Apakah Panjang Umur Itu Berkah Atau Musibah?

Dalam berbagai kesempatan kita sering mengucapkan ulang tahun seorang sahabat atau keluarga dengan mendoakan agar panjang umur. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang tersiksa karena panjang umurnya, apalagi jika sudah mengalami kepikunan. Sebenarnya panjang umur ini berkah atau musibah?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Manusia paling baik adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, sedangkan manusia yang paling buruk adalah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Jadi, usia lanjut itu bisa berkah, bisa musibah. Akan menjadi berkah bagi orang yang waspada, hati-hati, dan mawas diri dalam aktivitas pengabdiannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kalaupun tidak mampu meningkatkan amal kebajikan setidak-tidaknya tetap mempertahankan amal kebajikan yang telah dibiasakannya pada usia-usia sebelumnya.

Sebaliknya, panjang umur akan menjadi petaka bagi orang yang sudah berusia lanjut tetapi justru tua-tua keladi, makin tua dosanya makin menjadi-jadi.

Qatadah seorang tokoh generasi tabi’in berkata,
“Bila seseorang mencapai usia 40, maka hendaknya berhati-hati dalam menghambakan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”
Bahkan sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu dalam suatu riwayat berkata,
“Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak unggul mengalahkan amal keburukannya maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”
Nasihat yang diungkap oleh dua tokoh besar tersebut memberikan pengertian bahwa manusia harus mulai bersikap waspada, hati-hati dan mawas diri di dalam aktivitas pengabdiannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala manakala usianya sudah berada di ambang ketuaan.

Lalu manakah yang lebih baik, orang yang berumur panjang dengan beramal shalih, dengan orang yang berumur pendek tapi mati syahid?

Umur adalah aset yang sangat penting dan harus dipertanggungjawabkan demi menentukan keberuntungan dan kerugian kita di akhirat kelak. Rasulullah begitu mengkhawatirkan umatnya sehingga di akhir ajalnya beliau berpesan “ummati, ummati, ummati, Umatku, umatku, umatku.” Karena takut jika umur mereka lebih banyak digunakan untuk kemaksiatan daripada memperbaiki diri.

Jika kita mampu memanfaatkan sisa umur dan mensyukuri umur panjang, akan mendapatkan kelebihan dan keistimewaan jauh daripada yang berumur pendek. Berkat umur panjang yang dimanfaatkan dengan amal shalih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai mengabarkan bahwa seseorang yang mati di atas ranjangnya akan mendapatkan kemuliaan melebihi orang yang mati syahid yang meninggal lebih dahulu.

Hal ini terjadi pada dua orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari suku Bali yang masuk Islamnya bersamaan. Yang satu amalannya lebih baik dari yang satunya lagi bahkan dia mati syahid. Sementara orang yang satunya amalannya biasa saja dan dia mati di atas ranjangnya setahun kemudian. Akan tetapi yang mengagetkan adalah orang yang amal ibadahnya biasa saja dan mati di atas ranjang justru lebih dahulu masuk surga daripada yang mati syahid, padahal mati syahid adalah salah satu kematian yang paling mulia.

Sahabat Nabi bernama Thalhah juga heran dengan hal ini, bagaimana mungkin orang yang mati di atas ranjangnya justru lebih dulu masuk surga daripada orang yang mati syahid?
Melihat keheranan Thalhah, para sahabat lain juga heran sehingga mereka mendatangi Nabi lalu bertanya tentang masalah ini. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Dari sisi mana kamu heran?” Para sahabat menjawab “Wahai Rasulullah, orang yang satu ini lebih giat dari yang lain lalu dia juga mati syahid. Tetapi orang yang terakhir mati itu masuk surga lebih dahulu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Bukankah dia orang yang terakhir mati itu masih hidup setahun setelahnya?” Mereka menjawab “Iya.” Beliau bersabda lagi “Dan bukankah dia telah menemui bulan Ramadhan lalu berpuasa Ramadhan dan dia telah melakukan shalat sekian banyak sujud di dalam setahun?” Mereka menjawab “Iya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Jarak antara keduanya lebih jauh dari antara langit dan bumi.” (HR. Ibnu Majah)
Lihatlah! Selisih satu tahun saja bisa mengubah nasib seseorang di akhirat kelak, oleh karena itulah sejak dini sebelum ajal menjemput hendaknya siapapun kita mengisi sisa umur dengan amal shalih, apalagi jika telah menginjak usia 40 tahun.