Larangan Melintas Di Depan Orang Yang Sedang Shalat

Banyak yang berpendapat bahwa melintas di depan orang yang sedang shalat tidak diperbolehkan bahkan hukumnya haram, padahal seringkali anak-anak kecil yang diajak ke masjid untuk shalat berjamaah malah berlarian di depan orang yang sedang shalat.

Apa yang seharusnya dilakukan orang tua terhadap tingkah anaknya tersebut? Bagaimana pula dengan kasus lain yang terjadi di Masjidil Haram? Beberapa kali dijumpai seseorang yang melintas di depan orang yang sedang shalat tetapi didiamkan dan tampak seperti hal yang biasa saja, bagaimana sebenarnya kasus ini dalam pandangan Islam? Apakah ketika shalat kita harus memberi sutrah atau tanda batas di hadapan kita?

Berikut penjelasan Ust. Ahmad Sarwat, LC. MA: melewati orang yang sedang shalat, kita lewat di depannya itu dilarang dalam agama bahkan Nabi mengatakan “Lebih baik dia menunggu sampai empat puluh lamanya”, tidak disebutkan empat puluh hari, empat puluh tahun, atau apa, tapi yang jelas dia lebih baik menunggu daripada melewati orang yang shalat.

Itu kalau kita tahu ada orang shalat lalu sengaja kita lewati di depannya, sesuatu yang diharamkan dalam syariat Islam bahkan kita sebagai orang yang shalat kalau tahu ada orang yang mau melewati kita, kata Nabi “Cegahlah dia!” dan kalau dia masih mau nekat mau lewat juga kata Nabi “Bunuhlah dia! Sebenarnya dia setan.”

Tentu hadits ini tidak bisa kita pahami secara apa adanya, maksudnya adalah bahwa melewati orang yang sedang shalat itu tidak diperkenankan baik yang mau melewati itu dia harus tahu tidak boleh lewat, ataupun kita yang sedang shalat (yang mau dilewati) kita juga diperintah Nabi untuk mencegahnya kalau dia lewat dari kanan kita cegah di kanan, kalau mau lewat dari kiri kita cegah di kiri agar jangan sampai kita shalat ini dilewati di depan kita oleh orang yang entah dia sengaja, entah dia tidak sengaja, entah dia tahu atau tidak.

Ketika kita ke masjid membawa anak kecil, salah satu resikonya adalah anak-anak ini akan lewat di depan kita bahkan mondar-mandir, mengganggu kita, dan sebagainya. Tetap seperti biasa, yang namanya melewati orang shalat itu tidak boleh, termasuk anak kecil juga perlu kita cegah juga. Tapi kalau kita mau nyaman sebaiknya anak kecil yang belum tahu aturan shalat itu sebaiknya tidak usah diajak ke masjid biar dia belajar dulu dengan baik di rumah.

Kalau dia sudah mumayyiz, sudah usia 6-7 tahun sudah mengerti aturan bagaimana, apa yang boleh dan tidak boleh, baru kita ajak ke masjid. Tapi untuk yang masih baru 2-3 tahun, jangan bersembunyi dibalik parenting islami padahal tidak mengerti agama Islam, bukan begitu caranya mendidik umat Islam, anak-anak kita untuk belajar mengenal masjid. Mengenal masjid itu silakan saja tapi bukan mengganggu orang sedang shalat lalu dia berkeliaran di depan kita yang malah terjadi pelanggaran-pelanggaran berikutnya. Memang anak kecil tidak bisa dilarang, tapi kebijakan dari orang tua itu yang lebih penting, tidak harus anaknya dibawa ke masjid kalau memang usianya belum memungkinkan.

Bagaimana dengan yang terjadi di Masjidil Haram? Memang sering kita perhatikan di Masjidil Haram ketika kita sedang shalat itu tiba-tiba ada orang lewat begitu saja di depan kita. ini ada beberapa kemungkinan,
  1. Bisa jadi mereka yang lewat di depan kita memang dia tidak tahu aturan, tidak tahu adanya haramnya tidak boleh melewati orang yang sedang shalat.
  2. Mungkin saja ada sebagian ulama yang punya pandangan: tidak boleh melewati orang shalat itu maksudnya kalau orang shalatnya lagi sendirian atau misalnya dia jadi imam sementara kalau kita shalat berjamaah dimana terdiri dari shaf-shaf itu maka sela-sela diantara shaf-shaf itu kalau dia lewat misalnya dia punya udzur, misalnya harus keluar buang hajat, dan sebagainya dia lewat itu dengan keyakinan bahwa ini tidak termasuk yang dilarang karena ini bagian dari jamaah.
Melewati shaf-shaf itu dianggap oleh sebagian kalangan adalah sesuatu yang diluar dari larangan Rasulullah karena yang dilarang adalah melewati orang yang sedang shalatnya sendirian, tetapi kalau shalatnya berjamaah di sela-selanya itu sebagian ulama mengatakan boleh walaupun kita di Indonesia rata-rata para ulama kita menganggap bahwa itu tidak boleh juga.

Oleh karena itu, tidak mengapa  kalau kita mau shalat kita cari sutrah sebutlah misalnya ada tiang, tembok, atau ada suatu benda tertentu yang memang bisa dijadikan sutrah. Sutrah itu dibutuhkan ketika ada resiko memang banyak orang yang akan melewati kita, boleh jadi memang orang yang tidak tahu keharusan atau larangan yang terkait dengan melewati orang yang sedang shalat.

Maka kita upayakan, jika kita shalat sendirian maka dekati tembok atau tiang, alat-alat tertentu, dan sebagainya (perabot yang bisa kita jadikan sebagai tanda) dan silakan lewat dibalik dari sutrah itu dan jangan lewat antara orang yang shalat dengan sutrahnya. Jaraknya tidak usah terlalu jauh, sebatas kita sampai sujud saja atau sebatas bentangan tangan kita.