Perisai Yang Membentengi Diri Dari Siksa Api Neraka

Surga dan neraka menjadi janji Allah subhanahu wa ta’ala kepada umatnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah jelas memperingatkan semua manusia, seluruh umat muslim akan kepedihan siksa neraka dan sebaliknya bagi manusia yang mencari keridhoan Allah akan mendapatkan kesenangan sempurna.

“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,”
(QS. Al Lail: 14-18)
Kalau saja panas dunia dapat kita rasakan sangat menyengat, lalu bagaimana dengan panas neraka? Kita yang panas di dunia hanya beberapa derajat saja langsung cepat-cepat mencari tempat berteduh, bagaimana dengan panas neraka yang harusnya lebih menjadikan satu yang kita fokuskan dan usahakan agar kita bisa terhindar dari siksa neraka yang luar biasa itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al Furqaan: 66)
Kalau kita lihat dari sisi panasnya saja sudah luar biasa. Ada bara api neraka saja, kita injak maka otak kita meleleh. Ketika kita sudah disiksa dan dihancurkan oleh api tersebut, Allah sampaikan diganti kulitnya untuk dapat merasakan azab itu agar lebih pedih lagi, sebagaimana firman Allah ta’alai:
“Kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka. setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab.” (QS. An Nisaa’: 56)
Tentunya untuk terhindar dari api neraka itu harus ada upaya dari kita seperti mencari tempat berteduh untuk menghindarkan dirinya dari sengatan panas matahari, begitu pun dengan panasnya neraka harus kita hindari dengan upaya/aksi. Ada beberapa amalan yang akan menjadi perisai kita dari siksa neraka.
  1. Seperti apa yang disampaikan oleh sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah berada di belakang Nabi membonceng, lalu tiba-tiba di tengah perjalanan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Muadz “Ya Muadz, apakah engkau tahu hak Allah terhadap hamba-Nya?” dengan adab sahabat Muadz menjawab “Tidak tahu, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah mengatakan “Salah satu hak Allah yang Allah tetapkan kepadanya adalah untuk beribadah dan jangan menyekutukannya. Lalu apa yang akan didapatkan oleh seorang hamba ketika dia mampu mengerjakan itu semua? Allah tidak akan mengazab mereka.” Artinya Allah tidak akan memasukkan mereka ke dalam neraka. Salah satu perisai yang kita miliki ini adalah mampu untuk menjaga diri kita agar senantiasa dalam lingkaran Tauhid, Esakan Allah, ketika hanya beribadah kepada Allah meyakini bahwa Allahlah yang menciptakan segala alam jagat raya ini dan mengaturnya, jangan sekutukan Allah dengan yang lain, jangan sembah selain Allah, jangan meminta dari selain Allah karena ketika kita mampu menguatkan tauhid dalam hati kita maka kita sudah membentengi diri kita dari siksa neraka.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan “Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktunya, dia jaga wudhunya, dia jaga tepat waktu, dia jaga khusyu’ ruku’ dan sujudnya, dan dia yakin bahwa itu merupakan kebenaran perintah yang Allah berikan kepadanya. Maka dia akan diharamkan dari api neraka.” Jangan dikira shalat lima waktu ini biasa-biasa saja, dia yang akan menjadi perisai kita dari siksa neraka maka jangan sampai kita membolongi benteng kita, menghancurkan perisai kita dengan meninggalkan shalat atau shalat tidak tepat pada waktunya.
Mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala, mendapatkan cinta kasih Allah subhanahu wa ta’ala seharusnya menjadi tujuan hidup manusia. Inilah sebuah pencapaian tertinggi dalam misi spiritual lewat ibadah-ibadahnya dan semua harus dilakukan dengan ikhlas dengan mendapatkan ridha Allah kita terhindar dari siksa neraka. Sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril lalu berfirman “Aku sungguh mencintai si Fulan, cintailah ia.” Maka ia pun dicintai seluruh penghuni langit kemudian diterima di bumi. Sebaliknya jika Allah membenci seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril lalu berfirman “Aku sungguh membenci  si Fulan, bencilah ia.” Jibril pun membencinya dan berseru kepada penduduk langit ”Sungguh Allah membenci si Fulan, maka bencilah ia.” Lalu ia pun dibenci penghuni langit kemudian ia mendapatkan kebencian di bumi.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)
Ada juga yang bisa menjadi perisai kita dari siksa api neraka sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menjaga empat rakaat sebelum Dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka dia akan menjadi perisai bagi dirinya dari api neraka. Jadi Insya Allah empat rakaat (2 rakaat, 2 rakaat) sebelum Shalat Dzuhur dan empat rakaat setelah Shalat Dzuhur (2 rakaat, 2 rakaat) akan menjadi perisai dari siksa api neraka.

