Bolehkah Membunuh Laba-Laba, Semut, Atau Binatang Lain?

Melihat sudut atau langit-langit rumah dihiasi sarang laba-laba, pasti membuat kita jengah. Selain tak sedap dipandang, sarang laba-laba juga menyebabkan debu sehingga membuat rumah  tampak kotor dan kusam. Yang lebih menyebalkan, laba-laba senang membuat sarang di area yang sangat tinggi dan tak terjangkau. Jadi kadang kita baru menyadari banyaknya sarang bertengger di langit-langit rumah saat sarang tersebut sudah besar dan banyak.

Tak hanya ruangan di dalam rumah, laba-laba juga hobi membangun sarangnya diantara tanaman rumah. Jika sarang yang dibuatnya semakin erat, bisa-bisa membuat tanaman membusuk dan mati. Namun untuk membersihkannya terkadang kita ragu karena tak sedikit orang yang meyakini tidak seharusnya kita merusak sarang laba-laba karena sarang laba-laba pernah menyelamatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dari kejaran kaum musyrik Quraisy saat bersembunyi di gua Tsur dalam perjalanan hijrah ke Madinah.

Saat itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tengah diburu oleh orang-orang Quraisy yang telah bertekad hendak membunuhnya. Nabi dan Abu Bakar pun tiba di sebuah gua kemudian bersembunyi di dalamnya. Setelah itu, Allah memerintahkan seekor laba-laba untuk membuat sarang di mulut gua sehingga ketika mulut gua tersebut diterawang oleh kaum kafir Quraisy, mereka tidak dapat melihat keberadaan Nabi Muhammad dan Abu Bakar di dalamnya.

Oleh karena itu, ketika orang-orang Quraisy tiba di gua dan melihat jaring laba-laba di mulut gua, hal itu menjadi penanda bahwa tidak ada orang yang masuk ke dalam gua. Apakah berdasarkan kisah ini, kita tidak boleh merusak sarang laba-laba?

Memang ada beberapa riwayat tentang kisah ini yang termaktub dalam buku-buku hadits, tafsir, biografi Nabi, dan sejarah Islam. Namun sebagian besarnya dinilai lemah dan sebagian lain diperselisihkan. Adapun riwayat yang kualitasnya paling bagus adalah riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang antara lain menyatakan bahwa,
Orang-orang Quraisy terus menelusuri jejak Nabi hingga melewati gua itu dan melihat di mulutnya ada sarang laba-laba maka mereka pun berkata “Andai Muhammad masuk ke dalam gua ini tentu tidak akan ada sarang laba-laba di mulutnya.” Lalu beliau pun tetap tinggal di gua selama tiga hari. (HR. Ahmad)
Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar dari kalangan ulama terdahulu menilai hadits ini hasan. Ibnu Katsir mengatakan bahwa riwayat ini sangat hasan dan merupakan riwayat yang paling bagus terkait kisah sarang laba-laba di mulut gua. Sedangkan Al Hafidz Ibnu Hajar setelah menukil hadits ini dalam kitabnya Fathul Bari juga mengatakan bahwa Ahmad membawakan hadits dari Ibnu Abbas dengan sanad hasan.

Berbeda dengan mereka berdua, Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh Ahmad Syakir, dan juga Al Albani dari kalangan ulama masa kini menilai riwayat ini lemah atau dhaif karena ada salah satu mata rantai perawinya yang setelah diteliti ulang ternyata kurang kredibel. Jadi sekali lagi riwayat ini masih diperselisihkan keabsahannya, namun ada satu hal yang disepakati oleh kedua belah pihak yaitu tidak adanya larangan untuk membunuh atau mengusir laba-laba jika terbukti mengganggu. Pada prinsipnya semua yang mengganggu manusia, boleh untuk diusir atau bahkan dibunuh bila memang tidak mempan diusir.

