Apakah Nama Kunyah Atau Julukan Itu Sunnah Atau Kebiasaan Orang Arab Saja?

Salah satu tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada setiap orang tua adalah memberikan nama yang baik bagi anak-anaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan menggunakan nama-nama kalian dan dengan nama-nama bapak kalian maka baguskanlah nama-nama kalian.” (HR. Abu Dawud)
Di Indonesia ini kita seringkali mendengar seseorang dipanggil atau menyebut dirinya sendiri dengan nama julukan atau nama kunyah, bahkan beberapa ustadz ada yang disebut dengan nama kunyah ini. Hal ini nampaknya merujuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dipanggil dengan nama kunyah yaitu Abu Qasim atau ayah dari anak yang bernama Qasim. Pertanyaannya, apakah dengan menggunakan nama kunyah atau julukan ini merupakan suatu sunnah ataukah kebiasaan orang Arab saja?

Berikut penjelasan dari Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA.: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang sering dipanggil dengan sebutan Abu Qasim, Abu artinya ayah dan Qasim itu nama salah satu putra beliau. Beliau punya tiga orang putra: Ibrahim, Abdullah, dan Qasim. Memang ini tradisi masyarakat Arab dimana di masa Rasulullah banyak orang yang lebih terkenal panggilan kunyahnya ketimbang nama aslinya.

Di masa Nabi itu ada seorang yang sangat pintar di Negeri Arab namanya Hisyam. Orang tidak kenal dengan nama Hisyam tapi ketika disebut orang dengan nama kunyahnya Abu Hakam karena kepintarannya maka orang-orang pun tahu, tapi sayangnya Abu Hakam ini ternyata salah satu penentang utama Rasulullah, sering membuat perlawanan, menindas para sahabat, dan sebagainya. Rasulullah memberi gelar dia bukan Abu Hakam tapi kebalikannya Abu Jahal. Jahal itu artinya kebodohan.

Ada juga sahabat Nabi yang suka bermain-main dengan kucing. Kucing kemana-mana ikut  di tempatnya dia berada itu. Sebenarnya namanya adalah Abdurrahman tapi kemudian lebih dikenal sebagai Abu Hurairah atau bapaknya kucing maksudnya dia banyak bermain dengan kucing.

Jadi kata Abu atau ayah tidak selalu bermakna ayah secara biologis tapi apakah berbaju Arab, makan makanan Arab, lalu bergelar dengan kunyah itu masuk ke dalam struktur syariat Islam? Dimana kalau kita pakai kunyah lantas kemudian kita jadi berpahala?

Tentu jawabannya tidak demikian. Ini adalah tradisi dan budaya yang sah-sah saja kalau kita menirunya karena kita mencintai budaya itu kita pakai di negeri kita. Tradisi ini adalah tradisi yang baik dan tidak perlu kita tentang tapi tidak juga harus kita paksakan bahwa kalau mau Islami maka nama kita harus ada kunyahnya, tidak harus seperti itu juga karena Islam tidak masuk ke wilayah-wilayah yang seperti ini. Kalau kita mau memakainya silakan tapi kalau tidak pun juga tidak mengapa.