Jika Pakaian/Celana Terkena Percikan Najis [Air Kencing Atau Air Bekas Cebok]

Kebanyakan najis yang dihadapi oleh seorang muslim dalam kesehariannya adalah najis yang berasal dari kotorannya sendiri yaitu sesuatu yang keluar dari kemaluan dan duburnya. Oleh karena itu, jika tidak berhati-hati, maka dengan mudah najis itu akan menempel pada tubuh dan pakaiannya. Akibatnya pun tidak ringan, bisa menyebabkan shalatnya tidak sah dan amalnya sia-sia.

Itu sebabnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mewanti-wanti kita agar selalu waspada dari najis terutama dari air kencing kita sendiri. Beliau bersabda:
“Bersihkanlah dirimu dari kencing, karena kebanyakan siksa kubur disebabkan oleh kencing.” (HR. Ad Daruquthni)
Masalah yang kemudian timbul dalam kehidupan sehari-hari kita adalah bahwa model toilet saat ini sangat memungkinkan seseorang untuk terciprat najis misalnya model sarana buang air kecil dalam posisi berdiri tanpa adanya pelindung, meskipun memang ada sebagian tempat yang menggunakan pelindung. Jika seseorang buang air kecil di tempat seperti ini lalu celananya terciprat air kencingnya, apakah pakaian itu najis dan tidak boleh digunakan untuk shalat?

Mayoritas ulama dari empat madzhab sepakat bahwa najis yang sulit dihindari karena terkait dengan pekerjaan seseorang misalnya percikan darah yang terkena tukang jagal, percikan najis yang mengenai petugas kebersihan, dan lainnya maka semua ini hukumnya darurat dan dimaafkan sehingga apabila ia shalat dengan pakaiannya tersebut maka shalatnya sah.

Namun jika tidak terkait dengan pekerjaan seseorang tetapi ia sering dihadapkan pada kemungkinan najis tersebut misalnya seseorang yang bekerja di gedung dengan kondisi toilet berdiri tanpa pelindung dari percikan, jika kejadian ini termasuk yang sulit dihindari seperti yang dikatakan oleh para ulama empat madzhab ini maka percikan najisnya dimaafkan. Itu pun perlu dilihat seberapa banyak cipratannya. Yang termasuk dimaafkan disini jika cipratannya sedikit. Lantas adakah ukuran standar najis sedikit itu seperti apa dan banyak itu seperti apa?

Memang tidak mudah untuk menakar kadar sedikitnya cipratan najis yang menempel pada pakaian. Itu sebabnya para ulama berbeda pendapat tentang kadar percikan najis yang sedikit dan dimaafkan jika terkena pakaian.

Menurut madzhab Syafi'i, percikan najis ke pakaian yang dimaafkan oleh syariat agama adalah jika percikan najis tersebut tidak tampak dan tidak terlihat di pakaian oleh mata normal. Maka pakaian yang terkena percikan dengan kadar yang tidak terlihat ini boleh digunakan untuk shalat dan shalatnya tetap sah.

Namun sebagian ulama seperti madzhab Hanafi pendapatnya lebih longgar. Menurut madzhab ini, najis yang dimaafkan apabila ukurannya sebesar kepala jarum karena percikan najis sebesar kepala jarum ini terlihat samar di pakaian dan tidak jelas. Karena itu dalam madzhab Hanafi, pakaian yang terkena percikan najis seperti ini boleh dipakai untuk shalat dan shalatnya sah.

Kedua pendapat ini didasarkan kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)
Namun sebagian ulama lain berpendapat sebaliknya, seperti misalnya pendapat madzhab Hanbali bahwa percikan najis yang mengenai pakaian sedikit atau banyak hukumnya sama, tetap najis. Sehingga pakaian yang terkena cipratan najis itu tidak lagi suci meskipun percikan itu tidak terlihat oleh mata. Oleh karena itu, pakaian yang terkena cipratan najis itu tidak boleh dikenakan untuk shalat. Hal ini didasarkan pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan pakaianmu bersihkanlah,” (QS. Al Muddatstsir: 4)
Namun begitu, ketetapan istijmar atau membersihkan najis selain menggunakan air, dibenarkan dalam syariat agama. Menggunakan batu misalnya bisa membersihkan kotoran najis pada dubur kita yang tentunya tidak akan bisa bersih 100%, bisa jadi masih tersisa namun tak tampak dan tak terasakan. Ini membuktikan bahwa pakaian yang kecipratan air kencing, jika tak terlihat maka hal itu termasuk yang dimaafkan dalam syariat agama.

Salman radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami beristijmar (cebok dengan selain air) kurang dari tiga batu.” (HR. Muslim)
Lalu bagaimana jika pakaian terkena air bekas cebok, apakah najis?

Seringkali ketika kita membersihkan bekas kencing dalam keadaan berdiri sebagian air yang mengucur ke tempat najis itu terjatuh ke celana. Apakah air bekas cebok ini najis dan tidak boleh digunakan untuk shalat?

Para ulama berbeda pendapat tentang air bekas pakai yang digunakan untuk menghilangkan najis. Sebagian ulama berpendapat bahwa air yang dialirkan untuk menghilangkan suatu najis dan najis tersebut larut bersama air maka air tersebut hukumnya suci dan tidak najis. Karena itu, apabila terkena pakaian maka air bekas cebok tidak membuat pakaian menjadi najis sehingga tetap boleh digunakan untuk shalat.

Imam Ash Shan’ani dalam kitabnya Subulus Salam menjelaskan bahwa mengalirkan air dengan cara apapun pada najis itu cukup untuk mensucikannya, apabila benda najisnya hilang dan larut dengan air.

Namun sebagian ulama yang lain merinci lebih detail, bahwa air bekas cebok yang pertama dan yang kedua itu hukumnya najis. Maka apabila terkena pakaian, ia menjadi najis. Sedangkan air bekas cebok yang ketiga hukumnya suci. Dan karena itu, apabila terkena pakaian maka ia tidak menjadi najis dan dapat dipakai untuk shalat. Hal ini ditegaskan oleh ulama kontemporer, bahwa air basuhan terakhir yang menghilangkan najis tersebut maka air itu suci.

Terlepas dari perbedaan ini maka berhati-hati untuk tidak terkena air bekas cebok itu lebih baik dan lebih selamat dari ancaman siksa kubur akibat lalai terhadap kebersihan air kencing karena disamping bisa membuat celana najis pada bekas cebokan pertama dan kedua, air bekas cebok di celana juga menunjukkan kesan jorok dan tidak rapi. Wallahu a’lam bishshawab.