Bolehkah Berdoa Kepada Allah Secara Spesifik dan Detail?

Agar doa lekas terkabul banyak orang yang beranggapan bahwa doa harus dipanjatkan dalam bentuk permintaan yang spesifik dan detail. Bahkan kini para trainer dan motivator pun turut menganjurkan para audiensnya untuk meminta hal yang spesifik ketika berdoa pada Allah ta’ala, misalnya jika kita ingin menjadi kaya maka kita harus meminta kepada Allah secara spesifik dan dilakukan terus menerus. Ingin memiliki kekayaan apa saja, kapan targetnya, dimana, dengan cara apa, untuk apa, dan bagaimana pertumbuhan kekayaannya pada tiap interval waktunya, dan seterusnya.

Para motivator mengaitkan doa spesifik dengan hukum Law of Attraction yaitu keyakinan bahwa manusia dapat mengubah kehidupannya hanya dengan memikirkan apa-apa yang dia inginkan. Padahal Al Qur’an dengan tegas mengatakan bahwa tidak semua yang kita inginkan berakibat baik bagi kita. Sebaliknya, boleh jadi sesuatu yang kita anggap buruk ternyata pada hakikatnya membawa kebaikan bagi kita sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)
Ada sebuah kisah sebagai ilustrasi yang digambarkan ulama tentang cara Allah mengabulkan doa. Ada seorang ahli ibadah yang berdoa memohon kepada Allah agar dikaruniai dua potong roti setiap hari tanpa harus bekerja sehingga ia dapat dengan tekun dan khusyu’ beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam bayangannya, jika tak berpayah kerja mengejar dunia maka ibadahnya akan lebih terjaga. Allah pun mengabulkan doanya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Tiba-tiba ia ditimpa fitnah dahsyat yang membuat dirinya masuk penjara.

Subhanallah, di penjara sang ahli ibadah ini mendapat jatah makanan dalam sehari dua potong roti, satu diberikan di waktu pagi dan sepotong lagi di waktu petang. Ia dapatkan roti itu tanpa harus bekerja, hal ini sesuai dengan isi doanya. Di penjara itu pun, ia memiliki banyak waktu luang untuk beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala.

Tapi apa yang dilakukan sang ahli ibadah ini, dia justru sibuk meratapi nasibnya. Baginya masuk penjara begitu menyakitkan dan penuh duka. Ia tak sadar bahwa masuk penjara adalah bagian dari terkabulnya doa yang dipanjatkannya sepenuh hati dahulu. Nestapanya itu justru menghalanginya untuk insyaf dan bersyukur pada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kisah ini mengajarkan kita agar pentingnya berhati-hati dalam berdoa. Kita memang tidak dilarang untuk meminta apapun secara spesifik sedetail-detailnya dengan ucapan dan bahasa manapun, tetapi doa yang baik tetap ada adabnya.

Sebab itulah mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk berdoa dengan lafal yang singkat dan padat tapi mengandung makna yang luas. Menggunakan susunan kata yang paling sederhana sebagaimana keterangan yang terdapat dalam Sunan Abu Dawud dan Musnad Imam Ahmad dari A’isyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berdoa dengan doa-doa yang singkat dan padat namun maknanya luas dan tidak berdoa dengan yang selain itu.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Al Hakim)
Pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari kisah ini adalah Allah lebih tahu dibandingkan dengan kita tentang apa yang terbaik bagi kita maka jika kita meminta yang terbaik bagi pada Allah semoga Allah bimbing kita juga agar mampu menghadapi segala konsekuensi dari terkabulnya suatu doa.