Saat ditanya masalah ini, seorang ulama kontemporer kenamaan menjelaskan bahwa mengusir laba-laba di sudut rumah diperbolehkan karena laba-laba mengganggu dan mengotori dinding, bahkan juga mengotori buku dan pakaian. Laba-laba termasuk hewan yang mengganggu meskipun gangguannya tergolong ringan jika dibandingkan dengan hewan lainnya. Oleh karena itu, boleh saja sarangnya dihilangkan.

Sejalan dengan ini, seorang ulama lain juga menandaskan bahwa tidak apa-apa menghilangkan sarang laba-laba karena tidak ditemukan adanya dalil yang memakruhkan hal ini. Sementara riwayat masyhur tentang laba-laba yang menjalin sarang di pintu gua yang dimasuki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar jika pun dianggap shahih tetap saja tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang pengusiran laba-laba dari dalam rumah.

Adapun untuk membunuhnya, selama masih bisa diusir tanpa harus dibunuh maka pada prinsipnya semua binatang yang gangguannya tidak terlalu signifikan, cukup diusir tanpa harus dibunuh.

Lalu bagaimana dengan hewan-hewan lain seperti semut? Bolehkah kita membunuhnya?

Keberadaan semut di rumah terasa cukup mengganggu karena sifatnya yang senang terhadap makanan manis ataupun kadang mengerubungi makanan yang tersaji di meja makan. Belum lagi jika semut itu dari jenis semut yang suka menggigit kulit manusia dan dampaknya bisa menimbulkan bentol dan gatal. Lalu apakah kita cukup menghindarinya saja atau bolehkah membunuhnya?

Dalam hadits yang dituturkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah telah menyebutkan hewan mana saja yang tidak boleh dibunuh.
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat jenis binatang yaitu: semut, lebah, hud hud, dan suradi.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Namun larangan ini tidak berlaku jika hewan tersebut mengganggu atau membahayakan. Pertama-tama diusir dan jika sulit maka boleh dibunuh. Adapun cara membunuhnya maka tidak boleh dibakar karena yang berhak menghukum dengan api hanya Allah subhanahu wa ta’ala saja seperti yang dijelaskan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah singgah di tengah perjalanan bersama para sahabatnya lalu melihat sarang semut yang dibakar. Beliau bertanya “Siapakah yang membakar ini?” Para sahabat menjawab “Kami.” Beliau bersabda “Tidak boleh membunuh dengan api kecuali Tuhan Pemilik Api (maksudnya adalah Allah subhanahu wa ta’ala).” (HR. Abu Dawud)
Larangan ini tidak hanya ditujukan pada sarang semut saja melainkan untuk semua jenis makhluk hidup. Lantas bagaimana jika membunuh semut dengan air panas?

Para ulama menyebutkan bahwa membunuh semut dengan air panas sama dengan menggunakan api dan hal itu termasuk cara membunuh hewan yang dilarang. Larangan ini pula yang disebutkan dalam sebuah fatwa dari Syabakah Islamiyah bahwa membunuh dengan air mendidih termasuk membunuh dengan api dan termasuk penyiksaan yang bertentangan dengan prinsip membunuh dengan cara yang terbaik karena itu tidak diperbolehkan.

Jadi kesimpulannya boleh saja membunuh semut atau binatang lain selama mereka mengganggu dan membahayakan akan tetapi sebisa mungkin diusir dulu, baru kemudian dibunuh jika masih terus mengganggu. Wallahu a’lam.

Yang perlu diperhatikan bahwa semut, laba-laba, ataupun hewan-hewan serangga termasuk makhluk hidup yang bernyawa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa berlaku baik pada makhluk hidup adalah pahala bagi kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pada setiap sedekah terhadap makhluk yang memiliki hati, jantung yang basah, hidung, akan dapatkan pahala kebaikan. Seorang muslim yang menanam tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang kemudian dimakan burung-burung, manusia, atau binatang maka baginya sebagai sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap tindakan dan perlakuan terhadap binatang kelak di akhirat, kita akan mempertanggung jawabkannya. Inilah yang dikabarkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
”Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. Al An’am: 38)