Ruh Rasulullah Dikembalikan Setiap Kali Umatnya Bershalawat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap ada orang yang mengucapkan salam kepadaku, Allah akan mengembalikan ruhku hingga aku membalas salamnya.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini derajatnya shahih tetapi redaksi hadits ini menimbulkan banyak tanya bagaimana mungkin ruh Nabi dikembalikan padahal beliau hidup di alam kubur?

Jika ruh Nabi dikembalikan setiap kali ada umatnya yang mengucapkan shalawat, Bukankah dengan demikian, Nabi akan mengalami hidup dan mati secara terus menerus? Karena ruh Nabi akan bolak-balik, keluar masuk tubuh beliau karena orang yang menyampaikan shalawat kepadanya tidak pernah berhenti, karena boleh jadi dalam satu waktu ada jutaan umatnya yang mengucapkan salam kepada beliau.

Para ulama terdahulu sudah mencoba untuk memberikan jawaban terkait dengan permasalahan ini. Yang dimaksud dengan ruh disini adalah seorang malaikat, karena seorang malaikat ada kalanya disebut ruh dalam Al Qur’an. Dengan demikian, tafsiran ini sejalan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan adanya malaikat-malaikat yang terus menerus berkeliling di bumi untuk menyampaikan salam kepada beliau.

Ada juga tafsiran lain yang menyatakan bahwa maksud dikembalikannya ruh beliau adalah membangunkannya dan mengingatkannya hingga tenggelam dalam ibadah kepada Allah. Artinya dikuburnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tenggelam dalam ibadah seperti terjadi pada diri Nabi Musa ‘alaihi salam yang pernah dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melakukan shalat di dalam kuburnya.

Dari sini tampaknya para ulama tidak ada kesepakatan dalam memahami hadits kembalinya ruh Nabi saat diucapkan shalawat kepadanya. Dari sini sebaiknya kita memahami perkara ini sesuai dengan makna lahir hadits sembari meyakini bahwa itu adalah kehidupan Barzah yang berbeda dengan kehidupan dunia.

Pendapat para ulama kontemporer dalam memaknai hadits ini, menarik untuk disimak bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dalam kuburnya dengan bentuk kehidupan yang sesuai dengan alam Barzah. Disana beliau memperoleh berbagai kenikmatan hidup yang dianugerahkan oleh Allah sebagai balasan atas kerja-kerja besar dan baik yang beliau lakukan semasa masih di dunia.

Ruh itu tidak dikembalikan ke jasad Nabi agar beliau bisa hidup kembali seperti ketika masih di dunia ini atau agar beliau menjalani kehidupan akhirat. Kehidupan yang beliau jalani itu adalah kehidupan alam Barzah, pertengahan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Dengan demikian, beliau sebenarnya telah wafat dari kehidupan dunia ini seperti nabi-nabi dan orang-orang terdahulu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiyaa’: 34)
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahmaan: 26-27)
“Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. Az Zumar: 30)