Larangan Meminta Kembali Pemberian Kepada Orang Lain dan Pengecualiannya

Orang yang memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai hadiah atau sedekah berarti kepemilikannya telah berpindah kepada orang yang diberi. Namun tak jarang ada orang yang meminta kembali pemberiannya itu lantaran kesal, bertengkar, dan lain sebagainya. Apakah memang pemberian yang sudah dimiliki orang lain itu karena alasan tertentu boleh diminta kembali?

Para ulama dari empat madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat bahwa meminta kembali pemberian yang telah diberikan kepada orang lain hukumnya dilarang dan larangan ini bersifat haram. Oleh karena itu, barang yang telah diberikan kepada orang lain tidak boleh diminta kembali dengan alasan apapun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mencela perbuatan itu dalam sabdanya:
“Orang yang menarik kembali pemberiannya seperti anjing yang muntah kemudian menjilatnya kembali.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Kami tidak memiliki contoh yang buruk, orang yang mengambil kembali pemberiannya seperti anjing yang menjilat muntahnya sendiri.” (HR. At Tirmidzi)
Hadits ini secara jelas dan tegas mengharamkan meminta kembali pemberian, keras pengharamannya dapat dilihat dari beberapa sisi:
  1. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan orang yang meminta kembali pemberiannya dengan anjing.
  2. Karena meminta kembali pemberian diperumpamakan seperti menjilat kembali muntahnya.
  3. Karena orang yang meminta kembali pemberiannya merupakan contoh buruk dan bukan termasuk akhlak seorang muslim.
Akan tetapi ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat perbuatan menarik pemberian itu menjadi boleh misalnya apabila seorang ayah memberikan sesuatu kepada anaknya lalu si ayah berubah pikiran, maka ayahnya bisa menarik kembali pemberiannya untuk tujuan kemaslahatan.

Hal ini pernah terjadi pada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan hadiah kepada salah seorang anaknya, sementara anaknya yang lain tidak mendapat pemberian sehingga sang anak yang tidak mendapat pemberian memprotes ayahnya lalu mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada sang ayah,
“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada seluruh anak-anakmu” kemudian ia mengembalikan hadiah yang telah ia berikan. (HR. At Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak halal bagi seseorang memberi hadiah atau hibah kemudian memintanya kembali kecuali hadiah yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya, perumpamaan orang yang memberikan hadiah atau hibah kemudian memintanya kembali adalah seperti anjing yang makan sampai kenyang lalu muntah kemudian menjilat muntahnya kembali.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Al Baihaqi)
Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
“Tidak halal bagi seseorang memberi suatu pemberian lalu ia mengambilnya kembali kecuali orang tua, ia boleh mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada anak-anaknya.” (HR. At Tirmidzi)
Dengan demikian sebuah pemberian baik berupa hadiah atau sedekah tidaklah boleh diminta kembali dengan alasan apapun kecuali pemberian ayah terhadap anaknya. Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jelas bahkan sekalipun jika orang yang telah memberikan barangnya kepada orang lain itu bermaksud ingin membelinya kembali dengan jual beli yang benar, hal ini tetaplah dilarang dan tidak boleh dilakukan.

Zaid bin Aslam mendengar penuturan ayahnya yang mengatakan,
“Aku mendengar Umar bin Khattab berkata “Aku menyedekahkan seekor kuda untuk jihad fisabilillah namun pemiliknya telah menelantarkannya sehingga aku ingin membeli kembali darinya, aku mengira dia akan menjualnya dengan harga yang murah kemudian aku bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda “Janganlah engkau membelinya walaupun ia menjualnya kepadamu dengan harga satu dirham. Sesungguhnya orang yang mengambil kembali sedekahnya bagaikan anjing yang memakan kembali muntahnya”.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi jika orang yang diberi atau yang menerima hadiah atau sedekah itu secara sukarela tanpa paksaan ingin menyerahkan kembali barang pemberian itu kepada orang yang memberi maka hal itu dibolehkan. Dalam hal ini tidak ada masalah antara sang pemberi dan sang penerima. Hal ini sebagaimana disampaikan dari A’isyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengenakan khamisah atau pakaian segi empat yang memiliki dua garis lalu beliau memandangnya sepintas. Setelah selesai shalat, beliau bersabda:
“Bawalah khamisahku ini kepada Abu Jahm dan bawalah untukku anbijaniyyahnya Abu Jahm. Sesungguhnya baju khamisah ini telah melalaikanku dari shalatku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Anbijaniyyah adalah baju tebal dari daerah anbijan yang tidak bergaris. Sha'ab bin Jatstsamah bin Qais Al Laitsi menuturkan bahwa ia pernah memberi hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa keledai liar saat berada di Abwa’ atau Waddan dan beliau sedang ihram lalu beliau menolaknya. Saad berkata,
“Tatkala beliau melihat perubahan raut wajahku karena penolakan beliau terhadap hadiahku, beliau bersabda “Kami tidak menolak karena ada sesuatu atas dirimu akan tetapi karena kami sedang dalam keadaan ihram”.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)