Cara Menjama’ Shalat Pada Kondisi Tertentu

Kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta menjadi persoalan tersendiri bagi warganya untuk tepat waktu beribadah shalat. Pada jam pulang kerja misalnya jika keluar kantor jam 5 sore bisa keluar dari kemacetan sampai isya. Itu artinya, dia harus meninggalkan shalat maghrib, sementara jarak tempuhnya sebenarnya sangatlah dekat bahkan tak lebih dari 10km. Bagaimana solusi shalatnya? Haruskah mengqadha setelah bebas dari macet atau boleh melakukan shalat jama’ takhir?

Pada prinsipnya menjama’ shalat atau menggabungkan dua shalat dalam satu waktu merupakan keringanan yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada kaum muslim ketika melakukan safar atau bepergian. Akan tetapi pada kondisi-kondisi tertentu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ shalat di luar sebab safar atau bepergian.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan jama’ shalat dzuhur dan ashar juga maghrib dan isya di Madinah bukan karena rasa takut dan juga karena hujan. Ada yang bertanya pada Ibnu Abbas “Apa yang dikehendaki beliau melakukan seperti itu?” Jawab Ibnu Abbas “Beliau tidak ingin umatnya itu mendapatkan kesulitan.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, dalam situasi kemacetan yang tak bisa dihindari dan ia khawatir akan kehilangan waktu shalat maka bagi orang yang menghadapi situasi demikian hendaknya memilih salah satu dari dua pilihan:
  1. Menjama’ dua shalat, ini berlaku jika shalat tersebut dapat dijama’ dengan shalat lainnya seperti dzuhur dan ashar, maghrib dan isya. Jika shalatnya bisa dijama’ maka boleh memilih menjama’ di waktu kedua meskipun saat itu ia tidak musafir karena jama’ dibolehkan ketika hajat atau dibutuhkan meskipun tidak bepergian. Maka ketika terkena macet saat waktu maghrib misalnya dan waktu tersebut sangat mepet maka boleh shalat maghrib tersebut di jama’ dengan shalat isya artinya shalat maghrib diakhirkan ke waktu kedua yaitu saat waktu isya atau jama’ takhir. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Salim anak Ibnu Umar berkata “Dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga melaksanakannya seperti itu jika beliau tergesa-gesa dalam perjalanan. Beliau membacakan iqamah untuk shalat maghrib lalu mengerjakannya sebanyak tiga raka’at kemudian salam, kemudian beliau diam sejenak lalu segera membaca iqamah untuk melaksanakan shalat isya, kemudian beliau menunaikannya dengan dua raka’at kemudian salam. Beliau tidak menyelingi diantara keduanya, kedua shalat yang dijama’ dengan shalat sunnah satu raka’at pun dan beliau juga tidak melaksanakan shalat sunnah satu raka’at pun setelah isya hingga beliau bangun di pertengahan malam untuk shalat malam.” (HR. Al Bukhari)
  2. Jika shalatnya tidak bisa dijama’ misalnya terkena macet ketika waktu ashar sementara ashar tidak mungkin dijama’ atau digabung dengan shalat maghrib maka saat itu yang dilakukan adalah dengan shalat di atas kendaraan. Jika mampu berdiri maka dikerjakan dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk lalu dia shalat dengan berisyarat untuk ruku’ dan sujudnya. Jika ia tidak punya wudhu maka diganti dengan tayamum. Ketika itu tidak boleh shalat ashar tersebut diakhirkan ke waktu maghrib karena kedua shalat tersebut tidak bisa dijama’ atau digabungkan.
Dengan demikian, menjama’ shalat tidaklah harus dalam kondisi safar atau bepergian tapi kondisi muqim atau tidak bepergian pun menggabungkan atau menjama’ shalat itu dibolehkan.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjama’ shalat dzuhur dan ashar juga maghrib dan isya di Madinah bukan karena rasa takut dan bukan pula karena hujan, ada yang bertanya pada Ibnu Abbas “Apa yang diinginkan beliau melakukan seperti itu?” Jawab Ibnu Abbas “Beliau tidak ingin umatnya itu mendapat kesulitan.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi menjelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ pelaksanaan shalat di Madinah bukan disebabkan kondisi terganggunya keamanan, hujan lebat, dan bukan pula disebabkan sakit. Menurut Imam Isna’i pilihan Imam Nawawi ini didasarkan pada pendapat Imam Syafi'i yang tercantum dalam kitab Mukhtashar Imam Muzani.

Sekelompok ulama membolehkan menjama’ bagi orang muqim yang tidak bersafar untuk sebuah keperluan. Dengan catatan, ini bukanlah menjadi sebuah kebiasaan. Wallahu a’lam.