Haramkah Bumbu Penyedap Rasa Masakan Dari Khamr?

Banyak sajian masakan menggunakan penyedap rasa khusus yang menghasilkan cita rasa yang lezat namun tak jarang kita mendapati ada masakan-masakan tertentu yang bumbu penyedapnya berasal dari bahan yang diharamkan.

Ketika khamr seperti arak dan anggur atau wine kemudian dijadikan sebagai bumbu atau penyedap rasa, apakah keharaman itu tetap berlaku? Mengingat kandungan alkohol yang dimasak atau dipanaskan akan hilang menguap dan bagaimanakah syariat Islam mengatur masalah ini?

Berikut pemaparan Ust. Ahmad Sarwat, LC. MA: Makanan yang tercampur dengan khamr yaitu minuman keras yang memabukkan memang banyak para ulama mengatakan itu berarti masakan yang haram dikonsumsi karena khamr itu banyak atau sedikit diminum itu haram, mabuk tidak mabuk, pokoknya kalau minum khamr itu haram berarti apabila seorang memakan makanan yang dicampurkan ke dalamnya khamr, maka makanan itu menjadi haram juga. Ini adalah kebanyakan fatwa para ulama kita di Indonesia.

Namun sebenarnya dalam masalah ini, kita bisa juga membuat semacam studi perbandingan di beberapa negara yang lain sebutlah misalnya di Saudi Arabia, Mufti Kerajaan Saudi Arabia Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin termasuk diantara kalangan ulama yang punya pandangan agak sedikit berbeda. Beliau mengatakan bahwa memang kalau memang minuman keras atau khamr itu diminum, mabuk tidak mabuk memang haram tetapi kalau dicampurkan ke benda yang lain sebutlah ke air, makanan, dan sebagainya ada kira-kira 1-3% menurut beliau ini tidak ada pengaruhnya, karena yang dimakan atau yang dikonsumsi itu adalah yang lebih banyak bukan khamrnya daripada khamrnya itu sendiri.

Jadi yang dilihat adalah hasil akhirnya, apakah kalau kita konsumsi makanan ini kita jadi mabuk atau tidak. Menurut beliau kalau cuma satu, dua, atau tiga persen itu tidak memabukkan. Walaupun kalau diminum yang banyak itu memabukkan tapi kalau dia dicampur dengan makanan, dengan minuman, dan sebagainya yang jumlahnya atau kadarnya jauh lebih banyak lagi maka secara keseluruhan dia malah terabaikan. Khamrnya atau alkoholnya menjadi terabaikan, menjadi mustahlak, hilang/lenyap. Ketika tidak memabukkan maka tidak diharamkan karena illat haramnya makanan atau minuman itu yang pertama adalah apakah dia memabukkan atau tidak, bukan apakah dia mengandung alkohol atau tidak. Ini satu logika pendekatan tersendiri dan kita di Indonesia rata-rata tidak demikian.

Khamr di masa Rasulullah terbuat dari anggur dan kurma yang diperas dan kemudian mengalami fermentasi. Pada hari ketiga setelah hari fermentasi itu barulah dia menjadi khamr yang haram, tapi ketika baru mengalami hari pertama dan kedua fermentasi buah anggur dan kurma itu, Nabi masih suka meminumnya termasuk minuman yang Nabi sangat sukai.

Kita bisa pakai pendapat yang strict untuk dapat berhati-hati tapi kita juga jangan khawatir dulu kalau ada saudara kita yang mungkin pakai pendapat yang agak lebih sedikit moderat atau lebih terbuka karena juga punya dalil/hujjah yang boleh jadi kita tidak setuju tapi kita juga harus menghormati pendapat-pendapat yang ada. Sehingga fiqih kuliner itu juga tidak bisa terlepas dari yang namanya fiqih ikhtilaf, perbedaan pendapat diantara para ulama, antara yang menghalalkan, memakruhkan, mengharamkan, atau mungkin yang lebih enaknya buat kita adalah kalau kita tidak terlalu yakin ini halal sebaiknya tidak usah kita makan.