Perintah untuk selalu istiqamah di jalan Allah pernah pula dirasakan sebagai perintah yang sangat berat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan karena beliau tidak bisa istiqamah melainkan Rasulullah khawatir bila umatnya tidak bisa istiqamah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Maka tetaplah kamu (Muhammad) pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 112)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi tauladan sempurna bagi seluruh umat manusia untuk semua umat muslim di dunia. Akhlaknya, budi pekertinya, dan semua keistimewaan yang dimiliki Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menjadi manusia-manusia yang selalu istiqamah, memerlukan usaha dan kesabaran ekstra dari tiap-tiap pribadi muslim.

Allah subhanahu wa ta’ala pun menjanjikan surga bagi orang-orang yang selalu istiqamah di jalan Allah. Istiqamah dengan akhlak yang baik akan menjadi perisai neraka dan dijanjikan kenikmatan surga Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu".” (QS. Fushshilat: 30)
Dahulu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengorbankan segala apa yang mereka miliki sampai nyawanya dikorbankan hanya untuk satu tujuan, bukan untuk mendapatkan jabatan dunia dan bukan untuk mendapatkan tanda jasa, tapi berjuang untuk mendapatkan kemuliaan (dibentengi dirinya dari neraka).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan “Barangsiapa yang kakinya berdebu, berjuang di jalan Allah, apa yang dia dapatkan adalah Allah akan haramkan bagi dirinya neraka.” Artinya jihad mampu menjadi salah satu perisai yang melindungi kita dari api neraka dan itulah yang dicita-citakan oleh seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana mampu syahid berjuang di jalan Allah sehingga surga bisa didapatkan, dijauhkan dari neraka.

Jihad juga bisa ditambahkan dengan makna yang lain berjihad membela agama Allah, memberantas kebodohan yang berkaitan dengan masalah agama, berdakwah, membantu sahabat-sahabat kita yang berdakwah. Mudah-mudahan ini masuk dari bagian jihad yang itu mampu memberikan perisai juga bagi diri kita dari api neraka.

Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan kepada kita bahwa sifat sahabat itu luar biasa akhlaknya. Akhlak ini juga mampu melindungi mereka dari siksa neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap orang itu yang mudah dekat dengan yang lain, yang hatinya lembut, yang sering memudahka, ternyata ini mampu membuat orang itu tercegah dari siksa api neraka, bisa memberikan perisai tersendiri.

Ini juga mudah-mudahan bagian daripada yang bisa untuk kita jadikan sebagai motivasi bagaimana akhlak kita ini harus menjadi perisai kita dari siksa neraka bukan perilaku kita yang menjerumuskan kita kepada siksa neraka karena Allah berikan kepada kita kesempatan untuk bermuamalah kepada yang lain, untuk menghiasi akhlak, maka jadikan akhlak ini sebagai perisai. Jangan sampai dengan apa yang ada pada kita, perilaku kita ini menyakiti orang, menzalimi orang, yang itu akhirnya menjebloskan kita ke neraka.

Neraka dan surga adalah sebuah keniscayaan dari Allah. Hal ini banyak dijelaskan dalam Al Qur’an yang menjadi pedoman bagi manusia. Pedoman ini juga menunjukkan bagaimana terhindar dari siksa api neraka.

