Jika Berniat Membatalkan Puasa Maka Puasanya Batal

Dalam menjalankan ibadah puasa terkadang timbul dalam hati, niat ingin membatalkan puasa. Masalahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan dalam sabdanya bahwa amalan itu tergantung niatnya, apakah dengan demikian munculnya niat membatalkan puasa itu biasa benar-benar membatalkan puasanya pada hari itu?

Keinginan membatalkan puasa yang sering timbul tiba-tiba dalam hati merupakan was-was batin yang Allah maafkan. Hal ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya Allah memaafkan was-was batin yang terjadi pada umatku atau lintasan hatinya selama tidak diamalkan atau diucapkan.” (HR. Bukhari)
Imam An Nawawi mengatakan lintasan dan bisikan hati selama tidak keterusan bersarang kepada pemiliknya, statusnya dimaafkan dengan sepakat ulama karena dia tidak memiliki pilihan untuk menghindarinya dan tidak ada jalan lain untuk terlepas darinya.

Ulama kontemporer menjelaskan apabila keinginan atau niat buruk itu telah menetap dalam hati dan menjadi amal hati maka disinilah manusia berhak mendapat hukuman. Akan tetapi apabila keinginan itu hanya lintasan dalam pikiran, tidak mengendap, Allah tidak menghisabnya. Hadits ini menjadi dasar mayoritas ulama bahwa niat membatalkan puasa tidak dapat membatalkan puasanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah berfirman “Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan kejahatan.” Kemudian beliau menjelaskan “Siapa yang bertekad melakukan kebaikan lantas tidak jadi ia amalkan, Allah mencatat satu kebaikan di sisinya secara sempurna. Dan jika ia bertekad kemudian ia amalkan, maka Allah mencatatnya sepuluh kebaikan bahkan hingga dilipatgandakan tujuh ratus kali sampai tak terbatas. Sebaliknya, barangsiapa yang bertekad melakukan amalan jahat kemudian tidak jadi ia lakukan, maka Allah mencatat satu kebaikan di sisinya secara sempurna. Dan jika ia bertekad melakukan kejahatan dan melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejahatan saja”.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jika seseorang bertekad untuk membatalkan puasanya kemudian ia mengurungkan niatnya itu, maka baginya satu kebaikan dan keinginan tersebut tidak membatalkan puasanya. Akan tetapi jika ia tetap membatalkannya sebelum waktu berbuka, maka Allah mencatatnya sebagai satu dosa.

Memang sebagian ulama seperti ulama kalangan madzhab Hambali dan Maliki berpendapat bahwa niat berbuka termasuk perkara yang membatalkan puasa karena segala ibadah mahdhah (ritual) itu dinilai dari niat seseorang.  Apabila niat itu rusak, rusaklah ibadahnya. Bahkan ulama kontemporer dari kalangan madzhab ini menegaskan bahwa sekalipun dia kemudian tidak makan atau minum, jika telah berniat membatalkan puasanya maka puasanya tetap batal.

Lalu bagaimana jika seseorang masih ragu antara keinginan membatalkan puasa dan niat melanjutkan, apakah termasuk membatalkan puasa?

Salah satu ulama Hambali mengatakan berdasarkan madzhab Hambali apabila seseorang mengalami keraguan antara berbuka ataukah melanjutkan puasa atau dia berniat untuk membatalkan puasa pada saat tertentu atau dia mengatakan “Jika menemukan makanan nanti saya makan, jika tidak saya lanjutkan puasa.” Perbedaan semacam ini seperti perbedaan dalam masalah keraguan niat dalam shalat.

An Nawawi menjelaskan jika ada orang yang mengalami keraguan untuk membatalkan puasanya atau dia berniat batal jika ada seseorang yang masuk atau dikaitkan dengan syarat lainnya maka sebagian ulama ada yang menjelaskan bahwa puasanya batal. Akan tetapi dalam madzhab Syafi’i, yang demikian ini tidak membatalkan puasanya. Wallahu a’lam.