Pakaian Terkena Percikan Air Kencing Sebelum Melaksanakan Shalat

Dalam kehidupan sehari-hari para pekerja kantoran biasanya menggunakan pakaian yang sama untuk seharian bekerja dari pagi sampai sore atau malam. Seringkali ketika buang air kecil, kita tidak menyadari terkena percikan air kencing yang memantul dari urinoir bahkan jika yang sadar bila pakaiannya terpercik air kencing tersebut, ia tidak mau melaksanakan kewajiban shalat dengan alasan pakaiannya terkena najis.

Pertanyaannya, apakah yang harus dilakukan agar terhindar dari najis tersebut? Jika memang terkena najis dari percikan air kencing, bagaimana cara membersihkannya? Lalu bagi yang sadar terkena najis, apakah dibenarkan untuk tidak shalat dengan alasan pakaiannya terkena najis?

Berikut penjelasan Ust. Ahmad Sarwat, LC. MA: kalau kita buang air sebaiknya memang jangan berdiri, sebaiknya kita masuk ke dalam kamar mandi yang ada klosetnya posisinya jongkok atau duduk misalnya itu akan lebih aman tetapi kalau terpaksanya harus buang air kecil yang berdiri memang resiko terkena cipratan najis dari air kencing kita itu sangat tinggi.

Anggaplah memang misalnya air kencingnya itu ada dan memang itu membasahi pakaian kita lalu bagaimana? Apakah kita membuka semua pakaian kita? Tentu saja tidak, kita lihat saja bagian mana yang terkena najisnya, kita bisa ambil bagian yang terkena najisnya kemudian kita basahi dengan air entah itu dari air keran misalnya lalu kita kucek sedikit lalu kita peras. Setelah itu maka pakaian kita sudah selesai najisnya karena yang perlu dicuci dari najis itu adalah bagian yang terkena najis.

Untuk mengusir rasa was-was dihati kita, jangan-jangan ada tetes-tetes air yang terkecil yang tidak nampak tapi terkena pakaian kita, sebagian ulama mengatakan basahi tangan anda kemudian usapkan pada pakaian yang kita mengira seolah-olah itu ada najisnya padahal tidak, itu dianggap najis yang dimaafkan kalau kita tidak bisa melihat buktinya tapi kalau kita bisa melihat buktinya, ada basahnya, ada warnanya, ada baunya, ada rasanya, maka bagian itu saja yang kita kenakan dengan air, kita cuci dengan air, tidak harus seluruh pakaian kita buka semua.

Tetapi kalau kita tidak terlalu ragu-ragu, kita yakin bahwa pakaian kita ini ternyata bersih tidak ada najisnya maka shalatlah, tinggalkan yang ragu-ragu itu kepada yang kita sudah yakin pasti adanya dan memang kita harus tahu juga bahwa para ulama dalam hal najis yang tidak terlihat atau yang sangat kecil memang berbeda pendapat. Sebagian ulama di kalangan madzhab Hanafi bahkan mengatakan kalau najisnya belum selebar telapak tangan, ini belum dikatakan najis yang menghalangi kita dari mengerjakan shalat, padahal di dalam madzhab Syafi’i satu tetes itu sudah dianggap najis.

Sehingga permaafan dalam hal ini para ulama memang sedikit berbeda pendapat, tetapi jangan terlalu freak juga, jangan kita merasa sedikit-sedikit takut najis, akhirnya malah kita terbawa kepada hal yang lebih parah yaitu daripada ragu-ragu pakaian kita najis akhirnya mkalah tidak shalat sekalian. Kalau memang kita yakin pakaian kita ada najisnya, cucilah bagian yang kena najisnya itu. Tapi kalau ragu-ragu tinggalkan yang ragu-ragu kepada yang tidak ragu-ragu yang penting jangan sampai kita meninggalkan shalat.

Kalau terpaksanya pakaian kita semuanya bersimbah dengan najis seluruhnya dan tidak ada tempat untuk berganti, tidak ada pakaian lain, dan sebagainya. Sementara waktu shalatnya sudah mau habis, apa boleh buat, shalatlah walaupun dalam keadaan pakaian najis karena itu lebih baik daripada sama sekali tidak shalat.

Meninggalkan shalat bahayanya, dosanya jauh lebih besar daripada shalat yang darurat sehingga ternyata dia shalat pakai baju yang ada najisnya kalau memang sama sekali tidak dibersihkan atau dicuci.