Larangan Menuduh Seseorang Berbuat Zina

Dalam keseharian kita sering mendengar sebutan “Lelaki buaya” bagi seorang laki-laki yang senang selingkuh atau menyebut perempuan dengan sebutan “Kupu-kupu malam” bagi perempuan yang menjual kehormatan dirinya. Kata-lkata ini memang kiasan yang menunjukkan laki-laki dan perempuan yang senang berbuat zina. Masalahnya apakah orang yang menyebut dengan istilah semacam ini kepada seseorang baik kepada suami, istri, atau kepada orang lain itu sama saja dengan menuduh zina?

Menuduh berzina pada seorang muslim termasuk masalah serius dalam agama dan termasuk dalam dosa besar jika tidak bisa menghadirkan empat orang saksi. Terkait dengan hal ini, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik[1029] (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 4)
Yang dimaksud wanita baik-baik adalah wanita baligh, merdeka, dan menjaga kehormatan meskipun ayat yang dituduh adalah perempuan tapi hukum ini juga berlaku untuk tuduhan terhadap lelaki. Artinya penyebutan wanita dalam ayat ini bukan pembatasan. Objek tertuduh bisa wanita, bisa lelaki selama dia adalah orang yang menjaga kehormatan, jika dituduh berzina maka tuduhan itu termasuk dosa besar. Dalam ayat ini ada tiga hukuman yang disebutkan oleh Allah untuk mereka yang menuduh orang lain berzina tanpa bisa menghadirkan empat orang saksi yaitu:
  1. Dicambuk sebanyak 80 kali,
  2. Kesaksiannya tidak diterima untuk selama-lamanya.
  3. Disebut orang fasik/orang jahat di hadapan Allah dan masyarakat.
Di ayat yang lain Allah juga menyebutkan hukuman yang berbeda:
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,” (QS. An Nuur: 23)
Karena itu, hati-hati dengan ucapan yang diarahkan kepada orang lain dengan tuduhan zina seperti menyebut seseorang dengan sebutan wanita kupu-kupu malam atau menyebut lelaki dengan sebutan lelaki buaya atau lelaki suka main perempuan atau ungkapan lain semisalnya. Ungkapan-ungkapan semacam ini sudah termasuk kategori menuduh, termasuk ketika kita menyebut seseorang dengan anak jadah atau anak haram karena ini berarti menuduh orang tuanya berzina.

Dalam literatur hukum Islam, disebutkan ada dua bentuk hukum berzina:
  1. Tuduhan terang-terangan, adalah pernyataan tegas yang menyatakan bahwa seseorang telah melakukan zina, tidak bisa dimaknai yang lain selain tuduhan zina. Misalnya “Kamu pezina!”, atau kalimat panggilan “Hai, si pezina!”, dan semacamnya. Jika dia tidak bisa menghadirkan empat orang saksi maka dia berhak dijatuhi hukuman cambuk sebanyak 80 kali.
  2. Tuduhan tersirat, adalah pernyataan tidak tegas yang menunjukkan makna zina yang diarahkan kepada orang lain, karena tidak tegas masih bisa dimaknai yang lain selain zina. Misalnya “Lelaki hidung belang” atau “Lelaki buaya”. Ungkapan ini bisa dipahami dengan arti lelaki itu telah berzina dan bisa juga dipahami lelaki itu juga bergaul dengan lawan jenis yang bukan mahramnya meskipun tidak sampai melakukan hubungan suami istri. Demikian juga menyebut wanita dengan “Kupu-kupu malam.”
Menanggapi pemaknaan kurang tegas seperti ini, para ulama berbeda pendapat. Para ulama dari madzhab Maliki mengatakan bahwa ucapan-ucapan semacam itu termasuk tuduhan berzina dan harus dijatuhi sanksi tindak pidana menuduh berzina. Disebutkan dalam kitab Syarh Al Kharsyi juga dicambuk 80 kali orang yang mengatakan kepada seorang perempuan “Ya, Qahbah” yang berarti wanita pezina, tidak ada bedanya apakah wanita itu istrinya atau wanita lain.

Berbeda dengan madzhab Hanbali, para ulama madzhab ini menyatakan bahwa hal itu tergantung pada tafsiran yang diberikan kepada kata-kata itu, bila ditafsirkan dengan zina maka harus dicambuk 80 kali sebaliknya bila ditafsirkan dengan makna lain maka tidak dicambuk.

Sikap madzhab Hanbali ini hampir serupa dengan sikap madzhab Syafi’i. Disebutkan dalam kitab I’anatut Thalibin salah satu rujukan madzhab Syafi’i bentuk kedua adalah kata-kata yang bisa diartikan tuduhan dan bisa diartikan maksud lain. Jika orang yang mengucapkannya berniat  menuduhnya berzina maka dia dijatuhi hukuman menuduh berzina yaitu dicambuk 80 kali, sebaliknya bila diniati yang lain maka tidak harus dicambuk.

Namun perlu ditegaskan bahwa tidak dijatuhkannya hukuman berzina kepada orang itu bukan berarti dia dibiarkan saja melakukan perbuatan itu tanpa ada sanksi, dia tetap dihukum tetapi dengan bentuk hukuman yang menurut pemerintah yang sah dapat menimbulkan efek jera. Jika dia melakukannya tanpa ada alasan yang dapat dibenarkan oleh agama. Dalam istilah hukum Islam, sanksi hukum semacam itu disebut ta’zir.

Imam Ramli salah seorang pemuka madzhab Syafi’i abad ke 10 Hijriyah pernah ditanya tentang seseorang yang mengatakan kepada kawannya “Kamu lelaki hidung belang!” atau memanggil orang dengan panggilan itu. Apakah ini termasuk tuduhan tegas atau tidak tegas? Dan kalaupun termasuk tuduhan tidak tegas, apakah yang bersangkutan boleh dita’zir atau hukuman pidana? Maka jawabnya ini tuduhan zina tidak tegas ia dita’zir atau dihukum pidana.

Dari sini bila seorang suami mengucapkan kata-kata semacam itu kepada istrinya tanpa sebab dan alasan yang benar maka dia telah melakukan perbuatan haram karena telah mengumpat seorang muslim, sedang mencaci seorang muslim adalah kefasikan.

Berbeda bila dia mengatakannya karena adanya sebab yang mengharuskannya untuk melakukan itu, seperti istri tidak patuh atau membangkang maka sepertinya tidak apa-apa jika memang tidak berniat membunuhnya berzina. Wallahu a’lam.