Mengkonsumsi Cacing Sebagai Obat dan Membudidayakannya

Cacing tanah oleh banyak orang dianggap sebagai hewan yang menjijikan. Akan tetapi hewan ini ternyata juga berkhasiat untuk pengobatan. Hewan yang hidup di tanah ini diyakini dapat mengobati demam, tifus, dan gangguan pasca stroke, meskipun masih memerlukan penelitian yang lebih seksama, prospek cacing tanah sebagai obat yang alami sudah sangat menjanjikan. Karena khasiat tersebut orang mulai membudidayakannya. Lalu apakah meski menjijikkan, cacing boleh dikonsumsi sebagai obat? Lalu bagaimana dengan membudidayakannya?

Sebagian ulama termasuk para ulama dari madzhab Syafi’i menganggap cacing termasuk dalam hewan khaba’its atau menjijikkan sehingga haram dikonsumsi, hal ini sebagaimana tertuang dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (QS. Al A’raaf: 157)
Akan tetapi sebagian ulama lainnya yang khususnya dari madzhab Maliki menganggap cacing sebagai hewan khaba’its  atau menjijikkan tidak berarti haram karena kriteria jijik itu relatif, bisa berbeda bagi setiap orang. Selain itu, ada yang menyebutkan bahwa cacing termasuk Jallalah yaitu hewan yang memakan benda-benda najis dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan Jallalah atau pemakan kotoran. Disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah dan At Tirmidzi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan daging hewan Jallalah dan susunya .

Akan tetapi tidak semua ulama sepakat dengan hal ini, karena meskipun cacing bisa saja memakan kotoran tapi makanannya tidak selalu kotoran. Jika pun cacing ini hidup di kotoran juga harus dilihat lagi karena tidak semua kotoran itu najis. Menurut banyak ulama, kotoran hewan yang dagingnya halal dikonsumsi seperti sapi, unta tidak najis dan larangan memakan hewan pemakan kotoran pun diperselisihkan oleh para ulama.

Dengan demikian menurut kelompok ulama ini hukum memakan cacing dikembalikan kepada hukum asal yaitu boleh karena tidak ada dalil yang tegas tentang pengharamannya dan yang terpenting juga harus dipastikan kalau mengkonsumsi hewan tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi manusia karena jika berbahaya (beracun misalnya) maka hukumnya dilarang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah: 195)
Namun khusus untuk pengobatan jika seandainya mengikuti pendapat ulama yang mengatakan haram maka ia boleh dikonsumsi dalam keadaan darurat. Artinya, jika tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit selain cacing tersebut maka boleh mengkonsumsinya tetapi hal ini tentu saja harus mengikuti saran dan ketentuan dari ahlinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 173)
Sedangkan hukum membudidayakan dan memperdagangkannya maka mengikuti ketentuan pemanfaatannya. Maka berdasarkan pendapat ulama yang tidak mengharamkan tentu boleh-boleh saja membudidayakan dan menjadikannya sebagai komunitas bisnis. Wallahu a’lam.