Shalat Jum’at Di Masjid Yang Berdekatan Dengan Masjid Lainnya

Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Shalat Jum’at biasanya dilakukan di dalam satu masjid besar sehingga masjid-masjid kecil itu dikosongkan. Karena pada dasarnya, Shalat Jum’at adalah shalat yang dilakukan oleh gabungan jama’ah. Namun yang terjadi sekarang ini, banyak sekali masjid yang melakukan Shalat Jum’at padahal jarak antar masjid berdekatan. Bagaimana sebenarnya Islam mengatur syariat ini?

Berikut penuturan dari Ust. Ahmad Sarwat, Lc, MA.: Memang ini adalah bagian dari perkembangan zaman yang boleh jadi di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di masa para ulama terdahulu belum terantisipasi karena kalau kita boleh melakukan kilas balik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejarah Shalat Jum’at itu memang adalah shalat yang merupakan gabungan.

Kata Jum’at itu salah satu maknanya adalah gabungan, maksudnya adalah gabungan dari jama’ah dari sekian banyak masjid di Madinah di masa Rasulullah artinya kalau shalat Jum’at maka tidak boleh ada jama’ah yang melakukan Shalat Jum’at sendiri-sendiri di masing-masing masjidnya. Semua jama’ah di masing-masing masjid itu harus bergerak ke pusat Kota Madinah yaitu ke Masjid Nabawi. Karena ini adalah shalat dimana kita bersama-sama melaksanakannya dalam satu jama’ah.

Maka dari situlah kemudian nanti para ulama mengambil kesimpulan bahwa Shalat Jum’at itu beda dengan Shalat Lima Waktu, makanya kemudian masjidnya pun kadang-kadang disebut dengan istilah Al Jami’ atau masjid yang menggabungkan dari semua masjid, maksudnya menggabungkan jama’ahnya. Sehingga pada hari Jum’at, ketentuan yang kalau kita baca dalam kitab-kitab fiqih itu adalah tidak boleh ada masjid-masjid yang saling berdekatan lalu mereka melaksanakan Shalat Jum’at sendiri-sendiri di masa lalu, tetapi ketika kita masuk di zaman modern khususnya di kota-kota besar dimana masjid itu tidak bisa menampung orang satu kota, satu kecamatan, bahkan satu gedung itu tidak bisa ditampung dalam satu masjid. Maka terpaksa harus ditampung dalam beberapa masjid yang berbeda.

Pilihannya adalah mau Shalat Jum’at tapi di tempat yang berbeda-beda atau sama sekali tidak melaksanakan shalat Jum’at maka pilihannya adalah terpaksanya harus melaksanakan shalat Jum’at di beberapa masjid yang berbeda-beda walaupun berjauhan. Tapi yang pasti masjid di tempat yang satu ini penuh sudah tidak muat, masjid sampingnya penuh, yang lainnya penuh semuanya penuh maka silakan melaksanakan Shalat Jum’at dengan masjid yang berdekatan tapi semuanya penuh.

Sebutlah misalnya ada kasus dimana jatuh hari jum’at itu tanggal merah, sehingga pekerja-pekerja libur maka masjid-masjid di perkantoran, di tempat-tempat yang biasanya dipadati oleh jama’ah menjadi sangat sedikit, pada saat itu harus terjadi kembali seperti semula, masjid yang lebih besar menampung jama’ah dari masjid-masjid yang kecil dan masing-masing masjid yang kecil itu libur semuanya dikumpulkan ke masjid yang lebih besar dalam kondisi dimana jama’ahnya bisa ditampung dalam satu masjid yang besar, tampunglah dalam masjid yang besar maka yang lain harus libur.

Tetapi ketika jama’ahnya terlalu banyak, melebihi kapasitas, dan sebagainya sehingga masjid-masjid kecil pun semuanya sudah terpenuhi kuotanya, maka tidak mengapa kemudian daripada tidak ikut Shalat Jum’at maka silakan Shalat Jum’at di masjid manapun walaupun itu satu dengan yang lain berdekatan karena  kondisinya sudah berubah di masa lalu dengan masa sekarang.

Akhirnya jawabannya adalah silakan masing-masing masjid menjalankan juga Shalat Jum’at sendiri-sendiri asalkan memang jama’ahnya penuh dan masing-masing tidak bisa menampungnya.