Menyebut-Nyebut Amal Shalih Dirinya Sendiri Kepada Orang Lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada fitnah Al Masih Ad Dajjal?” Para sahabat berkata “Tentu saja.” Beliau bersabda “Syirik Khafi (yang tersembunyi) yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan shalat dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR. Ahmad)
Inilah bahaya riya, sebuah perbuatan amal shalih yang dilakukan bukan dimaksudkan untuk meraih ridha Allah tapi lebih dimaksudkan untuk meraih simpati manusia.

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa riya termasuk Syirik Khafi atau yang samar dan tersembunyi. Hal ini karena riya terkait dengan niat dan termasuk amalan hati yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Tidak ada seorang pun yang mengetahui niat dan maksud seseorang kecuali Allah semata.

Hadits ini menunjukkan tentang bahaya riya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir, riya menimpa sahabat yang merupakan umat terbaik apalagi terhadap selain mereka. Kekhawatiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih besar daripada kekhawatiran terhadap ancaman Fitnah Dajjal karena hanya sedikit yang dapat selamat dari bahaya riya ini.

Fitnah Dajjal yang begitu berbahaya, hanya menimpa pada orang yang hidup pada zaman tertentu sedangkan bahaya riya menimpa seluruh manusia di setiap zaman dan setiap saat. Amalan ini sangat merugikan karena dapat merusak bahkan menghapus amal shalih seseorang.

Lalu bagaimana dengan menyebut-nyebut aktivitas amal shalih kepada orang lain? Apakah termasuk riya atau ujub atau membanggakan diri dari amal shalih? Atau yang demikian ini masuk kategori takabbur/sombong?

Para ulama menyebutkan bahwa menyebut atau menyiarkan kebaikan adalah perbuatan amal shalih karena menjadi sarana untuk bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini berdasarkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu (Muhammad), Maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuhaa: 11)
Menyiarkan nikmat inilah yang disebut Tahadduts Binni’mah, istilah ini sudah lazim dipakai untuk menggambarkan kebahagiaan seseorang atas kenikmatan yang diraihnya. Atas anugerah itu, ia perlu menceritakan atau menyebut-nyebut dan memberitahukannya kepada orang lain sebagai bukti rasa syukur yang mendalam.

Berdasarkan makna ayat ini, mayoritas ulama salaf menganjurkan agar memberitahukan kebaikan yang dilakukan oleh seseorang jika ia mampu menghindarkan diri dari sifat riya dan agar dijadikan contoh oleh orang lain sehingga secara umum Tahadduts Binni’mah atau menyiarkan nikmat dapat dibagi kepada dua kategori.

Jika terhindar dari fitnah riya, ujub, dan tidak akan memunculkan kedengkian pada orang lain maka sangat dianjurkan untuk menyebut dan menceritakan kenikmatan yang diterima oleh seseorang. Namun jika dikhawatirkan akan menimbulkan rasa dengki dan untuk menghindarkan kerusakan akibat kedengkian dan tipu muslihat orang lain maka menyembunyikan nikmat dalam hal ini bukan termasuk sikap kufur nikmat.

Lebih tegas Imam Asy Syaukani menjelaskan bahwa Tahadduts Binni’mah atau menyiarkan nikmat bukan termasuk dari berbangga-bangga maupun takabbur yang sangat dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala seperti dalam firman-Nya yang artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Tahadduts Binni’mah atau menyebut-nyebut atau menyiarkan nikmat dalam konteks yang lebih luas tidak hanya akan kenikmatan materi yang diterima seseorang tapi kesungguhan beribadah dan menjalankan amal shalih juga layak dan tidak ada salahnya untuk diceritakan dan diberitahukan kepada orang lain. Ini sebagai ungkapan rasa syukur dan agar bisa ditiru dan dijadikan contoh. Namun tentu kepada yang mereka harapkan mengikuti kebaikan dan amal shalih tersebut.

Namun Hasan bin Ali mengingatkan jika engkau mendapatkan kebaikan atau melakukan kebaikan maka sebutlah dan ceritakanlah didepan saudaramu yang kamu percayai bahwa ia akan mengikuti jejak yang baik tersebut. Kebiasaan seperti ini pernah dilakukan oleh Abu Firas, Abdullah Bin Ghalib seperti yang dituturkan oleh Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya,
“Setiap kali aku bangun pagi, aku bisa menyebut amal yang aku lakukan di malam hari aku shalat sekian, berdzikir sekian, membaca Al Qur’an sekian, dan sebagainya.” 
Ketika para sahabatnya mempertanyakan yang dilakukan oelh Abu Firas termasuk dalam kategori riya dengan tenang ia menjawab,
“Allah memerintahkan dalam ayat-Nya untuk menceritakan kenikmatan sedangkan kalian melarang untuk menyebut kenikmatan.”
Disini sangat jelas bahwa tahadduts binni’mah atau menyiarkan nikmat merupakan salah satu kendali agar kita tidak terjerumus kedalam kelompok yang dikecam oleh Allah yaitu mereka yang menyembunyikan nikmat dan mengingkarinya serta tidak mengakui anugerah tersebut berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman:
“Mereka mengetahui nikmat Allah, Kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. An Nahl: 83)
Oleh karena itu, menyebut-nyebut aktivitas amal shalih dan ibadah bisa saja termasuk dibolehkan berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala agar kita menyiarkan nikmatnya. Namun yang perlu digarisbawahi hal itu jika tidak menimbulkan rasa dengki bagi orang lain maka ada baiknya kita mengikuti saran dari cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu:
“Jika engkau mendapatkan kebaikan atau melakukan kebaikan maka sebutlah dan ceritakanlah di depan saudaramu yang kamu percayai bahwa ia akan mengikuti jejak yang baik tersebut.”
Tentu saran ini bisa kita pahami agar dilakukan di ruang terbatas bagi publik, tapi jika kita ungkap di publik seperti di media sosial masalahnya menjadi rentan untuk menjadi riya, ujub, dan takabbur bahkan bisa menimbulkan kedengkian. Wallahu a’lam.