Ragam Cara Penafsiran Al Qur’an

Al Qur’anul Karim adalah mukjizat yang salah satu wujudnya ada pada kandungannya dimana setiap saat selalu ada ilmu baru yang lahir dari Al Qur’an. Kita patut berterima kasih kepada para ahli tafsir sehingga kita mampu menggali lebih banyak makna yang terkandung dalam Al Qur’an karena memang menafsirkan Al Qur’an bukanlah perkara mudah.

Berbicara tentang karakteristik dan corak sebuah tafsir, para ulama membuat pemetaan dan kategorisasi yang berbeda-beda. Ada yang menyusun bentuk pemetaannya dengan tiga arah yakni:

  1. Metode, misalnya metode ayat antar ayat, ayat dengan hadits, dan ayat dengan kisah Israiliyat.
  2. Teknik penyajian, misalnya teknik runut dan topikal.
  3. Pendekatan, misalnya fiqih, falsafi, sufi dan lain-lain.

Secara garis besar, cara-cara penafsiran antara lain:

Tafsir Tahlili 

Tafsir Tahlili merupakan cara mengkaji ayat-ayat Al Qur’an dari segala segi dan maknanya. Ayat demi ayat, surah demi surah, sesuai dengan urutan dalam mushaf Utsmani. Metode ini mengkaji seluruh kosakata dan lafadz untuk menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat.

Selain itu, metode ini juga menjelaskan apa yang dapat diistinbathkan atau disimpulkan dalam ayat serta mengemukakan kaitan antara ayat-ayat dan relevansinya dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Karena itu, Tafsir Tahlili merujuk kepada sebab-sebab turunnya ayat, hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan riwayat dari para sahabat serta tabi’in.

Tafsir Ijmali

Tafsir Ijmali merupakan penafsiran Al Qur’an secara singkat dan global, tanpa uraian panjang lebar. Mufassir atau ahli tafsir menjelaskan arti dan makna ayat dengan uraian singkat yang dapat menjelaskan sebatas arti tanpa menyinggung hal-hal lain diluar konteks ayat yang ditafsirkan. Hal ini dilakukan ayat demi ayat dan surah demi surah sesuai aturan mushaf dalam kerangka uraian yang mudah dengan bahasa dan cara yang dapat dipahami semua orang.

Kadangkala mufassir menafsirkan Al Qur’an dengan lafadz Al Qur’an sehingga pembaca merasa bahwa uraian tafsirnya tidak jauh dari konteks Al Qur’an. Kadangkala pada ayat tertentu, metode ini menunjukkan sebab turunnya ayat, peristiwa yang dapat menjelaskan arti ayat, mengemukakan hadits Rasulullah atau pendapat ulama yang shalih.

Tafsir Muqaran

Tafsir Muqaran merupakan metode yang ditempuh seseorang mufassir dengan cara mengambil sejumlah ayat Al Qur’an kemudian mengemukakan penafsiran para ulama terhadap ayat-ayat itu lalu mengungkapkan pendapat mereka serta membandingkan segala aspek yang mempengaruhi masing-masing tafsiran.

Dari metode ini bisa diketahui adanya ragam corak penafsiran yang ditentukan oleh disiplin ilmu yang dikuasai para mufassir seperti ada diantara mereka yang menitikberatkan kepada bidang segi-segi perubahan kalimat seperti Imam Al Zarkasyi lalu ada yang corak penafsirannya ditentukan oleh kecenderungannya kepada bidang kehebatan berbahasa seperti Abd al-Qahhar al-Jurjani dalam kitab tafsirannya I’jaz Al Qur’an dan Abu 'Ubaidah Mu'ammar bin Al-Mutsanna dalam kitab tafsirnya Al Majaaz.

Seorang mufassir dengan metode Muqaran dituntut mampu menganalisis pendapat para ulama tafsir yang ia temukan lalu harus mengambil sikap menerima penafsiran yang dinilai benar dan menolak penafsiran yang tidak dapat diterima. Kemudian menjelaskan kepada pembaca alasan dari sikap yang diambilnya tersebut.

Tafsir Maudhu’i

Tafsir Maudhu’i yaitu metode yang ditempuh seorang mufassir dengan cara menghimpun seluruh ayat-ayat Al Qur’an yang berbicara tentang suatu masalah atau tema serta mengarah kepada suatu pengertian dan/atau tujuan. Hal itu dilakukan sekalipun ayat-ayat yang berkaitan tersebut memiliki perbedaan dalam cara diturunkannya kepada Rasulullah, berbeda lokasi dimana ayat tersebut diturunkan dan berada pada posisi berjauhan di dalam Al Qur’an.

Para mufassir yang menggunakan metode ini menentukan ayat-ayat sesuai dengan masa turunnya, mengemukakan sebab turunnya sepanjang hal itu dimungkinkan serta menguraikan dengan sempurna makna dan tujuannya.

Selain itu, para mufassir juga mengkaji seluruh segi dan apa yang dapat diistinbathkan dari ayat tersebut seperti dari segi unsur-unsur kemukjizatannya dan lain-lain. Hal ini bertujuan supaya satu tema dapat dipecahkan secara tuntas berdasarkan seluruh ayat Al Qur’an itu dan oleh karenanya tidak diperlukan ayat-ayat lain.

Tiap ayat Al Qur’an memang bisa melahirkan ilmu yang berbeda-beda tergantung siapa yang mencoba menggalinya, para ahli tafsir sendiri sesungguhnya punya latar belakang pendekatan yang bervariasi ketika menggali ayat-ayatnya karena itu perbedaan yang mungkin muncul dari penafsiran bukan suatu masalah yang perlu dibesar-besarkan atau untuk menyalahkan.

Jangankan orang biasa atau para ulama bahkan para sahabat ridwanullahi ‘alaihim pun seringkali berbeda pendapat. Jadikan perbedaan yang muncul sebagai ragam ilmu yang bisa diambil manfaatnya bukan sebagai sumber masalah yang bisa memecah belah. Semoga yang kami paparkan bisa memberikan manfaat serta tambahan ilmu. Aamiin.