Berpura-Pura Menjadi Orang Munafik

Berpura-pura baik padahal hatinya benci hanya untuk menghancurkan orang lain. Berpura-pura shalih padahal hatinya jahat. Kepura-puraan itu dimaksudkan untuk menjatuhkan lawannya dan masih banyak perilaku seperti ini yang banyak kita temui di masyarakat sekitar kita. Inilah praktek kemunafikan yang sangat dibenci Allah subhanahu wa ta’ala.

Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengancam orang-orang munafik dengan ancaman azab yang pedih.
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisaa’: 145)
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, Sufyan Ats Tsauri meriwayatkan dari Asim dari Zakwan Abu Salih dari Abu Hurairah sehubungan dengan makna firman-Nya “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” yaitu di dalam peti-peti yang dikocok-kocok sedangkan mereka berada di dalamnya.

Dalam ayat lain, Allah juga mengancam orang-orang munafik dengan ancaman yang mengerikan.
“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS. At Taubah: 68)
Lalu mengapa orang-orang munafik itu mendapat ancaman azab sangat berat dan mengerikan dari Allah subhanahu wa ta’ala?

Syaikh Nawawi Al Bantani dalam tafsirnya menjelaskan kenapa orang munafik mendapatkan ancaman dan balasan yang sangat berat, karena kemunafikan adalah sehina-hinanya kekufuran. Karena perilaku munafik merupakan gabungan sifat kufur dengan mengolok-olok Islam dan umat Islam dan juga menipu mereka karena saat mereka berpura-pura jadi muslim mereka dapat mengetahui rahasia umat Islam kemudian memberitahukan rahasia tersebut kepada orang kafir. Oleh sebabnya, ancaman dari Allah kepada mereka berlipatganda bahkan lebih parah dan keras ketimbang azabnya orang kafir.

Masalahnya, praktek kemunafikan itu di masyarakat sangatlah luas dan bermacam-macam. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari ada saja orang yang berpura-pura baik di hadapan orang lain atau temannya padahal dia tidak suka dan benci. Apakah yang demikian ini juga termasuk perbuatan munafik karena fenomena ini banyak dirasakan orang? Lalu bagaimana jika berpura-pura itu hanya untuk menjaga perasaan dalam pergaulan saja? Apakah tetap disebut munafik?

Jika berpura-pura hanya untuk menjaga perasaan dalam pergaulan saja itu tidaklah masalah dan boleh dilakukan dengan alasan ingin menunjukkan akhlak yang Islami saat sedang berhadapan dengan orang yang akhlaknya buruk. Namun tetap dengan syarat, saat dia berpura-pura, didalam hatinya harus tidak setuju dengan akhlak buruknya tapi jika maksudnya dengan niat yang jahat untuk suatu kemaksiatan dan melanggar syariat Islam itulah yang terlarang.

Dalam kitab Al Adab Asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih Al Hanbali bertanya kepada Ibnu ‘Aqil, Saya mendengar firman Allah:
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)
Saya juga mendengar ada orang yang senantiasa bersikap apa yang nampak berbeda dengan apa yang disembunyikan dalam hatinya. Lalu bagaimana caranya aku tetap taat kepada Allah namun dapat terjauh dari kemunafikan?” Ibnu ‘Aqil menjawab “Kemunafikan adalah menunjukkan yang bagus tapi menyembunyikan yang jelek. Menutup-nutupi kejelekan dan menampakkan kebaikan dengan tujuan yang jelek.” Adapun yang dimaksudkan Al Qur’an surah Fushshilat ayat 34 adalah menunjukkan kebaikan dalam menyikapi yang jelek dengan tujuan yang baik.

Sikap semacam ini terkadang dipakai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendakwahi sebagian orang yang jahat dan berperangai buruk dengan tujuan berlindung dari kejahatannya. Imam Al Bukhari mencatat dalam shahihnya hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari A’isyah radhiyallahu ‘anha,
Saat itu ada seseorang meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika melihatnya, beliau mengomentari bahwa orang tersebut adalah sejelek-jelek saudara sekaum, se-kabilah, dan seburuk-buruk putra kaum kabilah. Namun ketika orang tersebut duduk, Nabi menampakkan wajah yang ceria kepadanya dan bergembira menyambutnya. Setelah orang tersebut pergi, A’isyah radhiyallahu ‘anha berkata “Wahai Rasulullah, ketika melihat orang tersebut engkau mengatakannya begini dan begitu tapi engkau menampakkan keceriaan kepadanya dan bergembira saat menyambutnya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Wahai A’isyah, kapan engkau mengenalku sebagai seorang yang banyak berbuat Al Fahsy (keji). Sesungguhnya seburuk-buruknya kedudukan manusia di sisi Allah di hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia karena berlindung dari keburukan ucapannya.”
Al Iyadh, Al Qurthubi, dan An Nawawi menjelaskan orang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dijuluki Al Ahmaq Al Mutha (orang dungu yang ditaati). Kedatangannya memang diharapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dilunakkan hatinya agar kaumnya terbebas dari kejahatannya. Orang ini adalah pemimpin kaumnya.

Begitu bijaksana sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbasa basi, melunakkan ucapan, berwajah ceria, dan menampakkan kegembiraan demi melindungi masyarakat dari keburukan orang lain. Jadi, berpura-pura baik di hadapan orang yang buruk dan jahat, boleh dilakukan agar orang jahat itu tidak membahayakan masyarakat.