Larangan Menjalinkan Jari Jemari Di Masjid

Salah satu yang terlarang untuk dilakukan di dalam masjid adalah tasybik atau menjalinkan jari jemari sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian berada di masjid, maka janganlah dia menjalinkan jari jemari. Sesungguhnya menjalinkan jari jemari itu adalah dari setan. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian senantiasa berada didalam shalat selama dia berada di masjid hingga dia keluar darinya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dengan menjalinkan jari jemari? Mengapa tindakan ini dilarang ketika berada di masjid?

Ibnu Abidin mengatakan menjalinkan jari jemari adalah memasukkan jari jemari tangan yang satu diantara jari jemari tangan yang lainnya. Dalam kitab Ma’alimus Sunan, Al Khattabi menjelaskan menjalinkan jari jemari satu sama lain ini kadang iseng dilakukan sebagian orang. Ada juga yang melakukannya untuk membunyikan jari jemari tangannya, kadang ada juga yang membelitkan jari jemari untuk merangkul lutut dengan kedua tangan ketika bersantai dan kadang ini membuatnya mengantuk sehingga bisa membatalkan wudhu.
Suatu ketika Ka’ab bin ‘Ujrah bertemu dengan seseorang yang hendak pergi ke masjid. Ka’ab melihatnya sedang menjalinkan jari jemarinya, kemudian Ka’ab melarangnya seraya berkata “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Apabila salah seorang dari kalian wudhu, membaguskan wudhunya, kemudian pergi menuju masjid, maka janganlah ia menjalinkan jari jemarinya (tasybiik). Sesungguhnya dia dalam keadaan shalat”.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi, dan lainnya)
Berdasarkan hadits-hadits ini, para ulama fiqih menyatakan menjalinkan jari jemari ketika shalat hukumnya makruh. Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Ibnu Umar berkata:
“Menjalinkan jari jemari ketika shalat merupakan cara shalatnya orang-orang yang dimurkai Allah.”
Mayoritas ulama memakruhkan menjalinkan jari jemari  bagi orang yang hendak melaksanakan shalat meskipun shalat itu belum dilakukan, bahkan menurut mereka orang yang keluar rumah dengan maksud mendatangi masjid untuk shalat atau orang yang duduk-duduk di sekitar masjid selama menanti shalat juga dimakruhkan menjalinkan jari jemarinya, karena menanti shalat termasuk hukum shalat.

Berdasarkan dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seorang diantara kalian wudhu di rumahnya kemudian ia pergi ke masjid, maka ia senantiasa dalam keadaan shalat hingga ia kembali pulang ke rumahnya. Oleh karena itu, janganlah ia melakukan seperti ini.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalinkan jari jemarinya satu sama lain. (HR. Ibnu Khuzaimah, Al Hakim, dan Ad Darimi)
Lalu bagaimana dengan orang yang hanya duduk-duduk di dalam masjid, tidak untuk melaksanakan shalat? Misalnya sudah selesai shalat atau ke masjid untuk pengajian, apakah ia boleh menjalinkan jari jemarinya?

Ibnu Taimiyah menuturkan hukum menjalin jari jemari adalah makruh ketika ia keluar berjalan menuju masjid. Sementara ketika ia sudah berada di dalam masjid maka hukum makruhnya akan bertambah. Ketika ia sedang melaksanakan shalat maka kemakruhan itu pun semakin keras. Akan tetapi jika menjalinkan jari jemari dilakukan di luar shalat maka tidak ada larangan. Artinya seseorang boleh menjalinkan jari jemarinya ketika sedang bersantai dan semacamnya asalkan tidak sedang ingin melaksanakan shalat.

Ketika seseorang berada di masjid tapi tidak sedang menunggu shalat atau telah selesai melaksanakan shalat maka tidak ada larangan untuk menjalinkan jari jemarinya. Berdasarkan hadits dari Abu Musa bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalin jari jemarinya. (HR. Bukhari)
Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga pernah melakukan tasybiik atau menjalin jari jemarinya di masjid setelah selesai shalat. Wallahu a’lam.