Apa Untungnya Kita Mendoakan Orang Lain?

Seorang muslim tidak boleh egois, hidup sendiri tanpa mempedulikan nasib orang lain. Sebaliknya, dia harus menolong, membantu, dan meringankan beban saudara-saudaranya sesama muslim.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegaskan bahwa seseorang tidak akan beriman secara sempurna jika melewati satu malam dalam keadaan kenyang, sementara perut tetangganya melilit karena menahan lapar. Di sisi lain, beliau juga pernah bersabda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan selalu menolong hambanya selama hambanya menolong sesamanya.

Ketika berdoa pun, seorang muslim tidak boleh egois hanya berdoa untuk dirinya sendiri dan mengabaikan orang lain tetapi harus mendoakan saudaranya yang seiman selain berdoa untuk dirinya sendiri.

Kenyataannya, mendoakan sesama muslim memang merupakan salah satu sunnah hasanah yang telah diamalkan secara turun temurun oleh para nabi dan juga orang-orang shalih yang mengikuti mereka. Nabi Ibrahim ‘alaihi salam dulu pernah berdoa,
“Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim: 41)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diperintah untuk memohon ampunan bagi dirinya sendiri dan bagi segenap kaum beriman baik laki-laki maupun perempuan. Allah berfirman:
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)
Lalu apa untungnya mendoakan orang lain bagi kita?

Abdullah bin Safwan pernah bercerita dengan mengatakan,
Aku pernah pergi ke Syam untuk mengunjungi Abu Darda radhiyallahu ‘anhu di rumahnya, tetapi dia tidak ada di rumah yang ada hanya istrinya Ummu Darda radhiyallahu ‘anha. Lalu dia pun berkata “Apakah tahun ini kau akan pergi haji?” “Ya.” Jawabku. Dia berkata “Doakan kami dengan kebaikan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang mustajab. Di sisi kepalanya akan ada seorang malaikat yang diutus secara khusus kepadanya. Setiap kali dia mendoakan saudaranya agar memperoleh kebaikan maka malaikat tersebut berkata “Aamiin” dan engkaupun akan mendapat yang semisal itu”.” Abdullah berkata “Lalu aku pergi ke pasar dan bertemu dengan Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, lalu dia mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkan oleh istrinya yang diriwayatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)
Demikianlah baik yang didoakan maupun yang mendoakan akan didoakan oleh para malaikat. Mereka yang didoakan oleh saudaranya tanpa sepengetahuannya akan didoakan oleh malaikat dengan ucapan “Aamiin” yang maknanya adalah “Ya Allah, kabulkanlah doa yang dipanjatkan untuk saudaranya.” Sedangkan orang yang mendoakan akan didoakan oleh malaikat dengan berkata “Dan engkaupun mendapatkan yang semisal.”

Sungguh sangat beruntung orang yang mendoakan orang lain karena selain mendapatkan pahala mendoakan orang lain, dia sendiri akan didoakan malaikat, dan mendapatkan hasil yang sama dengan orang yang kita doakan. Bahkan dengan mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang kita doakan maka doa semakin makbul. Bukankah ini sebuah keberuntungan yang berlipat?

Sehubungan dengan ini, Imam Ibnu Hibban dalam kitab kumpulan hadits shahihnya membuat sebuah Bab khusus dengan judul “Anjuran untuk memperbanyak berdoa untuk saudara sesama muslim tanpa sepengetahuan orang yang didoakan dengan harapan permohonan untuk keduanya dikabulkan.”

Di dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi juga berkata,
“Seandainya seseorang berdoa untuk satu kelompok umat Islam, maka ia akan mendapatkan pahala yang ditetapkan dan seandainya ia berdoa untuk seluruh kaum muslimin maka yang aku pahami, ia pun mendapatkan pahala yang telah ditentukan.”
Dalam perjalanan sejarah Islam, tuntunan ini selalu dipegang oleh kaum muslim dari masa ke masa, banyak riwayat yang menyatakan hal itu misalnya Qadhi Iyadh pernah berkata,
“Jika kaum salaf hendak berdoa untuk dirinya sendiri maka mereka juga akan mendoakan saudaranya sesama muslim dengan doa tersebut karena doa tersebut adalah doa yang mustajab dan dia pun akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh saudaranya sesama muslim itu.”
Al Hafidz Adz Dzahabi menyebutkan kisah dari Ummu Darda radhiyallahu ‘anha bahwa suaminya Abu Darda radhiyallahu ‘anhu memiliki 360 orang yang dicintainya karena Allah yang selalu didoakannya dalam shalat. Lalu Ummu Darda mempertanyakan hal itu dan dia pun menjawab,
“Apakah aku tidak boleh menyukai jika para malaikat mendoakanku?”
Imam Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali juga pernah berkata,
“Saya terus mendoakan Imam Syafi’I dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Dalam doa itu saya mengatakan “Ya Allah, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i”.”
Tidak disebutkan doa ini disisipkan pada bagian mana dari shalat itu.