Menjadi manusia ahli sedekah atau ahli infaq menjadi salah satu jalan dari pintu surga dan terhindar dari siksa api neraka. Allah subhanahu wa ta’ala juga telah menjelaskan bagaimana peruntukkan ibadah ini bila manusia menjalankannya, sebagaimana firman-Nya yang artinya:
“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah: 215)
Ketika kita berbicara tentang ‘berteduh’ ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga yang menyampaikan kepada kita berkaitan dengan bagaimana kita mampu menjaga diri dari siksa neraka. Amal apa yang menjadi perisai kita dari siksa neraka. Saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada para sahabatnya perihal tentang kondisi manusia nanti ketika berada di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala bahwa Allah akan berbicara kepada dirinya tanpa ada penterjemah, antara Allah dan makhluk-Nya lalu dihadapkan kanannya amal, kirinya amalnya, dan di hadapannya neraka.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan keadaan yang seperti itu beliau menyampaikan satu pesan “Hendaknya kalian itu menjauhkan diri dari api neraka, membentengi diri dari api neraka walaupun hanya dengan sebelah kurma.” Sebelah kurma ini untuk disedekahkan kepada mereka-mereka yang membutuhkan kebaikan dari kita. Jadi dari sini kita bisa mendapat satu ilmu yang disampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa kita jadikan sebagai perisai kita dari siksa api neraka yakni bersedekah dengan harta yang kita miliki. Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya sekedar meminta banyaknya dari kita tetapi bagaimana kita mampu ikhlas dan berkualitas di saat kita bersedekah karena sedekah kita, setiap rupiah yang kita keluarkan, itu yang akan menjadi tameng kita dari siksa api neraka dan ketahuilah bahwa sedekah terbaik adalah kepada kedua orang tua.

Berkaitan dengan orang tua, bakti kepada kedua orang tua ini merupakan bagian dari perisai dari api neraka juga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ketika bersama dengan para sahabtnya lalu beliau tiba-tiba mengucap “Celaka, celaka, celaka.” Sahabat bingung kenapa Nabi mengucapkan kalimat ini sampai tiga kali, lalu sahabat bertanya “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan “Barangsiapa yang menjumpai orang tuanya dua-duanya atau salah satu diantaranya sampai pada usia senja tapi dia tidak mampu masuk ke dalam surga.” Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan celaka orang yang seperti itu karena orang tua ini adalah salah satu aset yang luar biasa dijadikan sebagai sarana bagi dirinya ketika dia beramal untuk dijauhkan dari api neraka.

Maka dari itu, kalau kita mampu menggabungkan antara sedekah, berbuat baik, lalu berbakti kepada orang tua. Ini luar biasa, kita mampu menggabungkan dua amal yang mampu menolak kita, atau mampu membentengi diri kita, memberikan perisai yang kuat dari siksa api neraka. Jangan dianggap apa yang kita keluarkan untuk orang tua itu hilang atau sia-sia, justru itulah tabungan yang kekal abadi nilainya luar biasa dan membuat kita tersenyum di akhirat karena ternyata Allah berikan kekuatan kepada kita untuk membuat tameng/perisai yang sangat kuat bagi diri kita dari siksa neraka.

Selain bersedekah, ibadah puasa juga menjadi salah satu amalan yang bisa membentengi diri dari segala perbuatan yang bisa menjerumuskan kita dari siksa neraka. Keutamaan berpuasa sebagai perisai dari neraka seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia karena puasanya dari neraka sejauh tujuh puluh musim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semua amalan shalih itu bisa menjadi bagian dari perisai kita dari siksa api neraka, termasuk puasa hanya saja yang perlu untuk kita jaga adalah bagaimana kita mampu berpuasa dengan baik, kalau ada shalat yang baik wudhunya, tepat waktunya, baik ruku’ dan sujudnya maka puasa ini juga termasuk bagian ibadah yang juga dikerjakan dengan yang seperti itu yaitu:
  1. Sesuai tuntunan, jangan asal berpuasa.
  2. Ikhlas/murni karena ingin ridha Allah.
  3. Dilakukan secara maksimal dan optimal, contohnya tidak mengeluh ketika lapar.
Kalau itu sudah dijalankan sesuai dengan yang dituntunkan dan diarahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mudah-mudahan itu bisa menjadi bagian dari amalan yang membentengi kita dari api neraka.

Masih ada waktu bagi kita untuk membekali diri dengan amalan-amalan yang bisa membentengi diri dari siksa api neraka. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan manusia-manusia yang menghabiskan waktu hanya untuk berbuat zalim. Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala untuk beribadah menjalankan perintah-Nya dan mengumpulkan bekal terbaik agar selalu terhindari dari siksa neraka. Aamiin.