Azab Yang Menimpa Pula Kepada Orang-Orang Shalih

Gempa bumi dan musibah lainnya merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri. Berikut Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuura: 30)
Pada dasarnya musibah seperti gempa bumi merupakan fenomena alam yang terjadi karena adanya aktivitas fisik yaitu getaran akibat pelepasan energi secara tiba-tiba yang disebabkan oleh pergerakan kerak bumi atau lempeng bumi.

Lalu bagaimana mungkin terjadinya gempa bumi dikaitkan dengan kemaksiatan yang jelas-jelas bukan aktivitas fisik?

Keterkaitan antara bencana dengan maksiat adalah abstrak. Orang-orang yang bermodalkan dengan nalarnya mungkin akan berpikir,
“Andai bencana dengan maksiat ada hubungannya, mengapa tempat yang banyak maksiat bahkan negeri tanpa ada umat Islam banyak yang jarang terkena bencana?”
Jawabannya, jika setiap orang yang ketika berbuat maksiat tiba-tiba disambar petir dari langit lalu mati tentulah semua orang serta merta akan menjadi shalih semua, tidak akan ada lagi maksiat, tidak ada lagi ujian keimanan, tidak ada lagi taubat, tidak ada lagi amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada lagi istilah maksiat di dalam kamus, dan mungkin bumi ini sudah bisa disebut surga.

Inilah bagian dari misteri Ilahi. Allah ta’ala terkadang menimpakan musibah pada kaum yang berbuat maksiat saja sebagaimana Kaum ‘Ad dan Kaum Tsamud, namun terkadang Allah menimpakan musibah kepada kaum yang didalamnya juga terdapat orang shalih seperti Allah firmankan:
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al Anfaal: 25)
Sesungguhnya bencana merupakan salah satu bentuk teguran dan peringatan bahkan hukuman dari Allah subhanahu wa ta’ala yang disebabkan oleh sikap kita yang meninggalkan aturan Allah yang selalu berdiam dalam gelimang maksiat dan dosa untuk mengingatkan kita agar kembali ke jalan-Nya.

Maka semakin besar pelanggaran kita terhadap perintah dan aturan Allah subhanahu wa ta’ala, semakin besar pula peristiwa alam seperti bencana gempa bumi yang akan Allah timpakan kepada kita. berikut dalam sebuah ayat, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al Ankabuut: 40)
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu Telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka dia akan menerangkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (QS. Al Maaidah: 105)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumannya kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, dan lainnya)
Selain itu, tinggal di lingkungan yang bermaksiat pun bisa jadi merupakan penyebab turunnya bencana di tengah-tengah orang shalih seperti misalnya jika maksiat yang dilakukan di lingkungan tersebut adalah zina maka orang-orang di sekelilingnya pun turut berdosa jika mengetahui dan membiarkan perilaku maksiat tersebut tetap ada.

Karenanya, hukuman zina tidak hanya menimpa pelakunya saja tetapi juga berimbas kepada masyarakat sekitarnya karena sesungguhnya murka Allah akan turun kepada kaum atau masyarakat yang membiarkan perzinahan hingga mereka binasa. Berikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR. Al Hakim, Al Baihaqi, dan Ath Thabrani)