Larangan Memata-Matai Pasangan Hidup

Kecurigaan banyak sekali melingkupi pasangan suami istri dalam membina rumah tangga sehingga tak sedikit seorang suami atau terkadang seorang istri selalu memata-matai kegiatan pasangannya dimanapun apalagi dengan mudahnya teknologi informasi saat ini maka yang paling sering terjadi seseorang mengecek handphone pasangannya, terus mengikuti gerak-geriknya hingga jauh diluar jangkauannya sekalipun.

Hal ini tentunya menimbulkan tanya, apakah memang sedemikian rendahnya kepercayaan seseorang terhadap pasangannya? Lalu apakah aksi memata-matai pasangan hidup itu dibenarkan dalam syariat agama?

Pada prinsipnya dalam Islam, kegiatan memata-matai untuk mencari kesalahan orang lain adalah perbuatan yang dilarang apalagi terjadi antara suami dan istri. Hal ini tentunya tidak diperkenankan lagi karena memata-matai selalu diiringi buruk sangka yang jelas-jelas dilarang dalam agama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.” (QS. Al Hujuraat: 12)
Praktek semacam ini juga telah dipesankan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menjauhinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hindarilah berprasangka, karena berprasangka itu ucapan yang paling dusta dan jangan melakukan tajjassus (memata-matai) dan tahassus (mengorek-ngorek berita).” (HR. Ahmad dan Bukhari)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan ancaman orang yang mencari-cari aib orang lain maka Allah akan membeberkan kesalahannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kalian menyakiti sesama muslim, jangan menghina mereka, dan jangan mencari-cari kesalahan mereka karena orang yang mencari kesalahan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya dan membeberkannya meskipun dia bersembunyi di rumahnya.” (HR. Tirmidzi)
Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah disebutkan,
Ada seseorang yang digelandang di hadapan Ibnu Mas’ud dan dikatakan kepadanya bahwa di jenggot orang ini ada tetesan khamr lalu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan “Kita dilarang untuk memata-matai namun jika dia terang-terangan minum khamr kita akan menghukumnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Bahkan jika kecurigaan terhadap pasangan itu telah muncul, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarang seseorang untuk memata-matainya bahkan untuk memergokinya pun dilarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang pulang dari perjalanan jauh untuk mendatangi keluarganya di malam hari dengan tiba-tiba karena menyangka mereka berkhianat atau untuk mencari, memergoki kesalahan-kesalahan mereka.” (HR. Muslim)
Larangan memata-matai pasangan ini juga berlaku terhadap alat komunikasi pribadi yang dimiliki masing-masing pasangan. Beberapa lembaga fatwa kontemporer telah mengeluarkan larangan ini, sebaliknya yang perlu dibangun adalah sikap husnuzhan dan saling percaya. Masing-masing pasangan juga harus memantaskan dirinya sehingga layak dipercaya. Tidak memanfaatkan kepercayaan tersebut untuk mengkhianati pasangannya.

Namun jika seorang suami atau istri telah mengetahui bukti-bukti permulaan yang cukup kuat tentang ada hal-hal yang keliru pada pasangannya maka berilah peringatan dan nasihat yang baik. Jika seandainya persoalan tersebut cukup serius maka syariat juga telah memberikan jalan keluar dengan perpisahan secara baik-baik.

Memata-matai tentu tidak selamanya dilarang, polisi boleh memata-matai orang yang dicurigai sebagai pelaku kejahatan untuk mengantisipasi terjadinya kejahatan atau menyelamatkan masyarakat dengan menangkap orang tersebut. Harus ada alasan kuat untuk memata-matai dan polisi tidak boleh memata-matai rakyat yang tidak bersalah. Tidak dibenarkan mencari-cari aib orang lain pada barang-barang yang dimilikinya seperti handphone atau komputer.

Namun jika tanpa memata-matai kita menemukan file yang tidak dibenarkan syariat atau ada laporan bahwa dia menyimpan file tersebut hendaknya ia dinasehati agar takut kepada Allah dan menghapusnya.

Cemburu memang penting untuk kelangsungan rumah tangga tapi hendaknya dilakukan sesuai porsinya dan tidak berlebihan. Jangan sampai karena cemburu, terlebih hanya karena dipicu kecurigaan yang tidak beralasan justru menyulut persoalan yang jauh lebih besar.

Bagi seorang suami, cemburu bahkan wajib ada pada dirinya sehingga perilaku istri atau anak perempuannya yang mengarah pada sesuatu yang negatif bisa teratasi. Jika rasa itu tidak dimiliki oleh seorang suami justru akan terjerumus pada perilaku dayyuts atau perilaku yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu orang yang tidak memiliki kecemburuan terhadap istri dan anak perempuannya atau tidak peduli dengan maksiat yang ada dikeluarganya khususnya terhadap istri dan anak perempuannya. Justru sikap dayyuts ini yang dikecam dan diingatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya sebagaimana sabdanya:
“Tiga golongan manusia yang Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayyuts.” (HR. An Nasa’i)
Bahkan surga diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala pada orang-orang yang tidak memiliki rasa cemburu semacam itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Tiga golongan manusia yang Allah tabaraka wa ta’ala mengharamkan surga bagi mereka yaitu pecandu khamr, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan dayyuts yang membiarkan kefasikan dan kefajiran dalam keluarganya.” (HR. Ahmad)
Kecemburuan seorang suami memang wajib ada pada dirinya untuk mencegah maksiat dikeluarganya tetapi tetap perlu diingat bahwa kecemburuan seperti ini hendaknya tidak melahirkan sikap su’uzhan atau buruk sangka yang akhirnya justru terjebak dalam praktek memata-matai pasangannya. Wallahu a’lam.