Kegiatan Mengkhatamkan Al Qur’an Berjama’ah

Membaca Al Qur’an merupakan salah satu ibadah yang disyaratkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala hingga banyak yang berlomba-lomba dalam membacanya. Namun seringkali kita jumpai Khatmil Qur’an atau mengkhatamkan Al Qur’an dilakukan secara berjamaah. Biasanya setiap anggota dibagikan juz atau ayat tertentu yang harus dibaca.

Pertanyaannya, apakah membaca dengan cara seperti ini sudah dianggap mengkhatamkan Al Qur’an atau hanya mengkhatamkan satu juz saja? lalu bagaimana syariat Islam mengaturnya? Apakah meng-khatam-kan Al Qur’an harus membaca surahnya berurutan?

Berikut pemaparan dari Ust. Ahmad Sarwat, Lc, MA.: Mengkhatamkan Al Qur’an itu maksudnya membaca Al Qur’an seluruhnya sampai khatam dari mulai surah yang pertama Al Fatihah sampai surah yang terakhir An Naas dari juz pertama sampai juz ke 30.

Dikatakan seorang khatam Al Qur’an kalau dia membaca Al Qur’an seluruhnya, kalau dia hanya membaca satu juz misalnya atau cuma dua juz misalnya maka dia dikatakan mengkhatamkan tapi hanya satu juz atau dua juz itu tidak mengkhatamkan dalam arti yang sesungguhnya yaitu kemudian mengkhatamkan 30 juz seluruhnya.

Artinya kalau ada acara Khatam Qur’an, ini yang mengkhatamkan siapa? Apakah yang hadir disitu kemudian mengkhatamkan secara bersama-sama ataukah yang mengkhatamkan satu orang satu orang. Kalau mengkhatamkan satu orang satu orang tentu kelihatannya tidak, karena satu orang hanya membaca satu juz atau dua juz lalu kebetulan yang hadir disitu ada 15 atau 30 orang misalnya maka membaca satu juz itu tidak lama hanya sekitar 20 menit dan itu selesai semua terbaca 30 juznya asalkan yang membaca ada 30 orang.

Khatam Al Qur’an itu ada dua macam:
  1. Secara Jama’i dimana sekian banyak orang berkumpul dan membaca Al Qur’an dalam satu waktu lalu masing-masing mendapatkan juz-juz tertentu yang berbeda-beda itu disebut khatam Al Qur’an juga tapi khatam jama’i atau secara kolektif.
  2. Secara Infiradi secara orang per orang, kalau kita membaca Al Qur’an salah satu diantara adabnya adalah kita harus membaca dengan tartib yang ada di mushaf, istilahnya Tartib Mushafi mulai dari surah Al Fatihah kemudian Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al Maa-idah dan seterusnya  sampai surah yang ke 114 menjadi salah satu adab kita dalam mengkhatamkan Al Qur’an.
Boleh saja kita membaca Al Qur’an acak-acakan sebagaimana Tartib Nuzuli tetapi tidak sebagaimana yang disarankan oleh para ulama yaitu membaca dengan Tartib Mushafi dengan urut-urutan sebagaimana ada di mushaf karena itulah yang kemudian dicontohkan dulu oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau disuruh mengulang-ulang oleh Jibril ‘alaihi salam di masa-masa terakhir dari kehidupan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan-bulan Ramadhan, di malam-malamnya itu Jibril kemudian turun lagi untuk mengulang-ulang hafalan Rasulullah dan diriwayatkan itu dengan tartibnya yaitu Tartib Mushafi.