Adab Pemberi Pinjaman Hutang Menurut Syariat Agama Islam

Imam Ahmad meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pada hari kiamat,
Ada seseorang didatangkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala lalu Allah berkata “Lihatlah amalannya!” Kemudian orang itu berkata “Wahai Rabb-ku, aku tidak memiliki amalan kebaikan selain satu amalan, dulu aku memiliki harta lalu aku sering meminjamkannya pada orang-orang. Setiap orang yang sebenarnya mampu untuk melunasinya, aku beri kemudahan. Begitu pula setiap orang yang berada dalam kesulitan, aku selalu memberinya tenggang waktu sampai dia mampu melunasinya.” Lantas Allah pun berkata “Aku lebih berhak memberi kemudahan.” Orang ini pun akhirnya diampuni. (HR. Ahmad)

Imam Bukhari juga menyebutkan hadits yang mirip dengan hadits ini bahwa Hudzaifah menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaiihi wa sallam bersabda:
“Beberapa malaikat menjumpai ruh orang sebelum kalian untuk mencabut nyawanya, kemudian malaikat-malaikat itu mengatakan “Apakah kamu memiliki sedikit dari amal kebajikan?” orang itu menjawab “Dulu aku pernah memerintahkan pada budakku untuk memberikan tenggang waktu dan membebaskan hutang bagi orang yang berada dalam kemudahan untuk melunasinya” Lantas Allah pun memberi ampunan padanya.” (HR. Bukhari)
Hadits-hadits yang dinilai shahih oleh ulama ini memberikan penegasan pada kita betapa orang yang memberi hutang lalu meringankan orang berhutang dalam membayar maka Allah memberi jaminan ampunan baginya.

Sungguh kemuliaan dan kehormatan luar biasa bagi orang yang memberi hutang dan meringankan beban orang lain. Akan tetapi dalam prakteknya, memberi pinjaman uang kepada orang lain tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena pada dasarnya manusia itu memang memiliki syahwat kecintaan pada harta sehingga untuk memberikan pinjaman hutang kepada orang lain, ada saja rasa khawatir dalam benak orang yang punya harta terhadap orang yang akan meminjam. Bisakah dia membayar? Bisakah dia mengembalikan tepat waktu?

Itu sebabnya tak sedikit orang yang ragu memberi pinjaman, bahkan banyak yang enggan memberikan pinjaman sekalipun memang dia sedang punya uang. Dalam keraguan semacam ini sebenarnya bolehkah seseorang menolak untuk memberikan hutang kepada orang lain yang membutuhkan, sekalipun dia memang sedang punya uang?

Sebenarnya boleh saja seseorang tidak memberikan pinjaman kepada orang lain, tak ada larangannya dalam syariat agama. Bahkan menolak memberi pinjaman itu hak kita, ketika tahu pinjaman tersebut akan digunakan untuk sesuatu yang tidak baik atau maksiat. Akan tetapi tentu saja haruslah tetap dengan cara yang baik tanpa melukai orang yang ingin meminjam uang tersebut karena tidak menyakiti orang lain telah jauh-jauh hari dipesankan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kita.
“Setiap muslim itu saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak akan menzaliminya, menghinakannya, dan tidak pula meremehkannya. Keburukan seseorang itu diukur dari sejauh mana dia meremehkan saudaranya.” (HR. Muslim)
Meski menolak memberi pinjaman pada orang yang membutuhkan itu menjadi hak orang yang punya harta bukan berarti seorang mukmin semena-mena bisa menolak siapapun yang meminjam uang kepadanya karena penolakan itu dilakukan dengan cara kurang tepat sehingga membuat tersinggung orang yang ingin meminjam justru bisa menimbulkan dosa.

