Hukum Mimisan Saat Sedang Shalat Menurut Syariat Agama Islam

Mimisan atau keluar darah dari hidung merupakan kondisi yang cukup banyak dialami sebagian orang. Mimisan ini seringkali tidak disertai gejala khusus sehingga cukup sulit diprediksi dan bisa saja mimisan terjadi ketika seseorang sedang melaksanakan shalat.

Lalu bagaimana hukum mimisan atau darah yang keluar dari hidung saat shalat berlangsung, apakah membatalkan shalat? Jika darah mimisan itu mengenai pakaian yang digunakan untuk shalat, bagaimana pula hukumnya?

Menjawab masalah ini haruslah dilihat dulu, apakah mimisan dapat membatalkan wudhu karena setiap yang membatalkan wudhu, sudah pasti membatalkan shalat. Keluarnya darah dari hidung menurut madzhab Syafi’i dan Maliki tidaklah membatalkan wudhu. Imam Nawawi menegaskan bahwa darah yang keluar selain dari dua jalan qubul dan dubur, tidaklah membatalkan wudhu seperti darah yang keluar karena bekam, muntah, atau mimisan baik sedikit maupun banyak tidaklah membatalkan wudhu.

Bahkan menurut Imam Baghawi, pendapat tersebut merupakan pendapat mayoritas sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tabi’in. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, pada dasarnya orang yang telah berwudhu berada dalam kondisi suci, maka jika menyatakan wudhunya batal tentu membutuhkan dalil.

Dalil lainnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dawud dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata,
Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Dzaturriqa, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah di suatu tempat maka beliau bersabda “Siapa yang bersedia melindungi kami?” maka bertugaslah seorang dari kalangan Kaum Muhajirin dan seorang dari kalangan Anshar lalu beliau berkata “Hendaklah kalian berdua berjalan di depan perkampungan!” Setelah mereka berada di depan perkampungan maka seorang dari kalangan Kaum Muhajirin berbaring, sedang seorang dari kalangan Anshar melakukan shalat. Kemudian datang seorang dari kalangan Musyrik lalu menghujamkan tiga anak panah kepadanya, namun orang itu meneruskan ruku’ dan sujud lalu temannya menyadari ketika orang dari kalangan Muhajirin melihat darah yang terdapat pada orang Anshar, dia berkata “Subhanallah, mengapa tidak engkau beritahu aku saat pertama kali engkau terkena anak panah?” Dia berkata “Saya ketika itu sedang membaca surah karena itu saya tidak ingin memotongnya.” (HR. Abu Dawud)
Dalam hadits ini disebutkan adanya seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang shalat dan berdarah tapi ia tidak membatalkan shalat dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui peristiwa tersebut juga tidak menyalahkan tindakan sahabat yang tetap meneruskan shalatnya sekalipun berdarah.

Selain itu, ada juga sebuah riwayat dari Imam Bukhari dalam kitab shahihnya dari Al Hasan ia berkata “Dari dahulu kaum muslimin terbiasa shalat dengan luka-luka mereka.”

Memang sebagian ulama seperti dalam madzhab Hanafi dan Hanbali mengatakan bahwa hal itu membatalkan wudhu dengan dalil hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang muntah atau mimisan atau keluar sisa makanan dan yang lainnya dari kerongkongan atau madzi maka hendaklah dia berwudhu.” (HR. Ibnu Majah dari Daruquthni)
Akan tetapi hadits ini dilemahkan oleh banyak ulama hadits termasuk Imam Nawawi, jika mimisan tidak membatalkan wudhu, apakah juga berarti tidak membatalkan shalat?

Mayoritas ulama sepakat bahwa keluarnya darah dalam jumlah yang sedikit seperti mimisan termasuk perkara yang dimaafkan didalam shalat namun jika jumlahnya banyak dan dikhawatirkan mengenai pakaian dan tempat shalat maka ia harus menghentikan shalatnya kemudian membersihkan darah tersebut dan tidak perlu mengulang lagi wudhunya karena keluar darah dari hidung tidak membatalkan wudhu. Meskipun mimisan tidak membatalkan wudhu tapi darah yang keluar dari tubuh manusia hukumnya najis sedangkan shalat disarankan kesucian badan, pakaian, dan tempat.

Adapun tentang najisnya darah, para ulama berdalil dengan firman Allah ta’ala surah Al An’am ayat 145 yang menjelaskan macam-macam zat yang haram yang di dalam air tersebut disebutkan salah satunya adalah darah yang mengucur. Kemudian dalam ayat yang sama, Allah subhanahu wa ta’ala juga menjelaskan bahwa ia adalah kotoran yang dipahami oleh para ulama sebagai najis.

Begitu juga dengan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencuci darah haid, nifas, dan istihadhah. Perintah tersebut menunjukkan bahwa darah adalah najis sehingga harus dibersihkan ketika hendak shalat. Lalu bagaimana jika setelah dibersihkan keluar lagi dan terus menerus mengucur?

Jika setelah dibersihkan tapi darah mimisan tersebut tidak berhenti keluar, dan dikhawatirkan jika menunggu darah tersebut berhenti, waktu shalat akan berlalu maka disini ia mendapat keringanan atau rukhshah untuk tetap shalat meskipun dengan darah yang mengucur dari hidung. Akan tetapi harus diupayakan untuk menahan darah yang keluar dari hidung dengan menyumpal hidung dengan tisu atau kain atau sejenisnya agar darahnya tidak keluar lagi. Hal ini berdasarkan kisah sahabat yang terkena panah ketika sedang shalat tapi tetap melanjutkan shalatnya.

Peristiwa pembunuhan Umar bin Khattab juga menjadi dalil akan masalah ini, saat itu Umar bin Khattab tetap melanjutkan shalatnya sekalipun ditikam dengan belati sehingga darah mengucur. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab masih meneruskan shalat setelah ditikam, sedang darahnya masih mengalir deras.

Kasus lain juga terjadi pada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sa’ad bin Muadz yang shalat dalam keadaan luka ketika perang ahza. Oleh karena itu, darah yang keluar dari sifat seperti itu termasuk dalam kategori yang dimaafkan. Wallahu a’lam.