Mengapa Wanita Haid Dilarang Shalat?

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Bukanlah jika seorang wanita haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu mengapa jika wanita datang bulan atau haid dilarang melakukan ibadah shalat?

Sejumlah studi medis modern membuktikan bahwa gerakan shalat saat bermanfaat bagi wanita hamil tapi membahayakan bagi wanita yang sedang datang bulan atau haid, sebab wanita yang sedang shalat ketika sedang sujud dan ruku’ akan meningkatkan peredaran darah ke rahim. Sel-sel rahim dan indung telur seperti sel-sel limpa menyedot banyak darah. Rahim membutuhkan darah melimpah agar janin mendapatkan gizi dan untuk membersihkan polusi.

Ketika seorang ibu hamil sedang menjalankan shalat, aktivitasnya ini akan membantunya mengantarkan darah yang melimpah ke janin, sementara wanita yang haid jika menunaikan shalat akan menyebabkan banyak darah mengalir ke rahimnya. Akibatnya ia akan kehilangan darah karena keluar bersama darah haid.

Di masa haid, diperkirakan wanita kehilangan darahnya sebanyak 34 ml kadar yang sama pada cairan lainnya. Jika wanita haid menunaikan shalat, zat imunitas di tubuhnya akan hancur sebab sel darah putih berperan sebagai imun akan hilang melalui darah haid. Mengalirnya darah secara umum akan meningkatkan kemungkinan menularnya penyakit, namun Allah subhanahu wa ta’ala menjaga wanita haid dari penularan penyakit dengan mengkonsentrasikan sel darah putih di rahim selama masa haid agar menjaga tubuh dan melawan berbagai penyakit.

Jika seorang wanita shalat saat haid maka ia akan kehilangan darah dalam jumlah banyak. Ini berarti akan kehilangan sel darah putih jika ini terjadi maka seluruh organ tubuhnya seperti limpa dan otak akan terserang penyakit. Mungkin inilah salah satu hikmah besar dibalik larangan wanita haid melakukan ibadah shalat hingga ia suci. Al Qur’an dengan sangat cermat menyebutkan:
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (QS. Al Baqarah: 222)
Disamping itu, gerak fisik saat sujud dan ruku’ semakin menambah aliran darah ke rahim dan akan hilang percuma, lebih dari itu jika wanita haid shalat maka akan menyebabkan kekurangan zat logam dari tubuh. Itu sebabnya, paramedis menganjurkan agar ketika dalam keadaan haid, wanita banyak beristirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi agar darah dan logam Magnesium zat besi dalam tubuh yang berharga tidak terbuang dengan percuma. Inilah hikmah besar kenapa ketika haid, wanita dilarang melakukan puasa.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Bukanlah jika seorang wanita haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika sudah memasuki masa suci, wanita baru diperbolehkan shalat tanpa mengganti shalat yang ditinggalkan selama masa haid. Apa jadinya jika wanita diwajibkan meng-qadha shalat yang ia tinggalkan? Berapa kali shalat ia harus menggantinya? Tentunya itu sangat memberatkan. Sehari lima kali shalat jika masa haid satu minggu berarti harus mengganti shalat sebanyak itu. Tentu itu akan sangat memberatkan bagi wanita. Inilah keringanan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada para wanita muslimah.

Akan tetapi kewajiban puasa yang ditinggalkan wanita karena haid wajib di-qadha atau diganti di waktu lain ketika dalam keadaan suci. Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha:
“Kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak meng-qadha shalat.”