Apa Yang Harus Dibaca Dalam Shalat Jika Tidak Hapal Bacaannya?

Setiap muslim yang melaksanakan shalat, sejatinya melengkapi syarat dan rukunnya agar shalatnya sempurna, sah, dan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu bagaimana dengan orang yang melakukan ibadah shalat dengan tidak sempurna? Misalnya orang yang karena kelalaiannya meninggalkan shalat dalam waktu yang lama ketika bertaubat ia lupa bacaan-bacaan dalam shalat atau bisa jadi karena dia baru muallaf dan belum hapal bacaan-bacaan shalat, sementara untuk menghapalnya memerlukan waktu yang cukup lama. Apakah dalam kondisi demikian seseorang harus tetap melaksanakan shalat meski ia tidak hapal bacaannya? Apa yang harus dilakukan saat shalat?

Para ulama sepakat bahwa shalat hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang berakal dan baligh atau dewasa serta tidak berhalangan secara syariat seperti karena haid, nifas, dan gila. Oleh karenanya, selain tiga alasan tersebut maka shalat tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun dan dimanapun baik di darat, laut, maupun udara. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.” (QS. Al Baqarah: 43)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya dan jika buruk maka buruklah seluruh amalannya.” (HR. Ath Thabrani)
Namun yang sering menjadi permasalahan di kalangan awam adalah bagaimana jika tidak hapal bacaan shalat, apa yang harus dibaca dalam shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Dari Atha bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata,
“Pada setiap raka’at ada bacaannya, apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perdengarkan, keraskan bacaannya kepada kami maka kami pun akan perdengarkan kepada kalian dan apa yang beliau sembunyikan, tidak mengeraskan bacaan kepada kami maka kami pun tidak mengeraskannya kepada kalian. Jika kalian tidak tambah selain Al Fatihah maka itu sudah cukup namun bila kalian tambah setelahnya itu lebih baik.” (HR. Al Bukhari)
Berdasarkan kedua hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, mayoritas ulama berpendapat bahwa jika seseorang tidak tahu bacaan shalat atau belum hapal semuanya maka paling tidak dia harus membaca surah Al Fatihah dalam shalatnya karena menurut mereka membaca surah Al Fatihah termasuk rukun shalat dan penyempurna dari shalat. Akan tetapi, bagaimana jika surah Al Fatihah saja ia belum juga hapal, sedangkan Al Fatihah itu rukun shalat yang jika tidak dibaca maka shalatnya tidak sah?

Para ulama sepakat bahwa jika orang yang shalat belum hapal surah Al Fatihah maka ia dibolehkan membaca bagian mana saja yang termudah dari ayat-ayat Al Qur’an, namun jika tidak ada satupun ayat Al Qur’an yang dihapalnya maka hendaknya ia bertasbih mengucapkan “Subhanallah”, bertahmid mengucapkan “Alhamdulillah”, dan bertahlil mengucapkan “La ilaha illallah” Maka ini semua cukup baginya untuk menggantikan bacaan shalat dan Al Fatihah.

Dikatakan dalam sebuah hadits,
Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata “Saya tidak bisa membaca sedikitpun dari ayat Al Qur’an maka ajarkanlah saya sesuatu yang dapat mencukupinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Katakanlah: Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar wala haula wala quwata illa billah” (HR. Al Hakim dan An Nasa’i)
Menurut ulama kontemporer, wajib mengajarkan orang yang tidak bisa membaca Al Qur’an untuk hapal surah Al Fatihah. Jika waktunya sempit, maka ia boleh membaca ayat apa saja selain Al Fatihah yang ia bisa dari Al Qur’an. Berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Bacalah apa yang engkau bisa dari ayat Al Qur’an.”
Jika ia tidak memungkinkan membaca Al Qur’an, maka ia boleh bertasbih dengan mengucapkan,
"Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar wala haula wala quwata illa billah"
Jika hanya untuk bertasbih, bertahmid, dan bertahlil saja dalam shalat, seseorang tidak hapal maka cukup baginya untuk bertakbir pada setiap berganti gerakan dan bertasbih saja dengan mengucapkan “Subhanallah” yang dibaca sebanyak tiga kali setiap berganti gerakan shalatnya hingga akhirnya ia mengakhiri shalatnya dengan salam bersama imam. Dengan begitu, shalatnya sudah sah.

Adapun jika ia diam saja dalam keadaan bisa membaca “Subhanallah” tetapi tidak mengucapkannya maka shalatnya tidak sah, baik di saat shalat sendirian maupun berjama’ah. Karena ia telah dianggap meninggalkan tasbih dengan sengaja sedangkan tasbih kedudukannya menggantikan surah Al Fatihah dan bacaan shalat lainnya.

Lalu bagaimana jika orang yang tidak hapal bacaan shalat, ia shalat sendirian dan hanya melakukan gerakan saja. Apakah shalatnya sah?

Orang yang tidak hapal bacaan shalat hendaknya melaksanakan shalatnya secara berjama’ah dengan hanya mencukupkan bacaan takbir pada setiap berganti gerakan dan bertasbih setelah itu karena dengan shalat berjama’ah maka menurut sebagian ulama, bacaan Al Fatihah makmum sudah diwakili oleh bacaan Imam. Hal ini dalam shalat yang bacaannya di Jahr-kan atau dikeraskan.

Namun dalam hal shalat yang bacaannya di Sirr-kan atau tidak dikeraskan maka makmum wajib membaca Al Fatihah dan jika tidak hapal Al Fatihah maka dapat digantikan dengan bacaan tasbih, tahmid, dan tahlil.

Oleh karena itu, jika orang yang tidak hapal bacaan shalat, ia melaksanakan shalat sendirian tanpa membaca Al Fatihah atau ayat lain dari Al Qur’an atau tasbih dan hanya melakukan gerakan dan takbir saja maka menurut sebagian ulama shalatnya tidak sah.

Namun menurut sebagian ulama yang lainnya, shalatnya sah jika dilakukan berjama’ah meskipun hanya bertakbir pada setiap berganti gerakan shalat jika ia benar-benar tidak bisa bertasbih dan belum sempat belajar, misalnya jika baru pertama kali ia shalat setelah menjadi muallaf karena inilah yang sesuai dengan kemampuannya pada saat itu. Akan tetapi ia wajib belajar setelah itu dan secara bertahap mulai menghapal bacaan-bacaan shalat. Wallahu a’lam bishshawab.