Batasan Pornografi Menurut Syariat Agama Islam

Pornografi masih menjadi persoalan bagi masyarakat di tanah air. Beredarnya gambar-gambar di dunia maya semakin membuat gambar-gambar berbau seronok mudah didapat. Masalahnya, peredaran gambar-gambar yang dianggap sebagian orang seronok itu dianggap biasa bagi sebagian yang lain. Lalu bagaimana dengan syariat agama mengatur batasan pornografi?

Pornografi adalah pengumbaran aurat wanita serta eksploitasi daya tarik seksualnya, hukumnya haram 100% tanpa ada perbedaan secuil pun di kalangan ulama. Bahkan dalam kacamata syariah, jangankan pornografi, sekedar membuka bagian tubuh yang wajar terlihat seperti rambut, lengan, kaki bagian bawah, atau leher sudah haram hukumnya, apalagi sampai memperlihatkan dada, paha, serta aurat besar lainnya.

Yang perlu dicatat adalah tidak pernah ada kesepakatan di muka bumi tentang standar batasan pornografi. Kalaupun ada sifatnya sangat subjektif dan kapanpun bisa diubah-ubah seenak selera masing-masing. Buat masyarakat timur umumnya mungkin sekedar terlihat rambut, leher, lengan, dan kaki dianggap wajar dan bukan pornografi tapi buat masyarakat barat umumnya terlihat belahan dada, paha, dan wilayah lainnya pun belum lagi dianggap pornografi. Bahkan buat kalangan tertentu seperti seniman tak bermoral, tak berbusana pun tidak dianggapnya pornografi melainkan sebuah ekspresi seni.

Maka jika urusan aurat wanita diserahkan kepada rasa dan karsa manusia, jangan harap ada kesepakatan dan standarisasinya. Kalaulah Pemerintah Republik Indonesia membuat sebuah departemen khusus yang menangani masalah pornografi misalnya bernama Departemen Pornografi lalu departemen itu membuat batasan pornografi, pastilah batasan itu akan terus berubah setiap kali ganti menteri. Kalaulah DPR/MPR kita membentuk sebuah komisi khusus misalnya Komisi Pornografi sama saja, pastilah batasan itu akan terus menerus menjadi perdebatan bahkan setiap kali akan terus direvisi.

Itu sebabnya dalam Islam, batasan wanita itu bukan urusan manusia melainkan urusan Allah subhanahu wa ta’ala. Ada wilayah dalam kehidupan ini yang memang Allah subhanahu wa ta’ala serahkan kepada manusia dalam menentukannya, namun ada wilayah pokok yang menjadi hak Allah subhanahu wa ta’ala sepenuhnya dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Salah satunya adalah masalah batasan aurat wanita.

Allah telah mengharamkan para wanita terlihat atau memperlihatkan tubuhnya kecuali hanya sebatas wajah dan tapak tangan. Itulah batasan pornografi dalam syariat agama.
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya” (QS. An Nuur: 31)
Kalau kita konsekuen dengan Al Qur’an dan As Sunnah, gambar wanita yang terlihat rambutnya termasuk kategori gambar tidak senonoh karena rambut itu aurat dan aurat itu wajib ditutup, sedangkan berpakaian yang tidak menutup aurat itu dosa besar.

Demikian juga dengan gambar wanita yang terlihat tangan atau lengannya atau betis bagian bawah atau leher atau tapak kakinya juga termasuk kedalam kategori gambar tidak senonoh karena semua itu adalah aurat wanita. Namun, kalaupun harus berkompromi dengan mereka yang menentang penetapan batas tentang pornografi itu paling tidak kita harus menyatakan bahwa diluar masalah itu ada sebuah perbuatan terlarang lainnya yaitu membuka aurat.