Anjuran Menebarkan Salam Kepada Seluruh Kaum Muslim

Dalam Islam, semua umat muslim disyariatkan menebarkan salam. Bahkan untuk menjawab salam, hukumnya wajib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)
An Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam hadits ini terdapat anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin baik dikenal maupun tidak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya;
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa’: 86)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hak muslim pada muslim  yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan “Apa saja keenam hal itu?” Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda “(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat padanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah, doakanlah dia dengan mengucapkan “Yarhamukallah”; (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; (6) Dan apabila dia meninggal dunia, iringlah jenazahnya sampai ke pemakaman.” (HR. Muslim)
Lalu bagaimana dengan salam yang bernada marah dan kesal? Apakah tetap berpahala? Dan adakah kewajiban seseorang untuk membalas salam itu?

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa mengucapkan salam adalah sunnah yang disukai. Akan tetapi menurut madzhab Hanafi, memulai mengucapkan salam adalah wajib. Dengan demikian, mengucapkan salam apalagi ketika marah hukumnya tidak wajib. Hal ini didukung juga dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyuruh seseorang agar diam ketika ia marah dengan harapan marahnya dapat teratasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ajarilah, permudahlah, dan jangan mempersulit. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad)
Akan tetapi, menjawab salam hukumnya wajib meskipun dalam keadaan marah. Imam Nawawi mengatakan,
“Bila salam diucapkan untuk seorang muslim maka wajib atas dirinya untuk menjawab salam. Jika mereka satu rombongan maka menjawab salam atas mereka hukumnya fardhu kifayah.”
Artinya bila ada seorang diantara mereka yang menjawab salam maka yang lainnya tidak terbebani kewajiban untuk menjawab salam. Namun yang lebih utama adalah hendaknya setiap orang yang ada dalam rombongan tersebut memulai untuk memberi salam dan setiap diantara mereka menjawab salam. Wallahu a’lam.

Lalu bagaimana menjawab penggalan-penggalan salam atau salam yang tidak utuh?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa’: 86)
Ayat ini menegaskan kita dianjurkan untuk menjawab salam dengan yang lebih baik artinya ketika seseorang mengucapkan salam kepada kita dengan penggalan-penggalan salam maka kita jawab dengan yang lebih baik dan tidak lupa memberitahukan tentang keutamaan yang menyempurnakan bacaan salam dan tidak disingkat-singkat karena dikhawatirkan mengubah makna dan artinya.
Ada seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang berada di suatu majelis. Orang itu berkata “Assalaamu’alaikum.” Beliau pun bersabda “Dia mendapat sepuluh kebaikan.” Datang lagi seorang yang lain lalu berkata “Assalaamu’alaikum wa rahmatullah.” Beliau bersabda “Dia mendapat dua puluh kebaikan.” Ada seorang lagi yang datang lalu mengatakan “Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Beliau pun bersabda “Dia mendapat tiga puluh kebaikan.” Kemudian ada seseorang yang bangkit meninggalkan majelis tanpa mengucapkan salam maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan ”Betapa cepatnya teman kalian itu lupa. Jika salah seorang diantara kalian mendatangi suatu majelis, hendaknya dia mengucapkan salam. Bila ingin duduk, hendaknya dia duduk. Bila dia pergi meninggalkan majelis, hendaknya mengucapkan salam. Tidaklah salam yang pertama lebih utama daripada salam yang akhir.” (HR. Al Bukhari)