Bolehkah Wanita Saat Haid Memotong Kuku Dan Rambut?

Setiap wanita dewasa pasti mengalami masa datang bulan atau biasa yang disebut dengan haid maupun menstruasi. Selama kurang lebih tujuh hari kaum hawa tidak diwajibkan untuk melakukan shalat, puasa, dan rukun Islam lainnya yang telah ditetapkan.

Namun hingga saat ini, masih banyak wanita yang meragukan boleh atau tidaknya memotong kuku dan mencukur rambut ketika sedang haid dengan alasan karena kelak bagian tubuh manusia akan dikumpulkan di hari kiamat.

Maka jika seorang wanita membuang bagian tubuh dalam kondisi hadats besar, seperti junub, haid, atau nifas maka kelak di hari kiamat, bagian tubuh tersebut akan kembali dalam keadaan najis karena belum pernah disucikan. Mendengar pernyataan tersebut tentu membuat kita semakin bertanya-tanya, apakah hal tersebut benar adanya? Bolehkah seorang wanita memotong kuku dan rambut saat haid?

Pada dasarnya yang diharamkan atau dilarang bagi wanita yang sedang mengalami haid itu hanya ada delapan poin:
  1. Haram Shalat
  2. Haram Puasa
  3. Haram Thawaf
  4. Haram melafadzkan Al Qur’an
  5. Haram membawa atau menyentuh Al Qur’an
  6. Haram masuk masjid dan berdiam diri di dalamnya
  7. Haram dijima’ atau berhubungan seksual
  8. Haram dicerai atau tidak dibolehkan bagi suami untuk menceraikan istri yang haid.
Mengenai hukum bolehnya wanita memotong kuku atau rambut memang ada perbedaan di kalangan para ulama. Mayoritas ulama fiqih dari madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali mengatakan bahwa itu boleh-boleh saja karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika A’isyah radhiyallahu ‘anha sedang mengalami haid, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada A’isyah “Kamu uraikan saja rambutnya silakan juga disisir.”

Kata para ulama misalnya perempuan itu menyisir maka pastilah ada yang rontok beberapa helai. Disini para ulama mengatakan bahwa sebetulnya para wanita yang sedang haid boleh-boleh saja dia memotong rambutnya atau terputus rambutnya atau kukunya pada saat dia haid.

Namun beberapa ulama juga ada yang mengatakan tidak boleh sebagaimana yang disampaikan oleh Al Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, beliau mengatakan bahwa pada hari kiamat nanti seorang wanita yang sedang mengalami haid kalau sampai kukunya atau rambutnya dipotong ketika dia lagi janabah, hadats besar, atau haid kelak kuku dan rambutnya itu akan meminta pertanggung jawaban karena telah membiarkannya terlepas dari tubuhnya dalam keadaan janabah dan tidak pernah disucikan.

Maka jika wanita terlanjur memotong kuku atau rambutnya maka ketika dia nanti mandi janabah, kuku dan rambutnya harus disertakan untuk dicuci juga. Ketika dia menyiram kepala maka rontokan rambutnya ditaruh di kepalanya kemudian dicuci, ketika dia mencuci kukunya maka kukunya ditaruh dulu di ujung jarinya kemudian disiram dengan niat untuk menghilangkan hadats besar.

Pendapat ini dikuatkan oleh Al Imam An Nawawi dalam kitab beliau Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab beliau juga mengatakan bahwa dalam madzhab Syafi'i pun ada sebagian yang berpendapat bahwa tidak ada larangan bagi seorang muslimah untuk memotong kuku atau memotong rambutnya, tapi sebagian ulama yang lain mengatakan diharamkan dan dilarang agar nanti di hari kiamat dia tidak dimintai pertanggung jawaban oleh rambut-rambut dan kuku-kuku yang sempat dia potong.