Kesucian Air Hujan dan Kekotoran Air Banjir

Pada musim hujan, kita seringkali terkendala dengan masalah genangan air hujan di jalanan. Terkadang saat kita berpakaian rapi dan suci, tak jarang dalam perjalanan terkena cipratan air genangan sehingga kita ragu dengan kesucian air yang menyiprat itu, apakah tetap suci atau najis?

Para ulama sepakat bahwa air hujan yang jatuh dari langit merupakan salah satu anugerah terindah dari Allah subhanahu wa ta’ala yang dihukumi suci dan mensucikan. Karena itu, air hujan bisa digunakan untuk bersuci dari hadats besar maupun kecil dan juga bisa dikonsumsi selama tidak bercampur najis. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu” (QS. Al Anfaal: 11)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman yang artinya:
“Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih,” (QS. Al Furqaan: 48)
Dari Yazid bin Al Had bahwa apabila ada air hujan mengalir di lembah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci.” Kemudian kami bersuci dengannya. (HR. Al Baihaqi)
Namun yang menjadi masalah adalah apabila air hujan itu telah jatuh ke tanah dan menggenang di air, apakah tetap suci atau najis? Lalu bagaimana jika pakaian kita terciprat air genangan itu? Apakah pakaian kita menjadi najis?

Berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mayoritas ulama berpendapat bahwa air hujan yang menggenang di jalan meskipun berubah warnanya karena bercampur tanah, hukumnya tetap suci selama tidak diketahui bercampur dengan benda najis apalagi jika genangan air hujan tersebut tergolong baru karena belum terserap ke dalam tanah.

Oleh karena itu, jika cipratan air tersebut mengenai pakaian maka tidak menyebabkan najis sebab genangan air hujan itu masih tergolong air yang suci. Namun demikian, meski air genangan itu suci tidak serta merta dapat digunakan untuk bersuci seperti berwudhu sebab air tersebut telah bercampur dengan tanah dan keruh yang kemungkinan juga bercampur kuman dan bakteri karena tidak bersih.

Seorang ulama madzhab Syafi’i menjelaskan bahwa genangan air hujan di jalan yang memercik ke pakaian tidak membuat pakaian najis apalagi dalam keadaan sulit dihindari sebab meskipun mengandung kotoran, air seperti ini termasuk najis yang dimaafkan.

Sekalipun air genangan itu diketahui bercampur najis maka percikannya yang sedikit tidak menyebabkan pakaiannya menjadi najis karena termasuk najis yang dimaafkan. Inilah yang ditegaskan oleh Imam Ar Rafi’i dalam kitabnya Al Aziz fi Syahr Al Wajiz, jika diyakini jalan tersebut ada najisnya maka hukumnya dimaafkan jika percikannya hanya sedikit namun jika percikan tersebut banyak maka tidak dimaafkan sebagaimana hukumnya najis-najis yang lain.

Lalu bagaimana jika air hujan itu mengalir ke selokan dan meluber ke jalan sehingga air hujan bercampur dengan air selokan? Apakah pakaian yang terkena cipratannya bisa menyebabkan najis?

Dalam hal ini perlu dilihat mana yang dominan, jika air selokan sedikit dan air hujan jauh lebih banyak volumenya sehingga air selokan tidak mempengaruhi warna, rasa, dan bau dari air hujan tersebut yang terus mengalir maka air ini jika memercik ke pakaian meski dengan volume yang agak banyak maka pakaian itu tetap suci dan tidak najis.

Namun apabila air selokan yang meluber ke jalan lebih dominan daripada air hujan yang jatuh dari langit baik warna, rasa, dan baunya maka jika pakaian terkena percikannya dalam volume yang tidak sedikit seperti jika air tersebut memercik dari roda kendaraan lain artinya lebih dari satu titik dan terlihat jelas maka pakaian itu najis dan tidak boleh dipakai untuk shalat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya air itu tidak dinajisi oleh sesuatu apapun kecuali jika najis tersebut merubah baunya, rasanya, dan warnanya.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim)
Dalam riwayat lain dinyatakan,
“Air itu thahuur atau suci dan mensucikan kecuali jika berubah rasanya, baunya, dan warnanya karena najis yang terjatuh ke dalamnya.” (HR. Al Baihaqi)
Meskipun kedua hadits ini dinilai dhaif atau lemah secara sanad namun para ulama sepakat bahwa maknanya benar yaitu air yang salah satu dari ketiga sifatnya (warna, rasa, atau baunya) berubah karena najis maka air tersebut menjadi najis. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam Asy Syafi’i dan ulama lainnya.

Lalu bagaimana dengan air banjir saat hujan lebat terjadi yang menyebabkan air sungai meluap dan membanjiri jalanan dan pemukiman, apakah air banjir ini najis atau suci? Jika terkena pakaian kita, apakah menjadi najis?

Para ulama dari empat madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat bahwa banjir merupakan salah satu dari peristiwa yang termasuk dalam kategori Umum ul Balwa artinya bencana yang terjadi secara umum dan menyeluruh sehingga menyulitkan kita untuk melaksanakan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, air banjir yang meluap dari sungai dan bercampur dengan berbagai kotoran jika terkena pakaian sedikit atau banyak tidak akan membuat pakaian menjadi najis, karena Umum ul Balwa atau bencana termasuk keadaan yang dimaafkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana firman-Nya yang artinya:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)
Sebagaimana juga dalam firman-Nya yang artinya:
“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj: 78)
Namun demikian, tidak semua jenis bencana ini dimaafkan. Apabila banjir tersebut membawa banyak kotoran berupa limbah manusia dan hewan yang menyebabkan perubahan pada bau air, rasa, dan warnanya yang keruh kehitam-hitaman, yang bukan warna tanah, melainkan karena banyaknya kotoran maka air tersebut menjadi najis. Wallahu a’lam.