Peluang Usaha Mencari Tutut

Matahari belum tinggi, namun sebagian besar warga Kampung Ciputri, Desa Mande – Cianjur sudah bergegas mencari peruntungan di Waduk Cirata. Waduk Cirata terletak di antara tiga kabupaten, yakni Kabupaten Bandung, Purwakarta, serta Cianjur dengan luas kurang lebih 43 hektar.

Sejak dibangun pada tahun 1984, sebagian besar masyarakat yang mengalami relokasi akibat pembangunan waduk, menggantungkan hidupnya di waduk ini. Sejumlah warga bukan mencari ikan, namun mencari tutut.

Tutut merupakan hewan sejenis keong yang bercangkang dan hidup di perairan dangkal dengan aliran air yang lambat, seperti sawah, danau, atau waduk. Tutut diyakini memiliki nilai gizi yang tinggi serta ekonomis. Tidak heran jika saat ini masyarakat mulai melirik tutut sebagai makanan pokok atau pengganti camilan. Karenanya permintaan akan tutut bertambah setiap harinya. Tentu saja ini menguntungkan bagi para pencari tutut, khususnya di waduk Cirata.

Pencarian tutut dapat dilakukan dengan dua cara, yakni melempar alat tangkap khusus untuk tutut yang berada di air yang dalam, serta berenang untuk tutut yang berada di air dangkal. Ini dilakukan warga mulai jam 6 pagi hingga jam 3 sore dengan cara berkelompok untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi.

Matahari sudah tinggi, saatnya bagi para pencari tutut untuk beristirahat di sekitar Waduk Cirata. Banyaknya pencari tutut di Waduk Cirata, tentu saja berimbas pada perekonomian warga sekitar dengan memanfaatkan lokasi ini sebagai tempat mereka mengais rezeki.

Karena selain fungsinya sebagai PLTA, Waduk Cirata kian hari kian ramai dikunjungi wisatawan untuk berlibur. Inilah yang membuat warga sekitar mencari peruntungan di Waduk Cirata. Tidak hanya mencari tutut, tapi juga membangun warung-warung apung di Waduk Cirata ini.