Cara Melakukan Sujud Syukur Menurut Syariat Agama Islam

Kita sering menyaksikan adegan orang-orang yang tiba-tiba bersujud setelah mendapatkan kesuksesan, harapannya tercapai, atau angan-angannya kesampaian. Adegan sujud ini kadang dilakukan secara spontan tanpa bersuci, tanpa menghadap kiblat, atau bahkan tidak menutup aurat seperti misalnya pemain bola yang langsung bersujud setelah berhasil memasukkan gol ke gawang lawan. Sujud seperti ini biasa disebut sujud syukur.

Namun yang terkadang masih mengusik pertanyaan kita, apakah benar sujud syukur dilakukan dengan cara seperti itu?

Mayoritas ulama menjelaskan sujud syukur hendaknya dilakukan dalam kondisi suci, menghadap kiblat, dan menutup aurat karena sujud syukur adalah ibadah seperti halnya shalat sehingga layaknya shalat harus memenuhi syarat-syarat sahnya shalat. Maka menurut mayoritas ulama, sujud syukur yang dilakukan tanpa bersuci, tanpa menghadap kiblat, dan tanpa menutup aurat  tidak dibenarkan dalam syariat. Jika tidak memenuhi syarat-syarat itu maka sujud syukur tidaklah sah.

Akan tetapi, sebagian ulama tidak mensyaratkan itu semua. Bagi mereka kondisi suci, menghadap kiblat, dan menutup aurat memang dianjurkan ketika akan sujud syukur tetapi tidak menjadi syarat sehingga sah-sah saja jika melakukan sujud syukur tanpa memenuhi semua kondisi tersebut. Menurut pendapat ini, tidak tepat menyamakan antara sujud syukur dan shalat.

Masing-masing adalah ibadah yang berbeda dengan ketentuan dan syarat berbeda pula. Salah satu dalil yang dikemukakan adalah tentang sujudnya orang-orang musyrik ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan surah An Najm kepada mereka dalam hadits riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas. Hadits tersebut menunjukkan bahwa untuk sujud tilawah tidak diharuskan bersuci dahulu karena orang-orang musyrik sudah pasti tidak suci, begitu juga dengan orang Islam yang hadir pada saat itu, kecil kemungkinan mereka semua dalam kondisi suci. Hal yang sama kemudian diqiyaskan atau dianalogikan dengan sujud syukur.

Selain itu, sebagian ulama yang berpendapat sujud syukur tidak harus bersuci dahulu juga berdalih bahwa orang yang tidak bersuci ketika mendapat nikmat atau terhindar dari malapetaka ketika ia ingin sujud syukur jika harus bersuci dulu maka akan kehilangan momentumnya sebab dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa sujud syukur yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sifatnya spontan dan langsung.

Lalu seperti apa tata cara sujud syukur itu?

Adapun tata cara sujud syukur sama seperti sujud tilawah yaitu dengan sekali sujud. Ketika akan sujud dianjurkan dalam keadaan suci menghadap kiblat lalu bertakbir kemudian melakukan sekali sujud. Saat sujud, bacaan yang dibaca adalah seperti yang dibaca ketika sujud dalam shalat kemudian setelah itu bertakbir kembali dan mengangkat kepala, tidak ada salam, dan tidak ada tasyahud.

Lalu bagaimana dengan hukum sujud syukur itu sendiri, bukankah Allah subhanahu wa ta’ala terus menerus memberikan nikmat-Nya kepada manusia?

Sujud syukur hukumnya sunnah ketika ada sebab khusus yang melatarinya inilah pendapat ulama madzhab Syafi’i dan Hanbali. Hal ini berdasarkan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.
Dari Abu Bakrah dan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa apabila beliau mendapatkan suatu perkara yang menyenangkan maka beliau bersimpuh bersujud sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Begitu juga hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Baihaqi tentang kisah Islamnya Hamdan. Dari Al Barra bin Azib radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ali ke Yaman lalu perawi kemudian Ali menulis surat tentang keislaman mereka maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat itu beliau tersungkur sujud sebagai bentuk syukur kepada Allah ta’ala atas hal tersebut.

Abdurrahman bin Auf menuturkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Aku bertemu dengan Jibril ‘alaihi salam, lalu ia memberikan kabar gembira kepadaku dengan berkata “Sesungguhnya Rabb-mu telah berfirman: Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadamu maka aku akan mengucapkan shalawat kepadanya, barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu maka aku akan mengucapkan salam kepadanya.” Mendengar hal itu, aku pun bersujud kepada Allah bersyukur kepada-Nya.” (HR. Baihaqi)
Dengan demikian, sujud syukur disyariatkan pada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dalam kondisi senang, seperti ketika seseorang baru dikaruniai anak oleh Allah subhanahu wa ta’ala setelah dalam waktu yang lama menanti, atau seseorang yang selamat dari musibah seperti ketika sembuh dari sakit, atau orang yang menemukan barangnya yang hilang, atau saat seseorang jiwa dan hartanya selamat dari kebakaran atau dari tenggelam.

Adapun nikmat yang sudah biasa dan terus menerus diterima seperti nikmat nafas, nikmat hidup, nikmat makanan, dan nikmat yang sejenis lainnya yang memang harus dan wajib disyukuri maka dalam hal ini tidak perlu dilakukan sujud syukur. Sujud syukur juga tidak boleh dilakukan didalam shalat, jika dilakukan dalam shalat maka shalatnya menjadi batal.

Sujud syukur boleh dilakukan kapan saja termasuk di waktu-waktu yang dimakruhkan shalat karena sujud tilawah dan sujud syukur bukanlah shalat, sedangkan larangan shalat di waktu terlarang adalah larangan khusus untuk shalat. Wallahu a’lam bishshawab.