Belajar Mengaji Kepada Guru Lawan Jenis Yang Bukan Mahram

Dalam keluarga, kepemimpinan memang dibebankan Allah ke atas pundak para suami. Kepemimpinan ini menyangkut hampir segala aspek, termasuk bertanggung jawab untuk mendidik dan mencerdaskan anggota keluarga dalam urusan agama. Akan tetapi terkadang kemampuan agama seorang suami ada yang lebih rendah dari sang istri, misalnya istri sudah lancar membaca Al Qur’an sedangkan suami masih terbata-bata.

Dalam kondisi demikian, apakah istri bertanggung jawab terhadap kemampuan suami dalam mengaji? Apakah seorang istri berkewajiban mengajari suaminya atau sang suami perlu belajar kepada orang lain?

Seorang istri mempunyai kewajiban berdakwah, orang yang paling utama didakwahi adalah anggota keluarganya termasuk suaminya sendiri karena tugas seorang istri membantu kehidupan beragama suaminya bila suami kurang pengetahuan Islamnya sedangkan istri banyak tahu maka ia wajib mengajari suaminya tentunya dengan bicara yang baik dan halus.

Tidak ada larangan wanita mengajar seorang pria apalagi suami sendiri bahkan A’isyah radhiyallahu ‘anha menjadi rujukan para sahabat dalam banyak masalah agama yang tidak mereka ketahui. Imam Dzahabi menyebutkan A’isyah radhiyallahu ‘anha sebagai wanita yang paling fakih mengerti agama sehingga disebutkan tidak kurang dari 160 sahabat laki-laki mengaji pada A’isyah radhiyallahu ‘anha. Sebagian ahli hadits bahkan menyebutkan murid-murid A’isyah radhiyallahu ‘anha mencapai 299 orang, 67 perempuan dan 232 lalki-laki.

Anak perempuan ulama generasi tabi’in Said bin Musayyib tercatat juga menjadi guru bagi suaminya. Said menikahkan putrinya dengan salah satu muridnya yang dikenal dengan Abu Wada’ah. Ia menikahkan mereka dengan mahar beberapa dirham saja padahal sebelumnya putrinya telah dilamar oleh Al Walid yang merupakan putra dari khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Putri Said adalah seorang yang terpelajar, ia paham Kitabullah, mengerti banyak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga di suatu hari setelah mereka menikah suaminya Abu Wada’ah telah bersiap-siap untuk pergi ke majelis ilmu Said yang telah menjadi mertuanya. Istrinya kemudian mencegahnya dan mengatakan “Tidak perlu engkau pergi, aku akan mengajarkanmu semua ilmu ayahku.”

Dalam kodisi tidak memiliki ilmu agama yang cukup, seorang suami tidak perlu merasa minder atau malu belajar pada  istrinya seperti yang dilakukan Abu Wada’ah, justru harusnya disyukuri karena Allah telah memberikan karunia istri yang paham urusan agama sementara diluaran sana banyak para suami yang kesulitan membimbing istrinya dalam urusan agama.

A’isyah radhiyallahu ‘anha pernah menegur sahabat Abu Musa Al Asy’ari karena ia merasa malu untuk bertanya sesuatu kepada A’isyah sekalipun pertanyaan agama yang bersifat pribadi. Di lain waktu, A’isyah memuji perempuan Anshar penduduk Madinah, ia mengatakan sebaik-baik perempuan adalah perempuan Anshar penduduk Madinah, mereka tidak malu untuk belajar dalam rangka memahami agama.

Para istri yang memang memiliki kelebihan ilmu agama dibanding suaminya bukanlah sebuah alasan untuk merendahkan atau meremehkan suami. Kekurangan suami dalam ilmu agama tidak mengurangi haknya untuk dihormati dan ditaati oleh seorang istri. Lalu bagaimana jika seorang laki-laki belajar agama pada wanita yang bukan mahramnya, demikian pula seorang wanita belajar agama pada laki-laki yang bukan mahramnya?

Seorang laki-laki maupun perempuan belajar agama atau mengaji dengan guru lawan jenis memang menjadi persoalan tersendiri. Menurut lembaga fatwa Mesir boleh saja seorang perempuan belajar dari guru laki-laki atau seorang lelaki belajar dari guru perempuan.

Hukum yang berlaku di kalangan muslimin sejak dahulu hingga sekarang adalah bahwa keberadaan laki-laki dan perempuan dalam satu tempat tidaklah diharamkan karena alasan keberadaan itu sendiri, tetapi yang membuat perbuatan tersebut diharamkan adalah terjadinya kondisi yang bertentangan dengan ajaran agama yang melingkupi perbuatan itu seperti misalnya jika perempuannya menampakkan aurat atau pertemuan itu bertujuan untuk kemungkaran atau mereka berdua dalam keadaan khalwat.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Sahal bin Sa’ad As Sa’idi ia berkata,
Ketika Abu Usaid As Saidi melakukan resepsi pernikahan, dia mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Tidak ada yang membuatkan dan menghidangkan makanan untuk mereka kecuali istrinya Ummu Usaid. (HR. Bukhari )
Imam Bukhari membuat judul untuk hadits ini dengan Bab Perempuan Melayani Kaum Lelaki Dalam Acara Resepsi Pernikahan Secara Langsung. Menjelaskan hadits ini, Imam Qurthubijuga mengatakan dalam kitab tafsirnya, para ulama kami dari madzhab Maliki berkata,
“Hadits ini menunjukkan kebolehan seorang istri melayani suami dan para undangan dalam acara resepsi pernikahannya.”
Dalam Syarah Al Bukhari, Ibnu Baththal menjelaskan hadits ini menunjukkan bahwa kain pembatas yang memisahkan lelaki dengan perempuan dalam berinteraksi langsung adalah tidak wajib bagi para wanita mukmin. Hal itu hanya khusus bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an yang artinya:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir.” (QS. Al Ahzab: 53)
Mengomentari hadits ini Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadits ini mengandung penjelasan kebolehan seorang perempuan melayani suaminya dan tamu undangannya tentu saja kebolehan itu tidak dikhawatirkan akan terjadi fitnah dan perempuan tersebut selalu menjaga auratnya dalam keadaan tertutup.
Pada suatu hari, Salman Al Farisi berkunjung ke rumah Abu Darda. Ia bertemu dengan istri Abu Darda yang ketika itu memakai pakaian yang lusuh. Salman lalu bertanya kepadanya “Apa yang terjadi denganmu?” Ia menjawab “Saudaramu Abu Darda tidak lagi menyukai dunia.” Sebentar kemudian Abu Darda muncul dan membuatkan Salman makanan dan seterusnya.
Mengomentari hadits ini Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan salah satu faedah hadits ini adalah kebolehan berbicara dan bertanya kepada wanita yang bukan mahram tentang sesuatu yang mendatangkan maslahat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri punya majelis ilmu yang beliau khususkan untuk para wanita.
Suatu hari datang seorang wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata “Wahai Rasulullah, orang-orang lelaki pergi mendengarkan pelajaranmu maka buatlah satu hari dimana kami dapat mendatangimu mengajarkan kepada kami apa yang Allah ajarkan kepadamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Berkumpullah pada suatu hari tertentu!” maka Rasulullah pun bertemu dengan wanita-wanita sahabat dan mengajarkan mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)
Wallahu a’lam.