Permasalahannya bukan terletak pada boleh atau tidak bolehnya menolak memberi pinjaman tetapi dengan menolak memberi pinjaman pada orang lain kita akan melewatkan pahala luar biasa yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa meringankan kesusahan, kesedihan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutup aib seseorang, Allah pun akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan dalam sabdanya:
“Barangsiapa memberi pinjaman berupa unta untuk diambil air susunya , atau uang, atau memberikan tanahnya untuk dijadikan jalan umum, baginya sama dengan pahala memerdekakan budak.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban)
Imam Ibnu Majah dan Ibnu Hibban juga mencatat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Seorang muslim yang memberi pinjaman kepada saudaranya sesama muslim satu kali bagaikan menyedekahkannya dua kali.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Sungguh beruntung sekali seseorang yang memberikan kemudahan bagi saudaranya yang tengah dalam kesulitan. Dengan izin Allah, orang seperti ini akan mendapatkan kemudahan di hari yang penuh kesulitan yaitu hari kiamat hingga mendapat pahala yang berlipat ganda.

Jika kita dengan tulus ikhlas memberikan pinjaman kepada sesama maka akan muncul masalah kedua. Jika sudah saatnya waktu pembayaran tiba ternyata orang yang punya hutang itu tidak kunjung membayarnya, bahkan terkesan sering menghindar untuk membayar. Ini sangat jamak terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kondisi demikian, bolehkah kita menagihnya terus menerus agar si penghutang tidak lalai membayar hutangnya?

Menagih hutang, sebenarnya adalah hak bagi orang yang memberi pinjaman maka boleh saja seseorang menagih hutang pada orang yang belum membayarnya. Akan tetapi jika menagih itu dilakukan secara terus menerus justru hal ini dapat menimbulkan dampak buruk dan boleh jadi bukan pahala yang diraih, tapi justru terjebak dalam dosa.

Itu sebabnya, agar orang yang memberi hutang tetap mendapatkan ganjaran besar dari amalan membantu orang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar kita memberi keringanan kepada orang yang berhutang. Tidak perlu mengintimidasi, apalagi sampai berujung kepada pertengkaran karena dalam menagih hutang ini kita telah memasuki amalan berpahala luar biasa.

Jabir bin Abdillah menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih haknya (hutangnya).” (HR. Bukhari)
Menjelaskan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Fathul Bari menegaskan bahwa hadits ini menganjurkan untuk memberi kelapangan dalam setiap mu’amalah dan anjuran untuk memberikan kelapangan ketika meminta hak dengan cara yang baik.

Lalu bagaimana jika orang yang punya hutang itu benar-benar susah untuk membayar hutangnya. Apa yang harus dilakukan pemberi hutang?

Bagi pemberi hutang dianjurkan untuk memberi penangguhan waktu bagi orang yang berhutang untuk melunasi hutangnya. Sikap ini akan mendapatkan balasan luar biasa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan hutangnya maka dia akan mendapat naungan Allah.” (HR. Muslim)
Itulah keuntungan yang sangat banyak bagi orang yang memberikan kemudahan kepada orang lain dalam masalah hutang.

Lalu bagaimana jika sudah diberi tempo waktu dan dilonggarkan waktu pembayaran dengan cara yang baik dan santun tapi masih saja orang yang punya hutang tidak kunjung membayar hutangnya? Bolehkah kita mengambil sebagian barangnya sebagai jaminan hingga hutangnya dibayar lunas?

Praktek meminta jaminan sebenarnya dibenarkan dalam syariat agama yang dikenal dengan sebutan Ar Rahn atau Agunan yaitu harta yang dijadikan jaminan hutang jika dia gagal melunasinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al Baqarah: 283)
Seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan,
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengagunkan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, sementara beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga beliau.” (HR. Bukhari)
Akan tetapi sekalipun ini dibenarkan dalam syariat agama, cara yang baik dan santun harus tetap dikedepankan. Inilah yang dipesankan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Siapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah ia meminta dengan cara yang baik-baik pada orang yang mau menunaikan atau pun enggan menunaikannya.” (HR. Ibnu Majah)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda untuk orang yang memiliki hak pada orang lain:
“Ambillah hakmu dengan cara yang baik pada orang yang mau menunaikannya atau pun enggan menunaikannya.” (HR. Ibnu Majah)
Itu sebabnya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280)