Masih Jual Beli dan Santai Di Luar Area Masjid Menunggu Iqamah Shalat Jum’at

Shalat Jum’at merupakan kewajiban bagi para muslim laki-laki. Namun masih sering kita jumpai menjelang Shalat Jum’at, orang-orang masih tampak santai berada di lingkungan masjid. Pada saat adzan berkumandang, masih ada yang tampak menikmati makan siangnya bahkan saat khutbah dibacakan masih saja ada yang melakukan transaksi jual beli. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala sudah menjelaskan dalam Al Qur’an:
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.” (QS. Al Jumu’ah: 9)
Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? Apakah shalat jum’atnya tetap sah? Bagaimana pula dengan jual belinya? Apakah termasuk haram?

Berikut pemaparan Ust. Ahmad Sarwat, Lc, MA.: Yang menjadi kewajiban bagi kita setiap muslim khususnya laki-laki yang muqim, yang sehat, yang tinggal di dekat lingkungan masjid, yang mendengar suara adzan yaitu apabila sudah dikumandangkan adzan khususnya untuk hari Jum’at maka kita diwajibkan untuk mendatanginya sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah Al Jumu’ah ayat 9.

Maka tidak ada kamusnya bahwa pada saat khatib sudah naik ke atas mimbar dan kemudian dikumandangkan adzan kemudian kita masih duduk-duduk, santai-santai. Lalu kita mendengarkan adzan atau khutbah dari jarak jauh sambil kita makan-makan, minum-minum, mentang-mentang kita masih berada di luar area masjid. Kita harus segera mendatanginya dan mendatanginya itu adalah suatu kewajiban apalagi kalau masih saja berjual beli.

Kadang-kadang di luar masjid, banyak masjid yang melaksanakan shalat masjid di dalam tapi di luar, di jalanan dan di trotoar orang masih asyik berjual beli saja padahal itu sudah diharamkan. Maka jual beli pada saat imam atau khatib sudah melangsungkan khutbahnya, sudah selesai adzan yang pertama yang kemudian memanggil orang itu maka mau tidak mau, jual beli itu harus berhenti. Tidak boleh dilaksanakan karena secara eksplisit Allah sebutkan “dan tinggalkanlah jual beli”.

Dalam hal ini para ulama mengatakan bahwa walaupun jual belinya sah dalam arti uangnya si pembeli sudah menjadi haknya si penjual, lalu barang si penjual sudah menjadi haknya si pembeli, karena jual belinya sah tetapi melakukan jual beli pada saat itu adalah sesuatu yang diharamkan. Jadi inilah jual beli yang hukumnya sah secara akadnya tetapi haram secara melakukannya karena sudah ada panggilan untuk melakukan Shalat Jum’at.

Maka haram hukumnya bagi kita untuk berjual beli ketika sudah mendengar suara adzan Jum’at, kita harus segera mendatanginya khususnya tentu saja bagi mereka yang wajib mengerjakan Shalat Jum’at yaitu laki-laki, aqil baligh, muqim, sehat, berada di lingkungan daerah yang memang tercakup dengan suara adzan itu harus mendatanginya tidak boleh lagi santai-santai apalagi berjual beli maka ini tindakan yang tentu saja haram dan wajib segera mendatanginya.

Walaupun bukan berarti seandainya orang tidak ikut mendengarkan khutbah di dalam area itu bukan berarti Shalat Jum’atnya tidak sah karena yang wajib memang Shalat Jum’atnya dan mendengarkannya merupakan Sunnah Muakkadah yang harus dia dengarkan artinya kalaulah misalnya dia sudah datang. Walaupun dia tidak mengikuti khutbah misalnya dia tertidur, ngantuk, atau mungkin dia datangnya terlambat sehingga begitu sampai sudah mulai shalat jumatnya maka shalat jumatnya sudah sah dan mendapatkan kewajibannya tetapi pahalanya untuk mendengarkan khutbahnya tentu saja dia kehilangan.

Tetapi di sisi yang lain, ketika kita berada di lingkungan masjid sudah terdengar adzan maka tidak boleh lagi kita melakukan apapun kecuali mendatangi masjid itu untuk menghadiri Shalat Jum’atnya. Tidak boleh berjualan, tidak boleh membeli, tidak boleh belanja, dan sebagainya termasuk juga tidak boleh santai-santai di luar area masjid sambil menunggu iqamah. Kita harus masuk ke dalam masjid atau lingkungannya atau yang masih tersambung shaf-nya dengan masjid itu untuk khusyu’ kita mendengarkan khutbahnya itu karena bagian dari kesempurnaan Shalat Jum’at kita.