Hukum Shalat Menggunakan Kaos Singlet [Bahunya Terbuka]

Ibnu Abdil Barr menjelaskan bahwa menutup aurat termasuk kewajiban shalat. Berdasarkan ijma atau konsensus para ulama, orang yang tidak berpakaian padahal ia mampu menutupi auratnya dengan pakaian maka shalatnya tidak sah. Lalu bagaimana dengan orang yang shalat dengan hanya memakai kaos singlet? Orang yang shalat mengenakan kaos singlet berarti bahunya terbuka. Hal ini memunculkan pertanyaan lain, apakah orang yang shalat sementara bahunya terbuka dibenarkan dalam syariat agama?

Jumhur atau mayoritas ulama mengatakan bahwa hukum menutup bahu saat shalat tidaklah wajib. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Said bin Al Harits dari Jabir bin Abdillah. Said bin Harits berkata,
“Kami bertanya kepada Jabir bin Abdillah perihal shalat dengan mengenakan selembar pakaian, lalu Jabir menjawab “Aku pernah ikut bepergian dalam sebuah perjalanan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di suatu malam saat aku sedang ada urusan pribadi, aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melaksanakan shalat, sementara saat itu aku hanya memakai selembar kain. Maka aku melipat kain itu dan aku shalat disamping beliau. Setelah beliau selesai shalat, Nabi bertanya kepadaku “Ada gerangan apakah engkau keluar malam-malam begini, Hai Jabir?” Aku pun memberitahukan keperluanku, lalu beliau bertanya “Lipatan apakah yang aku lihat ini?” Aku menjawab “Kain yang sempit, wahai Rasulullah!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda “Jika luas, selimutkanlah dan jika sempit, bersarunglah dengannya!”.”.”
Dalam hadits ini, Jabir melaksanakan shalat di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hanya mengenakan satu kain, melipatnya seperti mengenakan sarung saja tanpa kain penutup bahunya sehingga bahunya tetap terbuka. Saat melihat seperti ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempermasalahkannya. Dengan demikian, shalat dengan mengenakan kaos singlet tidaklah masalah dan tidak membatalkan shalatnya.

Memang ada sebagian ulama yang mempersoalkannya seperti madzhab Hanbali, madzhab ini berpendapat bahwa wajib hukumnya seseorang menutupi kedua bahunya saat shalat, jika tidak maka tidak sah shalatnya. Pendapat ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian shalat dalam satu kain, pundaknya dibiarkan terbuka tanpa ditutup apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain disebutkan,
Diriwayatkan dari Buraidah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki shalat dengan kain dan tidak menyelempangkannya. (HR. Abu Dawud)
Larangan Nabi ini dinilai madzhab Hanbali sebagai pengharaman maka menurut madzhab ini menutup bahu hukumnya wajib meskipun hanya dengan kain tipis. Akan tetapi hal ini dibantah oleh mayoritas ulama dari madzhab Syafi'i, Maliki, dan Hanafi bahwa larangan dalam hadits ini tidak sampai pada derajat haram.

Dengan demikian, shalat mengenakan kaos singlet dengan bahu terbuka maka shalatnya tetap sah karena meski hanya menggunakan kaos singlet tapi auratnya tetap tertutup karena batasan aurat laki-laki itu dari pusar hingga lututnya. Wallahu a’lam.

Memang dalam kasus shalat mengenakan kaos singlet, kewajiban menutup aurat sebenarnya sudah terpenuhi, akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah apakah pantas seseorang menghadap Allah subhanahu wa ta’ala dengan hanya mengenakan pakaian seperti itu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al A’raaf: 31)
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan disunnahkannya menghias diri ketika hendak mengerjakan shalat. Lalu disunnahkan juga untuk memakai wangi-wangian karena itu termasuk perhiasan serta bersiwak karena merupakan bagian dari kesempurnaan pakaian.

Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Hai anak Adam, Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa Itulah yang paling baik.” (QS. Al A’raaf: 26)
Menurut Ibnu Abbas, kalimat “perhiasan” dalam ayat ini artinya pakaian.

Berdasarkan kedua ayat ini, melaksanakan shalat dengan pakaian suci, indah, dan sopan lebih diutamakan. Terkait dengan terbukanya aurat saat shalat muncul pertanyaan lain, bagaimana dengan pakaian yang bolong, baik sarung, celana, ataupun baju?

Para ulama menjelaskan jika robekan atau lubang di pakaian, baju, celana, atau sarung itu hanya sedikit dan tidak sampai menampakkan warna kulit dengan jelas, lebih-lebih kainnya agak longgar maka shalat dengan pakaian tersebut tetaplah sah.

Dalam kitab Al Inshaf dikatakan bahwa menurut jumhur atau mayoritas ulama, apabila aurat yang terbuka hanya sedikit, tidak membuat dirinya malu ketika terlihat maka hal ini tidaklah membatalkan shalatnya. Masalahnya, berapa ukuran bolong sedikit yang dimaafkan dalam shalat ini?

Dalam kitab Al Mubhij dijelaskan bahwa terbukanya aurat yang kecil atau ringan itu ukurannya seujung kelingking.