Pasutri Terpisah Karena Alasan Karir Menurut Syariat Agama Islam

Seringkali kita temui suami istri tidak tinggal serumah karena alasan pekerjaan, bolehkah hal ini dalam Islam? Lalu bagaimana jika istri membutuhkan bantuan yang tidak bisa dikerjakan perempuan?

Dalam keseharian tak jarang kita menemukan kasus seorang suami yang sibuk dengan urusan karirnya hingga sering meninggalkan istri untuk tugas ke luar kota atau ke luar negeri dalam waktu yang lama.

Permasalahannya, seringkali hal ini menjadi benih keributan dalam rumah tangga. Lalu bagaimanakah syariat agama Islam mengatur hal ini? Adakah batasan waktu seorang suami boleh meninggalkan istrinya? Jika istri yang ditinggal bertugas membutuhkan bantuan tenaga untuk suatu keperluan yang tidak bisa dikerjakan oleh perempuan, bolehkah ia meminta bantuan teman laki-laki?

Berikut pemaparan Ust. Ahmad Sarwat, LC. MA: boleh saja pasangan suami istri itu tinggal terpisah karena tugas, karena satu dan lain hal. Dan kalau ditanya berapa lama mereka boleh saling berpisah, sebenarnya tidak ada ketentuan, yang penting kedua belah pihak ridho mereka tidak bertemu, tidak bercampur, dan sebagainya karena mungkin saja ada yang ditugaskan di luar negeri, luar kota, luar daerah, dan sebagainya dalam tempo yang agak lama bukan hanya seminggu, dua minggu, mungkin bisa jadi berbulan-bulan bahkan bisa bertahun-tahun.

Tidak ada ketentuan secara syar’i yang membatasi mereka ini maksimal berapa lama boleh berpisah sebagai suami istri itu, tetapi kalau kita lihat bahwa di zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu beliau mendengar ada keluhan dari seorang wanita yang mana suaminya itu sebagai seorang tentara yang dikirim ke luar negeri, dia gelisah karena sudah lama tidak didatangi oleh suaminya, dia bikin syi’ir, bikin puisi yang kemudian Umar tergetar dengan puisi itu dan mengatakan bahwa ini tidak baik, ini harus segera diselesaikan, maka ditanyalah kepada putrinya berapa lama seorang wanita bisa menahan diri dari tidak digauli oleh suaminya disebutkanlah pada saat itu sekian bulan, maka Umar membuat kebijakan bahwa tidak ada tentara-tentara yang dikirim ke luar kecuali maksimal hanya sebatas yang kira-kira istrinya sanggup untuk ditinggalkan oleh suaminya.

Yang bisa kita ambil dari kebijakan Umar bin Khattab dalam hal ini adalah beliau melakukan penelitian berapa lama kira-kira seorang wanita bisa ditinggal oleh suaminya, dari hasil penelitiannya itulah kemudian beliau lakukan sebuah kebijakan. Dan kebijakan itulah yang kemudian dipakai tetapi ini tidak bisa dikatakan sebagai ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya, tidak. Ini adalah hasil ijtihad, hasil penelitian, melihat daripada kondisi riil di lapangan.

Tetapi kalau seandainya perpisahan itu sementara tentunya antara suami istri itu akan ridho sama ridho, maka sebenarnya tidak ada ketentuan harus berapa lama. Tapi harus dilihat juga nanti apa yang akan terjadi dalam hal ini misalnya kalau pasangan ini masih muda tentu mereka masih punya gairah seksual dan sebagainya, jangan sampai mereka bilang tidak apa-apa tetapi ternyata terjadilah hal yang tidak seharusnya, terjadi perselingkuhan, terjadi perzinahan, terjadi hal-hal yang secara syariat memang itu dianggap tidak sesuai.

Begitu juga ketika misalnya seorang wanita dia sudah bersuami tapi tinggal berjauhan dengan suaminya kadang-kadang memang dia harus membutuhkan bantuan-bantuan yang tidak bisa dikerjakan oleh wanita mungkin ada laki-laki dan sebagainya. Inilah yang nantinya bisa menjadi katakanlah potensi, kalau dia tidak hati-hati menjaga, tidak strict dalam mengatur maka bisa jadi wanita yang seperti ini dia akan tergoda juga pada akhirnya walaupun dia sudah punya sekian banyak barrier, aturan, dan sebagainya.

Biar bagaimanapun terpisah dari suaminya sekian lama memang ini adalah potensi-potensi yang bisa menimbulkan fitnah boleh jadi akan terjadilah yang namanya cinta lokasi, CLBK [cinta lama belum kelar] karena seorang wanita harusnya dia ditemani oleh suaminya malah dia hidup terpisah dari suaminya.

Sebenarnya, afdhalnya, baiknya jangan berpisah, kalaulah memang ternyata tuntutan profesi dan sebagainya cobalah bagaimana aturannya biar suami istri ini tidak berpisah agar tidak timbul hal-hal yang memang tidak diinginkan karena godaan orang yang sudah berkeluarga itu jauh lebih besar daripada orang yang belum berkeluarga. Oleh karena itulah hukuman buat orang yang berzina itu lebih besar bagi mereka yang sudah berkeluarga (yang sudah menikah) ketimbang yang belum. Kalau yang belum pernah menikah, dia berzina Cuma dicambuk 100 kali. Tapi kalau yang sudah menikah lalu dia berzina maka hukumannya itu hukum rajam, dilempari batu sampai mati.

Kalau istri ditinggal tugas ke luar kota, ke luar negeri oleh suaminya dan dia tidak punya orang yang bisa membantunya padahal dia membutuhkan bantuan boleh atau tidak dia meminta bantuan kepada laki-laki? Yang jadi aturan adalah tidak boleh memasukkan laki-laki ke dalam rumah ketika suaminya sedang keluar, ini ada aturan kecuali atas izin.

Maka oleh karena itu yang harus bisa dilakukan adalah bagaimana mencari laki-laki yang aman, kalau tidak yang sudah tua atau yang sudah tidak punya keinginan lagi tertarik untuk wanita atau misalnya dia punya orang-orang terpercaya baik itu keluarganya atau sanak famili dan sebagainya yang bisa menemaninya selama suaminya bepergian artinya ketika suaminya ini bepergian ke luar kota atau luar negeri dalam waktu lama, suami sejak awal sudah mencarikan siapa yang akan menemani istrinya, jangan ditinggalkan sendirian entah itu orang tuanya, kakak adiknya, atau siapapun keponakan, dan sebagainya yang sekiranya kalau nanti ada hal-hal yang tidak bisa dia kerjakan sendiri, masih ada yang membantunya.