Tata Cara Berwudhu Menurut Syariat Agama Islam

Wudhu merupakan salah satu prosesi bersuci untuk menghilangkan hadats kecil. Pada setiap basuhan anggota tubuh dalam wudhu, kita dianjurkan untuk berdoa dan berdzikir dengan khidmat disertai dengan niat membersihkannya dari hadats kecil. Lalu bagaimana jika ada orang yang mengajak berbicara ketika kita sedang berwudhu? Apakah hal tersebut dapat merusak dan membatalkan wudhu?

Menurut mayoritas ulama dari madzhab Syafi’i, Hanafi, dan Hambali, berbicara ketika berwudhu hukumnya kurang utama artinya lebih diutamakan diam. Dalam kitab Kasyaful Qina’ Al Buhuti dari kalangan ulama Hambali menerangkan bahwa tidak dianjurkan untuk berbicara ketika berwudhu bahkan dimakruhkan, maksudnya dimakruhkan berbicara yang isinya bukan dzikir kepada Allah. Makna makruh dalam masalah ini adalah kurang afdhal.

Dalam sebuah fatwa disebutkan tidak ada satupun ulama yang mengharamkan berbicara ketika berwudhu. Oleh karena itu, berbicara pada saat wudhu dibolehkan, hanya saja hukumnya makruh dan kurang utama. Lalu bagaimana dengan penggunaan airnya? Mengingat sebagian wilayah Indonesia, air begitu melimpah sehingga penggunaan air untuk berwudhu lebih tampak berlebihan.

Dalam hal berwudhu, para ulama juga memberikan catatan tersendiri khususnya dalam menggunakan air. Jika berlebihan dalam menggunakan air, para ulama menghukuminya makruh. Meskipun wudhu itu dilakukan di sungai yang mengalir dan airnya berlimpah.

Dalam sebuah hadits diceritakan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati Sa’ad yang sedang berwudhu, lalu beliau menegurnya “Jangan berlebihan menggunakan air” Sa’ad bertanya “Apakah ada berlebihan dalam masalah wudhu?” Rasulullah menjawab “Iya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ibnu Majah)
Bahkan dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud air saja atau setara dengan dua telapak tangannya laki-laki sedang, sedangkan beliau mandi menggunakan air satu sha atau setara dengan empat mud.

Menurut ulama kontemporer, takaran satu mud kurang lebih setara dengan 680 mililiter air. Dengan kata lain, jumlah ini tidak jauh dengan takaran air minum botolan yang berisi 600 mililiter. Air dalam jumlah inilah yang biasa digunakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berwudhu, sedangkan untuk mandi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan satu sha air atau sekitar 2,75 liter.

Lihatlah! Betapa iritnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menggunakan air untuk bersuci. Dengan demikian, ketika berwudhu hendaknya kita tidak membuka aliran air kran dengan penuh karena itu hanya membuang-buang air. Cukup alirkan air sesuai kebutuhan dan gunakan air secukupnya untuk berwudhu sekalipun air melimpah.

Kadangkala ketika berwudhu, kita menemui beberapa orang yang membasuh leher hingga basah kuyup seperti orang yang habis mandi. Barangkali karena merasa kepanasan, maka dengan membasuhnya bisa mendinginkan tubuh. Apakah yang demikian itu juga terbilang berlebihan dalam menggunakan air wudhu?

Dalam hal ini, para ulama menyatakan membasuh leher merupakan salah satu tindakan yang makruh dilakukan dalam berwudhu. Mereka memandang membasuh leher bukan bagian dari ritual wudhu sehingga tindakan ini disebut ghuluw atau melebih-lebihkan dalam agama. Barangkali ini pula hikmah membasuh anggota tubuh maksimal tiga kali. Jika lebih dari tiga kali, para ulama menghukuminya makruh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa melebihkannya lebih dari tiga kali maka dia telah berbuat tidak baik dan zalim.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Mungkin banyak orang yang bertanya, bagaimana mungkin kita bisa berwudhu dengan hanya menggunakan air satu mud atau sebanyak satu gelas air kemasan?

Sebenarnya tidaklah sulit untuk mempraktekkannya, jika kita juga mengacu dari cara berwudhunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  1. Basuhlah tangan tiga kali dengan menyela-nyela jari.
  2. Mengambil air dengan satu tangan lalu berkumur sekaligus istinsyaq atau menghirupkan air ke dalam hidung.
  3. Membasuh muka tiga kali.
  4. Mencuci tangan tiga kali.
  5. Membasuh rambut dan telinga langsung cukup sekali saja.
  6. Membasuh kedua kaki tiga kali sambil menyela-nyela jari kaki.
Semua itu cukup dengan satu mud atau satu gelas air kemasan.

Sebagian besar umat muslim setelah berwudhu biasanya mengelap air wudhunya agar kering, tapi sebagian orang tidak mau mengelapnya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan bahwa air wudhu merupakan cahaya di hari kiamat, maka sayang bila harus dikeringkan. Apakah yang demikian ini, memang diatur dalam syariat bersuci?

Karena keutamaan air wudhu, ulama Syafi’i dan Hambali menghukuminya makruh apabila air wudhu cepat-cepat dikeringkan. Pendapat ini didasari oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sungguh umatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya, maka siapa yang mampu memperpanjang sinarnya maka lakukanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Madzhab Hambali bahkan menyatakan meninggalkan bekas sisa air wudhu di tubuh merupakan suatu keutamaan. Akan tetapi, madzhab Hanafi memandang menyeka atau mengeringkan bekas air wudhu hukumnya sunnah berlandaskan hadits riwayat Ibnu Majah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu kemudian beliau membalik jubahnya dan mengusapkannya pada wajahnya.

Lalu bagaimana berwudhu di toilet? Karena toilet itu tempat yang kotor, bahkan merupakan tempat yang dilarang menyebut asma Allah.

Dalam hal ini para ulama memakruhkan berwudhu di tempat yang bernajis seperti di kamar mandi dan WC. Karena dikhawatirkan ada najis yang mengenainya, sedangkan wudhu tujuannya adalah untuk bersuci menghilangkan najis. Maka apabila seseorang terpaksa berwudhu di kamar mandi, harus dipastikan tidak ada najis yang dapat mengenainya. Namun perlu diingat, berwudhu di kamar mandi tidak boleh dengan melafalkan asma Allah, dzikir, dan juga doa. Sebab melafalkan nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh.

Seperti yang dituturkan Imam Nawawi radhiyallahu ‘anhu bahwa jika orang yang di dalam WC ini bersin, maka tidak boleh membaca Hamdallah, tidak pula mendoakan orang yang bersin, tidak menjawab salam, serta tidak menjawab adzan. Bahkan orang yang memberi salam kepada orang yang berada di WC dianggap bertindak ceroboh sehingga tidak berhak dijawab. Oleh karena itu, jika seseorang berwudhu di kamar mandi, cukup berdzikir dan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala dalam hati saja. Wallahu a’lam.