Najis Yang Tanpa Disadari Menempel Saat Sedang Shalat

Salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari najis baik badan, pakaian, juga tempat shalat. Karena sudah menjadi syarat maka orang yang menunaikan ibadah shalat harus memastikan semua itu terbebas dari najis sebelum shalat dimulai.

Akan tetapi dalam beberapa kondisi terkadang seseorang melaksanakan shalat tanpa ia sadari ada najis di badan, pakaian, atau tempat shalatnya. Ia baru sadar adanya najis itu setelah selesai shalat. Lalu apakah dalam kondisi demikian ia harus mengulangi shalatnya?

Jika seseorang shalat dalam keadaan berpakaian najis atau tempatnya yang terkena najis sementara sejak awal ia tidak tahu kalau terkena najis dan baru tahu najis itu setelah shalatnya selesai. Haruskah ia mengulang shalatnya?

Dalam kondisi seperti ini maka shalatnya sah dan tidak perlu diulangi lagi karena kondisi tidak tahu atau lupa menjadi pemakluman baginya. Allah ta’ala berfirman menceritakan rukhshah atau keringanan bagi orang beriman:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al Baqarah: 286)
Permohonan seorang hamba dalam ayat ini dijawab oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam hadits qudsi,
“Allah berfirman “Aku benar-benar telah melakukannya.” Maksudnya Allah telah mengabulkan doa hambanya tersebut.”
Dalil lain yang menegaskan bahwa orang yang tahu najisnya setelah shalat tidak perlu mengulang shalatnya adalah hadits yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan Darimi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah shalat dalam keadaan di sandalnya terdapat najis. Ketika dipertengahan shalat Malaikat Jibril mengabarkan kepada beliau akan hal itu. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mengetahui hal itu melepas sandalnya saat shalat dan beliau tidak mengulang shalatnya dari awal.

Hal ini menunjukkan bahwa barangsiapa mengetahui najis di pertengahan shalat maka hendaknya ia menghilangkannya walaupun itu di tengah-tengah shalat lalu ia tetap melanjutkan shalatnya. Adapun jika ia telah selesai dari shalatnya kemudian ia mengingat akan najis tersebut setelah shalat atau baru saja mengetahuinya maka shalatnya tidak perlu diulang dan shalatnya tetap sah.

Catatan penting yang harus diperhatikan dalam urusan mengulang shalat ini bahwa seseorang yang shalat dalam keadaan lupa berwudhu misalnya ia tadinya dalam keadaan hadats dan lupa berwudhu kemudian ia shalat dan setelah shalat baru ia ingat bahwa ia shalat dalam keadaan tidak berwudhu maka begitu ia ingat, ia wajib berwudhu dan mengulangi shalatnya.

Begitu pula jika seseorang lupa telah mengalami hadats besar seperti junub tapi ia lupa sehingga tidak mandi lalu shalat, misalnya orang yang mimpi basah di malam hari lalu dia shalat shubuh dalam keadaan tidak mengetahui bahwa ia dalam keadaan hadats lantas di siang hari ia melihat di pakaiannya ada bekas mimpi basah maka untuk kondisi semacam ini wajib baginya mandi junub lalu mengulangi shalatnya. Wallahu a’lam.