Uban Adalah Cahaya Di Hari Kiamat

Uban bagi sebagian orang menjadi masalah karena warna dan sifatnya yang mengganggu. Banyak yang merasa bahwa uban membuat penampilan menjadi kurang segar dan rapi, apalagi jika uban tumbuh di usia muda.

Uban juga menjadi penyebab rasa gatal yang amat sangat di daerah kepala sehingga ingin dihilangkan dengan segera. Namun begitu, tumbuhnya uban sebenarnya merupakan fase alami yang dialami oleh manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah Kuat itu lemah (kembali) dan beruban. dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)
Akan tetapi banyak orang yang tidak mau kelihatan tua sehingga rambutnya mulai memutih, ditutupi dengan berbagai cara. Ada yang menyemirnya dengan warna hitam, ada pula yang mencabutnya padahal mencabut uban merupakan perbuatan yang dilarang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengisyaratkan hal ini dengan sabdanya:
“Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat. Siapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam dia muslim maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR. Ahmad dan lafalnya dari Abu Dawud)
Lalu apakah larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencabut uban ini berarti haram? Menurut beberapa ulama larangan ini tidak sampai pada derajat haram tapi makruh, lalu apa rahasia larangan mencabut uban ini?

Larangan mencabut uban ternyata memiliki hikmah yang luar biasa, yang baru diketahui akhir-akhir ini. Menurut penelitian, mencabut uban bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan, bisa membuat kerusakan pada folikel rambut dan syaraf sekitar rambut dan juga menyebabkan infeksi pada bekas cabutan, apalagi jika uban yang dicabut dalam jumlah tidak sedikit dan waktunya relatif sering.

Pencabutan uban ini juga mengakibatkan pertumbuhan rambut akan terganggu, kebiasaan ini juga pada akhirnya akan mengganggu sinyal syaraf yang memproduksi warna rambut hingga pertumbuhan dan warna rambut akan terganggu, bisa jadi jumlah rambut akan berkurang dan uban tetap jumlahnya.

Selain itu, yang perlu diperhatikan tumbuhnya uban sebenarnya menyimpan kedahsyatan yang banyak tak disadari. Uban mengingatkan seseorang akan dekatnya ajal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS. Faathir: 37)
Lalu apa yang dimaksud dengan pemberi peringatan dalam ayat ini?

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan dalam kita tafsirnya bahwa para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Ibnu ‘Uyainah, dan yang lainnya menjelaskan bahwa maksud sang pemberi peringatan dalam ayat ini adalah uban. Karena lumrahnya uban yang muncul di usia senja, jadilah uban itu sebagai pengingat manusia bahwa ia berada di penghujung kehidupan dunia. Menanti tamu yang pasti datang dan tak disangka-sangka. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Umur umatku diantara enam puluh ke tujuh puluh tahun dan tidak banyak yang melebihi daripada itu.” (HR. Imam At Tirmidzi)
Uban menjadikan seseorang tidak lagi rakus terhadap dunia, munculnya uban membuat seseorang sadar bahwa keberadaannya di dunia ini tidaklah selamanya, hanya sebentar bila dibandingkan dengan kehidupan selanjutnya yaitu Alam Akhirat yang satu hari disana sama dengan 50.000 tahun di dunia, angan-angan kosongnya pun pupus, ketamakannya terhadap kemilau harta mulai berkurang, ia lebih disibukkan oleh hal-hal yang pasti. Hari-harinya menjadi produktif untuk mempersiapkan bekal akhirat.

Sufyan Ats Tsauri berkata bahwa zuhud terhadap dunia akan memutuskan angan-angan kosong. Ia tak akan lagi berlebihan dalam hal makanan dan pakaian. Kedahsyatan uban yang justru bisa dibanggakan adalah uban akan menjadi cahaya di hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah mencabut uban, tidaklah seorang muslim yang memiliki sehelai uban melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya di hari kiamat nanti.” (HR. Abu Dawud)
Dalam riwayat lain disebutkan,
“Sesungguhnya uban itu cahaya bagi orang-orang mukmin.”
Ka’ab bin Murrah radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang beruban dalam Islam maka dia akan mendapatkan cahaya di hari kiamat”.” (HR. Tirmidzi)
Oleh karena itu, orang yang mencabut ubannya, ia akan kehilangan cahaya di hari kiamat. Begitu dahsyatnya uban maka wajar jika kemuliaan agama melarang kita mencabutnya. Lalu bagaimana jika ingin mewarnai uban?

Diantara kedahsyatan tumbuhnya uban adalah akan memancarkan sikap tabah dan wibawa, sehingga orang yang telah ditumbuhi uban, sikapnya tenang ketika berbicara, berbuat, serta bermuamalah dengan orang lain. Oleh karena itu, Islam memerintahkan kepada kita untuk menghormati orang-orang yang sudah tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya termasuk dari pengagungan kepada Allah ialah menghormati orang muslim yang sudah beruban (orang tua).” (Abu Dawud)
Dalam riwayat lain dijelaskan dari Sa’id bin Musayyib beliau berkata,
“Ibrahim adalah orang pertama yang menjamu tamu, orang pertama yang berkhitan, orang pertama yang memotong kumis, dan orang pertama yang melihat uban lalu berkata “Apakah ini wahai Tuhanku?” Maka Allah berfirman “Kewibawaanmu wahai Ibrahim” Ibrahim berkata “Wahai Tuhanku, tambahkan aku kewibawaanku itu”.” (HR. Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan Imam Malik dalam Al Muwatta)
Berangkat dari kedahsyatan uban inilah kemudian Jumhur atau mayoritas ulama menyimpulkan bahwa hukum mencabut uban adalah makruh. Bahkan Imam Al Baghawi menyatakan seandainya mau dikatakan haram karena adanya larangan yang tegas mengenai hal ini maka ini tidak mustahil, tidak ada bedanya antara mencabut uban pada rambut kepala maupun jenggot.

Jika mencabut uban dilarang, lalu bagaimana pula dengan menyemir agar ubannya tidak tampak?

Dalam hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk menyemir uban dengan warna hitam dalam sabdanya:
“Di akhir zaman nanti akan ada sekelompok orang yang menyemir rambutnya dengan warna hitam bagaikan tembolok burung dara. Mereka tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Dawud)
Bahkan Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki mengkategorikan hal ini sebagai dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa menyemir uban dengan warna hitam maka Allah akan menghitamkan wajahnya pada hari kiamat nanti.” (HR. Thabrani)
Imam Mujahid seorang tabi’in menegaskan,
“Di akhir zaman nanti akan ada sekelompok orang yang menyemir rambutnya dengan warna hitam, Allah tidak akan memandang mereka atau tidak ada bagian dari akhirat untuk mereka.” (HR. Abdur Razaq)
Akan tetapi Ibnu Syihab Az Zuhri seorang ulama tabi’in memberikan pengecualian, menyemir uban dengan warna hitam itu boleh jika wajah masih tampak muda. Itu sebabnya sebagian ulama menyebutkan menyemir uban bagi orang yang masih muda tidaklah berdosa. Wallahu a’lam.