kalau ada orang yang bukan nabi atau rasul tiba-tiba bisa mendapatkan sesuatu tanpa harus belajar maka ini disebut dengan istilah karomah atau kemuliaan. Karomah ini berlaku bagi mereka yang benar-benar orang yang shalih, orang yang menjalankan ilmu agama, dan karena dia memang sudah mendapatkan kedudukan di sisi Allah maka boleh-boleh saja Allah berikan kepadanya ilmu pengetahuan walaupun dia bukan seorang nabi atau rasul tapi ilmu ini bukanlah wahyu atau mukjizat melainkan karomah/kemuliaan.

Ada lagi orang yang bukan orang shalih tapi orang jahat, tidak beriman kepada Allah kadang-kadang diberi juga semacam kemukjizatan, inilah yang disebut dengan istidraj. “Kami beri dia uluran waktu, biarkan dia dengan segala kekafirannya diberikan keunggulan.” Keunggulan ini diberikan kepada setan, jin, iblis, dan sebagainya yang biasa disebut dengan ilmu sihir.

Lalu bagaimana caranya kita membedakan ilmu ini termasuk karomah ataukah ilmu ini termasuk sihir?
  1. Sihir itu tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang menentang ketentuan Allah. Sihir itu diajarkan oleh iblis, setan, dan jin dalam hal-hal yang tidak baik, sedangkan karomah pelakunya pastilah orang shalih. Tidak mungkin orang yang shalih itu melakukan perbuatan sihir yang diharamkan oleh Allah.
  2. Karomah itu istilahnya tidak ada “tombolnya” sedangkan sihir itu ada, baik nabi dan rasul ataupun orang-orang shalih kalaupun mereka mendapatkan pemberian dari Allah, itu sifatnya pemberian begitu saja. Mereka tidak punya hak atau kuasa untuk melakukan “On/Off” atas keajaiban-keajaiban itu. Nabi Musa ‘alaihi salam misalnya punya tongkat yang bisa berubah menjadi ular juga bisa membelah lautan tetapi di tongkat Nabi Musa itu tidak ada “tombol On/Off”. Berbeda dengan sihir, ada rapal yang dikomat-kamitkan, ada pemanggil roh atau jin dengan wewangian tertentu, membakar dupa, dan sebagainya, ada mantra sehingga kalau dia mau dia panggil lalu terjadilah kejadian itu.