Bolehkah Shalat Tahajud Sebelum Tidur?

Shalat malam adalah shalat paling utama setelah shalat fardhu untuk dikerjakan oleh seorang muslim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya “Shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu dan puasa apakah yang paling utama setelah puasa Ramadhan?” Beliau menjawab “Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat pada sepertiga akhir malam dan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram yang merupakan bulan Allah.” (HR. Imam Muslim)
Ada setidaknya dua sebutan untuk shalat sunnah pada waktu malam ini yaitu Qiyamul Lail dan Tahajud. Qiyamul Lail artinya menggunakan waktu malam walau sebagiannya untuk mengerjakan shalat atau ibadah-ibadah lainnya dan itu tidak disyaratkan untuk menggunakan sebagian besar waktu malam.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahkan mengatakan bahwa seseorang sudah dikatakan melakukan Qiyamul Lail jika melaksanakan Shalat Isya berjamaah dan bertekad untuk melakukan Shalat Shubuh berjamaah pula. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa melakukan Shalat Isya berjamaah, ia seolah-olah melakukan Qiyamul Lail separuh malam. Dan barangsiapa melakukan Shalat Shubuh berjamaah, ia seolah-olah melakukan Qiyamul Lail satu malam penuh.” (HR. Imam Muslim dari penuturan sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu)
Sebutan lainnya untuk shalat sunnah ini adalah Shalat Tahajud. Al Qadhi Husain menjelaskan bahwa Shalat Tahajud adalah shalat sunnah pada waktu malam yang dikerjakan setelah tidur. Pengerjaan ini diperkuat oleh riwayat dari Al Hajjaj bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata “Ada yang mengira bahwa jika seorang berjaga pada waktu malam dan melakukan shalat sunnah sampai waktu shubuh, ia telah mengerjakan Tahajud, padahal Tahajud adalah mengerjakan shalat malam setelah tidur.”

Pengertian Al Hajjaj ini cukup beralasan sebab secara bahasa kata Al Hajid dalam bahasa Arab mengandung arti An Na’im yakni orang yang sedang tidur. Seseorang yang disebut melakukan Tahajud adalah orang yang melakukan shalat sunnah pada waktu malam setelah sebelumnya tidur. Di sisi lain diriwayatkan bahwa, A’isyah dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan juga Mujahid menafsirkan kata “Nasyi’atul Laili” dalam surah Al Muzzammil, sebagai shalat yang dilakukan setelah tidur dan ini sejalan dengan makna Tahajud.

Dari sini dapat kita pahami bahwa Qiyamul Lail lebih umum daripada Tahajud, aktivitas ibadah apapun yang dikerjakan pada waktu malam dapat disebut Qiyamul Lail sedangkan Tahajud terbatas pada aktivitas shalat malam, masalahnya bagaimana jika kita melakukan Shalat Tahajud tanpa tidur malam? Apakah masih tetap mendapatkan pahala Tahajud?

Shalat Tahajud memang dikerjakan setelah bangun tidur di sepertiga malam utamanya pada sepertiga malam terakhir. Akan tetapi, jika sepanjang malam itu kita tidur lalu Shalat Tahajud. Apakah Tahajudnya sah?

Ibnu Rajab dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan tentang shalat malam mengatakan bahwa termasuk dalam pengertian Qiyamul Lail adalah orang yang tidur lalu bangun pada keheningan malam untuk mengerjakan shalat malam, begitu juga dengan Imam Ath Thabari dalam kitab tafsirnya mengutip riwayat Al Hajjaj bin Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata “Ada yang mengira bahwa jika seorang berjaga pada waktu malam dan melakukan shalat sunnah sampai waktu shubuh, ia telah mengerjakan Tahajud, padahal Tahajud adalah mengerjakan shalat malam setelah tidur.” Artinya walaupun tidak mengatakan tidak boleh mengerjakan shalat malam sebelum tidur, ulama-ulama itu berpendapat bahwa shalat malam setelah tidur adalah lebih baik.

Namun demikian, ulama kontemporer mengatakan jika seseorang tidak terbiasa bangun sebelum adzan shubuh, ia boleh melakukan shalat malam sebelum tidur. Bukan hanya boleh, bahkan ulama kontemporer mengatakan hal itu lebih baik daripada tidak mengerjakan shalat malam sama sekali. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu untuk melakukan shalat witir sebelum tidur.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,
“Teman karibku (maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) berpesan kepadaku untuk melakukan tiga hal: berpuasa tiga hari pada pertengahan bulan, melakukan Shalat Dhuha dua rakaat, dan melakukan Shalat Witir sebelum aku tidur.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Dengan kata lain, jika kita terpaksa sulit bangun malam untuk melakukan Shalat Tahajud, kita boleh melakukannya setelah Shalat Isya atau sebelum kita tidur, shalat malam itu pun sebaiknya kita tutup dengan Shalat Witir tetapi jika kita ternyata bisa bangun sebelum adzan shubuh padahal kita sudah melakukan Shalat Tahajud sebelum tidur sementara masih ada kesempatan untuk melakukan Shalat Tahajud, kita boleh melakukan Shalat Tahajud lagi.

Akan tetapi, jika sebelum tidur kita sudah shalat witir maka tidak perlu melakukan Shalat Witir lagi sebab dalam sebuah haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. At Tirmidzi dan An Nasa’i)